The Normal Heart (2014), Exhausting Approach to Cope Its Importance and Too Mediocre to Catch Genuine Emotion

Director : Ryan Murphy

Writer : Larry Kramer

Cast : Mark Ruffalo, Taylor Kitsch, Matt Bomer, Julia Roberts, Jim Parsons

(REVIEW) Setelah dipuaskan dengan kehadiran Behind The Candelabra – masih tentang gay dan sedikit AIDS – juga too good to be movie television, The Normal Heart mengajak A-list star untuk bermain drama emosional yang diangkat dari play berjudul sama. The Normal Heart mengambil setting tahun 1980- 1983, dimana komunitas gay dibayangi “kanker” yang mengancam imunitas dan keselamatan mereka, belum disebut AIDS saat itu.

Ned Weeks (Mark Rufallo), seorang penulis, mengunjungi sebuah gay island dan melihat gaya hidup mereka yang “easy fucking”, walau kaum gay belum diterima sepenuhnya di masyarakat, paling tidak sudah tidak ada rejection berlebihan di saat itu. Terdapat sebuah sedikit kekurang nalaran ketika Ned bertemu dengan Emma (Julia Roberts), dokter dengan infeksi polio yang secara intensif mempelajari virus “unknown”. Kurangnya motivasi untuk Ned sampai akhirnya ia mau membantu Emma mensosialisasikan penyakit ke komunitas gay – dengan politik gay mereka. Walau pada awalnya, The Normal Heart memiliki kekuatan untuk melihat AIDS sebagai suatu horor baru di jamannya, memperlakukan penyakit ini sebagai epidemic plague baru, wow ada sedikit sentuhan Sodernberg – Contagious di awalnya.

Ned pun membentuk Gay’s Men Health Crisis, organisasi yang meningkatkan kesadaran kaum gay, mencari dana dan meneriakkan “We are dying ! We are dying !” Gaya komunikasi Ned yang menggebu dan unlikeable membuatnya kehilangan kesempatan untuk menjadi presiden di organisasinya tersendiri, direbut oleh Bruce (Taylor Kitsch), mantan tentara, blonde, rupawan namun belum bisa secara umum meneriakkan dirinya gay.

Ned juga bertemu dengan reporter New York Times, Felix (Matt Bomer) yang langsung ia taksir, dan ternyata Ned adalah cinta dalam hidup Felix – setelah beberapa tahun lalu mereka menjalani one night stand yang tak Ned jalani. Bagian percintaan Ned dan Felix ini adalah bagian paling drama queen, sekaligus paling bekerja di sepanjang film.

The Normal Heart berusaha men-tackle dua sisi dalam satu isu ; issue seberapa penting film ini memberikan perspektif tentang AIDS sebagai epidemi awal aka. this movie needs to deliver its importance, sekaligus sisi dramatis percintaan dan kehilangan aka. this movie needs to deliver its genuine emotion. Pendekatan yang dilakukan Ryan Murphy – guy behind Glee and American Story, nyatanya tak mampu mengantarkan dua sisi ini. The Normal Heart pastinya akan membuat familiar dengan sentuhan Ryan Murphy untuk mini series AHS-nya, spinning camera, editingnya.

The Normal Heart juga kehilangan koneksi “importance – dan emotion”, ketika hubungan Ned dan Felix tak terlalu dibawa ke organisasi, tak cukup membuat Ned untuk “lebih” berjuang untuk kekasihnya yang mengidap penyakit yang sama. Hilangnya hubungan mutualisme dari kehidupan organisasi Ned dan hubungan asmaranya, membuat film ini kurang masuk ke hati karena pendekatan Murphy terlalu tak subtle.

Ketika hubungan percintaan Ned-Felix sudah menjadi terlalu sentimentil, cheesy, familiar, The Normal Heart memberi pengetahuan baru tentang bagaimana pemerintah Amerika terlalu lelet untuk menanggapi isu nasional hanya karena epidemi ini dianggap hanya menyerang kaum gay saja yang merupakan sampah masyarakat waktu itu.

Yang membuat film televisi ini worth it adalah cast-nya, Rufallo memberikan penampilan memuaskan (walau masih bukan yang terbaik dari dirinya) sebagai aktivis yang memiliki passion, spirit dan berapi-api mengguncang Amerika lewat media, dan di sisi lain, he’s loving man. Penggambaran karakter yang tak sempurna, flawed, ini cukup menyesuaikan tempat yang tak terlalu mendewakan karakter utama. Menjadi dokter Emma, Roberts serasa mereprise peran Erin Brokovichnya, suka dengan penggambaran korban polio, membuat Emma lebih memiliki background di sisi screentime terbatasnya. She’s still powerful, but typically powerful. Matt Bomer mendapatkan peran yang paling khas untuk berkomitmen di film seperti ini, yakni penurunan berat badan, at least he tried. Taylor Kitsch keeps as Mr. Flop, dan kehadiran Jim Parson yang harusnya menjadi wildcard dua kubu juga stereo-typically developed.

The Normal Heart tidak harus selama ini dengan durasi melebihi 2 jam, style dari Murphy berubah menjadi benalu yang mendragging The Normal Heart menjadi sajian melelahkan dari paruh kedua. Mulai paruh kedua juga film mulai kurang 80’s. Style Murphy juga tidak memfokuskan ketika cast ingin melakukan effort yang lebih. Walau menjadi autobiography dari sang penulis play-nya, The Normal Heart tak melakukan sesuatu diatas normal, film ini hanya sebuah gambaran deskriptif minim inspirasi, dan yang paling fatal adalah kegagalan menangkap genuine emotion-nya secara lebih natural untuk dilihat. (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s