The Grand Budapest Hotel (2014) is Superior Luxury, Worship It with Adoration, Admiration from A to Z

Director : Wes Anderson

Writer : Wes Anderson

Cast : Ralph FiennesF. Murray AbrahamJude LawEdward NortonAdrien BrodyWillem DafoeSaoirse RonanTilda SwintonTony Revolori

(REVIEW) Terakhir kali melihat karya Wes Anderson adalah Moonrise Kingdom (a 12 year old kid’s love story with touching boobs and kissing, wonderful !), which is, like two years ago. Rasanya seperti sedang berada dalam satu pameran, dimana semua orang, almost,mengagumi satu lukisan – hey it’s so fucking beautiful, hey it’s so fucking contained, yep ! that kind of feeling when you know something so beautiful, but at the same time, you feel so….lost. Itulah yang mengawali saat menonton The Grand Budapest Hotel, full cynism.

Ketika melihat trailernya, oh no, parade karakter-karakter aneh, and it’s all about style, style, style. I like movie with style, a little bit of style is effective, a lot of style is dangerous – or you have to contain it (kredit untuk President Snow untuk kalimat ini), dan film ini berhasil, mengisi setiap jengkal teknik kamera, keindahan set produksi, warna warni kostum dan make up, menjadi sesuatu lebih dari itu dan yang paling penting, The Grand Budapest menghibur di samping sense of humor Anderson yang tidak biasa. Film ini membuat kita ingin kembali ke masa lalu dan tidak keberatan terlibat dalam satu kasus pembunuhan. Karena apa ? Karena saking indahnya.

Seperti halnya hotel yang sudah tua, TGBH menambah dimensi rentang waktunya dengan memperluas cara berceritanya dengan menghadirkan masa sekarang-masa lalu – dan masa lalunya masa lalu (terbedakan aspect ratio yang berbeda, cukup membuat kita merasa Oh, the movie is different, pada awalnya). Pembagian ini layaknya hanya aksesori tapi penting sehingga tak mengganggu cerita utamanya, yaitu masa lalunya masa lalu.

Di sebuah republik khayalan bernama Zubrowka, di masa sekarang, seorang gadis mengunjungi kuburan dengan monumen the author didalamnya – yang dianggap sebagai national treasure, gadis ini mulai membaca buku dengan cover pink berjudul The Grand Budapest Hotel, yang membawa kita pada visualisasi the author (Tom Wilkinson – versi tua, Jude Law – versi muda).

The Author pun mengulang kenangan saat ia singgah di TGBH saat dirinya masih muda dan saat hari-hari kelam hotel itu, yang membawanya pada pertemuannya dengan pemilik hotel – Zero Mustafa yang mau bercerita bahwa ia tak pernah membeli hotel itu. Sesi Jude Law ini begitu menarik, bagaimana Wes Anderson seakan-akan mewujudkan kata per kata dalam sebuah novel ke dalam gambar nyata, it’s just enchanting.

Cerita melakukan flashback kembali saat ia hanya sebagai lobby boy. You see this kind of way to tell story makes us like it’s our grand grandparent’s story ? Zero muda (Tony Levowory – perawakan Arab tapi dengan kumis palsu) dengan zero experience, zero education dan zero family, mendapatkan training dari M Gustave (Ralph Fiennes), concierge (uhm, seperti pelayan, manajer hotel) dengan gaya eksentrik dan cara bicara yang cepat. Keduannya menjadi dekat, ketika Zero menemaninya ke pemakaman seorang wanita tua yang mendapat “service” khusus dari Gustave (yep, he’s a gigolo too). Wanita itu adalah Madame D (Tilda Swinton – actress who’s in Taking Costume-y Role Phase), wanita kaya yang meninggalkan Gustave dengan warisan lukisan mahal Boy with Apple (is it representation of “man with testicles” – I mean, Gustave as gigolo and Zero’s as growing up man-wanna be ?)

