Kramer vs. Kramer (1979) – a Separation in Manhattan, Tranqualizes Its Confronting Title but Keeps It Balance

Director :  Robert Benton

Writer :  Robert Benton

Cast : Dustin HoffmanMeryl StreepJane AlexanderJustin Henry

(REVIEW) Ini yang terjadi jika orang-orang kreatif menikah, mereka sibuk mencari aktualisasi diri atas nama pekerjaan, namun tak cukup kreatif untuk lebih bisa mengutarakan keinginan dan atau kreatif agar lebih bisa didengarkan/mendengarkan.

I am not gonna complaint that the movie is quite good, I complaint because it won Best Picture + 4 others winning. Kramer vs. Kramer adalah sebuah film yang biasa, yang lebih menekankan pada performance aktornya ketimbang menghidupkan judulnya. Ada kata “versus” ~ konfrontasi, konflik, tapi film ini hanya menunjukkan bagaimana orang dewasa seharusnya bersikap. Untuk film yang bersetting di Manhattan,it’s too much heart.

Adalah Ted (Dustin Hoffman), executive yang sedang naik jabatan setelah ia menggambarkan hari promosinya itu sebagai “best day of his life in 5 years”, yes it’s fucking 5 years, sounds pathetic actually. Ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan teman-temannya ketimbang langsung pulang menemani istri dan anaknya. Pulang terlambat dan masih merasa “it’s all about me, it’s all about me who got promotion”,sang istri – Joanna (Meryl Streep) merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, di malam itu juga ia berpamitan dengan Ted dan meninggalkan anaknya – Billy (Justin Henry).

Masih dalam fase tidak percaya – termasuk menyalahkan sahabat Joanna yang mentrigger kejadian itu, Margareth (Jane Alexander), Ted mulai harus mengurusi Billy di tengah pekerjaannya yang meminta perhatian lebih. Mulai dari membuat french toast – failed, mengantarkan ia ke sekolah – Ted even doesn’t know where the Billy class is, sampai mengurusi kerewelan Billy – he ends up calling his son “little shit”. Film ini di satu jam pertama seharusnya diberi judul “Quality Time between Dad and Son, finally”, karena memang lebih mengekspos menemukan lagi sesuatu yang hilang diantara ayah dan anak. Scene mereka cukup beberapa kali heartwarming, sekaligus heartbreaking, bagaimana bisa Joanna – the basic bitch, meninggalkan anak seperti Billy.

Ada kekuatan banter yang melingkupi anak dan ayah baik dari gesture, dan conversation keduannya. Hubungan luar biasa yang yang tak terjadi tanpa ada pendekatan off screen Hoffman dan Henry yang membuat mereka moderately improvising. Ketika semuanya telah berada pada tempatnya – Ted isn’t asshole afterall, dan Billy berperilaku lebih dewasa dari umurnya : menyiapkan donat untuk sarapan dan mempergoki one night stand ayahnya, yep he sees her naked, Joanna secara diam-diam, dua bulan terakhir, telah mengamati anaknya daricoffee shop seberang jalan, like a serial killer. Disinilah ia meminta custody atas anaknya, “Hey, finally, I am still his mother afterall.”

Empat puluh lima terakhir ibarat pil tidur yang akhirnya nendang ~ salah satunya karena Meryl Streep yang ditarik lagi ke layar. Oke first thing first, Meryl Streep (the reason this review exists), sebelum mendapatkan gelar leading lady, ia masih berkutat sebagai supporting actress (sebelum ini dia menjadi pendukung di The Deer Hunter, dan bersamaan dengan ini ia menjalani shooting Manhattan), kekuatannyascreentime Meryl Streep cukup efektif. Dari awal, ia sudah menyajikan pure anxiety and confusion – melangkah keluar rumah sekarang atau melompat jendela apartemen suatu hari nanti. Good call, ia meninggalkan suaminya dengan pandangan mata subtle depression. You should really see her eyes. Karakter Joanna ini adalah karakter puzzle, yang akan menjawab apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Salah satu scene yang paling menarik adalah saat Joanna memberikan kesaksian di pengadilan – combination of conviction, honesty and self-failure (scene yang akan membawanya ke performa gemilang sebagai Lindy Chamberlain – A Cry in The Dark). Joanna berkembang lebih luas dari yang dibayangkan seakan-akan waktu terbatasnya cukup memberikan penjelasan apa yang ia alami. In the end, she’s not bitch, afterall.

