Oculus (2014) : Pointless Illusion of Standing Between Two Mirrors, but The Mystery Keeps Us Hungry

Director : Mike Flanagan 

Writer : Mike FlanaganJeff Howard

Cast :  Karen GillanBrenton ThwaitesAnnalise BassoGarrett Ryan

(REVIEW) Satu hal yang selalu membuat excited adalah horor dengan rating yang cukup baik. Yep, genre ini memang sudah lelah, dan jika ada satu yang menonjol pasti langsung menarik perhatian. 2012, kita mendapatkan super jenius – The Cabin In The Wood. 2013, kita mendapatkan back to effective – The Conjuring dan sekuel gagal Insidious Chapter 2, dan tahun ini, Oculus memberikan angin segar setelah mendapatkan tanggapan menyenangkan di Toronto tahun lalu. Oculus menarik karena menggabungkan pendekatan experimental, old fashioned horror plus sisi psikologi para karakternya.

It’s about a mirror plus tagline “You see what it wants you to see”, instinct pertama sebelum melihat film ini adalah Oculus akan sangat manipulatif menakut-nakuti penonton. Mungkin beberapa adegan karakter membuka pintu dengan gerakan sangat lambat, and BANG ! Bloody precious jump scare, dan ternyata mimpi. Jawabannya, Oculus memang bermain manipulatif namun dalam hal mengemas jalan cerita yang sebenarnya tidak terlalu groundbreaking (walau awal premise-nya begitu menarik).

Dua anak kecil, berlari-larian di dalam sebuah rumah dan penampakan hantu wanita dengan mata putih menakuti mereka (wow, it’s that face, they intend to haunt us). Ternyata, hantu itu bukanlah ketakutan satu-satunya untuk mereka, seseorang juga mengacungkan pistol di salah satu kepala anak kecil tersebut.

Beberapa tahun kemudian, Tim (Brenton Thwaites) – si anak laki-laki yang kini berusia 20-an tahun, siap dilepaskan dari institusi kejiwaan. Kedatangannya sangat dinantikan oleh Kaylie (Karen Gillan) – kakak perempuannya, yang siap membuktikan bahwa ada sesuatu yang aneh dalam sebuah cermin – sesuatu yang ia anggap telah merenggut kedua orang tuanya dan membuat Tim kehilangan masa remajanya. Jika ada karakter yang langsung menarik perhatian, dia adalah Kaylie. She’s fearless redhead, brave believer, and fully prepared. Karakter ini masih sangat langka untuk genre horror yang kerap dipenuhi karakter-karakter skeptis.

Kejadian masa lalu mengerikan itu menjadi sesuatu yang personal untuk Kaylie. Ia menyiapkan semua peralatan ; kamera, alat penghancur cermin, bahan makanan dan research masa lalu si cermin untuk menangkap fenomena supernatural dari cermin tersebut. Oh it’s gonna be the next paranormal activity. Oculus tidak sejauh itu, film ini tak menyentuh genre found footage atau sebagainya. Peralatan dokumentasi masuk dalam cerita ketimbang sebagai alat untuk bercerita.

Investigasi dimulai. Beberapa puluh kematian yang disebabkan oleh si cermin dibeberkan dengan percaya diri oleh Kaylie. Menekankan Oculus lebih ingin mengekspos sisi misteri di balik cermin kuno, and i like it. Karakter Tim pun berubah menjadi seorang skeptis yang berkali-kali ingin menggagalkan eksperimen, dan itu adalah hal yang sangat mengganggu di dalam film. Ia sedikit “dikondisikan” oleh sang screenwriter lewat ia tak bisa mengingat kejadian di masa lalu, membuat karakter Tim ini sedikit tak relevan dengan jalan cerita.

Hal yang paling mengejutkan dari Oculus adalah dibangunnya moment-moment flashback, yang pada awalnya hanya sebagai pelengkap saja, namun kemudian berkembang menjadi sumber misteri, sumber ketakutan untuk penonton tentang “sesuatu predictable yang dijamin terjadi”. Lewat memory recall, karakter-karakter ini (baik versi dewasa atau anak-anak Tim dan Kaylie) mulai dimanipulasi oleh kehadiran sang cermin. Penggabungan past dan present juga diwujudkan menjadi labirin cerita, dimana setiap karakter mulai berlarian walau tanpa ujung. Menempatkan penonton diantara dua cermin yang berhadapan, pointless, dan seringkali memiliki repetitive scenes.

Moment gore paling berkesan ketika Kaylie tak sengaja mengambil sebuah bohlam dan ia gigit, menciptakan sebuah kengerian kemudian dilanjutkan dengan sisi humor jika kita melihat ekspresi Kaylie selepas “dikerjai” si cermin. Film ini juga tak terlalu penampakan hantu untuk menakut-nakuti penonton. Hampir jump-scare ditinggalkan, make up hantu pun tak berlebihan, dan salah satu sosok hantu wanita menjadi sentral misteri masa lalu.

Selepas “experiment goes wrong” yang dilakukan Tim dan Kaylie dewasa, meruntuhkan karakter yang mereka bangun dari awal dengan “lari sana-sini dan flashback halusinasi sana-sini”. Tim kecil (Garret Ryan) dan Kaylie kecil (Annalise Basso) mengambil alih dengan cerita yang lebih menacing ; kegilaan ayah ibu mereka. Cerita masa lalu ini terlihat lebih terarah, daripada masa sekarangnya ; walau keduanya saling bekerjasama menciptakan scene bolak-balik halusinasi yang enak diikuti tanpa terasa membingungkan.

Apa yang menjadi masalah dalam Oculus adalah hilangnya power sang bintang utama Karen Gillam dan semakin powerful, terlalu powerful si cermin menutup semua pintu harapan untuk si karakter keluar hidup-hidup. Cermin lebih digambarkan sebagai “mastermind” namun kurang meng-ekspos cermin itu sebagai benda fisik yang memiliki karakter menyeramkan. Satu retakan di cermin (satu-satunya kelemahan, satu-satunya jalan keluar) mengesankan ada harapan untuk Kaylie bisa menghancurkan si cermin. Cara menghancurkan cermin ini sempat terjawab, tapi cerita tak menuju ke arah sana. Goddamn sequel potential !

In the end, Oculus tak pernah berkonsentrasi pada objek horornya (misal rumah, atau cermin yang tak akan se-trademark seperti boneka Annabelle dan sebagainya, membuat rumah dan cermin ter-underdeveloped), Oculus berkonsentrasi pada ketakutan para karakternya yang berada pada loop masa lalu dan masa sekarang yang sifatnya lebih situasional. It’s a well crafted unique combination of both of it.

Di sisi lain, Oculus seakan-akan mengkhianati penonton dengan janji penguakan misteri yang ditinggalkan begitu saja dengan sebuah open ending yang “masih” menyisakan misteri. Mungkin kita akan melihat asal usul demonic mirror ini di prekuel atau sekuelnya.

P.S. Oculus mungkin akan lebih rewarding jika lebih berkeinginan membuat prekuel ketimbang sekuelnya. IMO. (B)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s