Selain lukisan, Madame D juga meninggalkan konflik tentang warisan dengan anaknya, Dmitri (Adrien Brody). Saat Gustave dan Zero mengambil haknya dengan mencuri lukisan itu, Gustave harus berurusan dengan polisi (Edward Norton) karena diduga meracuni Madame D. Saat ia dijebloskan ke penjara, Zero meminta bantuan Agatha (Saoirse Ronan) – pembuat roti dan gadis pujaannya, untuk mengeluarkan Gustave dan membuktikan ia tak bersalah, sebelum korban terus berjatuhan oleh kaki tangan Dmitri, Jopling (Willem Dafoe).

TGBH seakan-akan menjadi anti depressant yang mengulik sesuatu yang mengerikan, let’s say murder, war’s victim, dan World War II,menjadi sesuatu yang latent bersembunyi di balik icing cake yang warna-warni, penuh dengan aksesori karakter dengan kostum warna-warni. I gotta say, tragedy would never be this fun.

Pendekatan Wes Anderson yang eye popping dengan visual stylish juga mampu mengimbangi convoluted plot (yang juga dibantu membagi film ini menjadi lima bagian) yang pasti sudah kusut jika dilakukan pendekatan yang biasa saja. Banjir karakter-pun mampu diatasi dengan penarikan perhatian penonton lewat aktor-aktor terkenal di dalamnya, contohnya kehadiran karakter Bill Murray, Owen Wilson, bahkan Lea Seydoux yang menjadi ternotice didalamnya (This movie provides pretty good example of using characters with cameo’s screentime).

Dari segi cerita, yang juga bisa dimasukkan ke dalam genre crime memang tidak diolah dengan a la detektif, misterinya sendiri lebih dibuat seperti open case ; penonton sudah tahu siapa pembunuh dan bahkan motifnya, walau tata caranya juga tidak terlalu ditekankan. Hal ini membuat bahan utama TGBH, yaitu hubungan Gustave-Zero lebih terlihat. Ralph Fiennes cukup memberikan full service dengan comical timing dan rasa compassion pada Zero, sedangkan Levowory cukup menjadi partner in crime yang fresh.Memang, beberapa aktor tak mendapat cukup waktu untuk meninggalkan impression, namun dengan kehadiran mereka saja cukup membuat kita berpikir “Who cares ?”. Edward Norton, I like him better in Moonrise Kingdom, yep, with THAT boyscout’s short pants,dan Willem Dafoe, ridiculous villain, with Green Goblin face.

Tak usah membicarakan palet warna, atau camera movement, atau set design yang sedetail deskripsi sebuah novel, semua itu menjaga kuning telur tetap di tengah – selalu menarik penonton untuk melihat, TGBH meliput tragedi dengan humor yang kali ini berhasil membuat tertawa, terbahak-bahak namun tetap elegan walau memang perlu satu dua detik untuk mencerna (I gotta digest phone booth position, etc). SLAPstick jokes dan profanity juga digunakan dan cukup efektif.

Walau tak menyajikan cerita misteri yang witty, bahkan jika hanya dilihat dari situ TGBH memiliki ending yang menggampangkancrime-murdernya. Nyatanya, TGBH mampu menepati janji komitmennya menjawab pertanyaan awal, “Mengapa Zero Mustafa sampai bisa mendapatkan sebuah hotel, dari posisi seorang lobby boy ?”. Disertai off screen story tentang apa yang terjadi dengan Gustave dan Agatha di ending film. Mengapa hal itu diperlukan ? Menunjukkan cerita masih berjalan selepas ending. One word for it : agony – for the advanced tragedy.

Akhirnya, The Grand Budapest Hotel adalah karya yang membawa respect (presisi secara teknisnya, bahkan pemilihan scoring Alexandre Desplat yang tak pernah overwhelming), lovable (dari penyajian colourful dan karakter menyenangkan), bertingkat dan terdiri dari banyak karakter (seperti halnya sebuah hotel, the way to live up its title). (A-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s