Character development is power in this movie, Ted berangsur menjadi ayah yang baik dan kasih sayangnya dengan Billy semakin terlihat :scene Ted mencari ruang emergency. Dustin Hoffman, sentral karakter mampu menghidupkan sepanjang film dengan bantuan artis cilik anaknya. Yang paling dominan adalah dia tak pernah kaku, improvisasi memecahkan gelas wine cukup, uhm, surprising. Bahkan karakter kecil seperti Margareth juga dikembangkan, mulai dari rasa solidaritasnya ke Joanna, ia akhirnya berteman dengan Ted, she’s like Maya Rudolph in late 70’s for him. Comforting.

Apa yang tak didapat dari Kramer Vs Kramer lagi-lagi adalah sisi konfrontasi karena pada dasarnya Ted dan Joanna adalah dua orang yang masih mencintai ; Ted tak menganggap Joanna sebagai failed person, Joanna bahkan meminta maaf saat pengacaranya menggunakan insiden Billy di taman sebagai genderang perang. Courtroom pun menjelma menjadi character revelation ketimbang mengungkap eventperceraian ini sebagai sesuatu yang lebih kompleks. Walau penyajian sudut pandang antara Ted – Joanna cukup berimbang, dan hal yang sulit ketika film ini menggunakan perspektif Ted saja.

Maybe spoiler

Ketika hati mulai jatuh di tempat yang benar, Ted merelakan Billy demi mengecilkan damage ketimbang egonya, sentimen terakhir di ending dirasa cukup mengganggu, why it doesnt happen at first place and Ted will save more than one year salary. The movie should be ended with Billy in Joanna’s hands.

In the end, Kramer vs Kramer is fine movie, cukup penting di zamannya karena memberikan gambaran peran pria wanita di pernikahan, but it’s still a little bit overrated.

May their love story once ended up in elevator, but maybe sparks again in elevator (B).

5 comments

  1. Entah 3 SMP atau 1 SMA waktu nonton dulu. Seingat saya saat itu di sana soal single parent atau ‘no parent at all’ (anak yang kedua ortunya kerja) masih jadi isu. Mungkin termasuk satu dari sedikit produk Hollywood yang tidak mengekploitasi dramatisasi, tapi mencoba menghadirkan pesan secara lebih realistis (butuh niat tersendiri bagi seorang remaja ingusan untuk nonton yang kaya gini🙂 ).

    ‘Universe’-nya asyik: sesuatu yang awalnya mungkin sekadar tekanan kebutuhan ekonomi (dan kemudian jadi soal ego-karir) bisa secara ironis membuat keluarga yang secara finansial kecukupan malah berantakan.

    Bagian yang paling berkesan buat saya: saat di pengadilan si Kramer istri ‘membela’ Kramer suami dari serangan pengacara si Kramer istri sendiri (sensor, heavy spoiler🙂 ) Substansinya jelas: ‘Lawan tidak identik dengan musuh’.

    1. setuju, mungkin judulnya jangan terlalu “Kramer versus Kramer”, catchy sih, tapi penonton ekspektasinya jadi tarik ulur, konfrontasi suami istri….

      cba judulnya a Separation aja😛

  2. Hollywood, jagonya baca trend dan jualan masal.😀

    Oya, soal siapa (atau film mana) yang menang Oscar, akur sekali, indikasinya Academy Award memang sudah lama terkooptasi. Nominees tahun itu selain K vs K saya cuma lihat Apocalypse Now (gado-gado Rambo + Mission Impossible, dengan acting sedikit lebih baik) dan Breaking Away (ini lumayan rame diadu K vs K, tapi kalau sampai film indie ini menang jelas akan membuat pemodal besar mengamuk).

    Tapi tak jarang main kayunya kasar sekali. Tahun 2010 untuk best documentary yang menang ‘The Cove’. Sebuah film yang OK, memang, tapi jelas kalah kelas kalau dibandingkan dengan ‘Food, Inc.’, yang mendapat tekanan di Amerika sendiri karena membuat gerah sejumlah pihak.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s