The Quiet Ones (2014), an Experimental Hodgepodge of Retro Horror, Found Footage, and Bunch of Jump Scares

Director : John Pogue

Writer : Craig RosenbergOren Moverman

Cast : Jared HarrisSam ClaflinOlivia CookeErin RichardsRory Fleck-Byrne

(REVIEW) 98 minutes of bam, bam, duar, bam, bam duar.

The Quiet Ones mengawali film dengan based on actual event – dimana sepertinya sudah tak membawa efek. The Quiet Ones juga mendapat keuntungan seperti halnya The House at The End of The Street (which we really h.a.t.e.s it), setelah Sam Claflin mendapat global recognition dari peran Finnick Odair – Catching Fire (i know, i know, he’s Prince Charming too in Snow White and The Huntsmen, but anybody notices him ?).

“Do you believe in God ? Do you believe in ghost ? Are you a believer ?” pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Prof. Joseph (Jared Haris) saat menjelaskan di balik kejadian supranatural pasti ada penjelasan rasional kepada mahasiswanya. Salah satu yang hadir adalah Brian (Sam Claflin), kameramen yang memiliki passion menangkap segalanya dengan kameranya (it means he has no passion at particular thing), dan dia berhasil direkrut setelah Joseph melontarkan misi mulia terhadap projeknya, “We cure one patient, we cure all mankind” .Bergabunglah Brian dengan mahasiswa lain : Krissi (Erin Richards) – “seksi” kesehatan dan Harry (Rory Fleck-Byrne) – seksi permesinan, mereka berempat akan menangani seorang gadis muda yang memiliki kemampuan untuk merangsang kejadian supranatural di sekitarnya, Jane Harper (Olivia Cooke).

Jane Harper adalah misteri horor terbesar di film ini, Olivia Cooke menampilkan cukup baik peran gadis yang memiliki dua sisi berbeda –the good one and the bad one. Ia bahkan mereferensikan dirinya dengan gadis di The Exorcist (haven’t watched the movie, tapi scene leher berputar cukup terkenal), hanya saja Jane Harper bersifat lebih sukarela dibanding seseorang yang kerasukan dan harus di-exorcist. Ia tahu benar standar experiment Joseph, dan berkali-kali ia menandaskan Joseph akan menyembuhkannya, disamping nature experiment yang begitu exploitative. Sifat sukarela dan hubungannya dengan Joseph ini yang membuat karakternya memiliki depth tersendiri.

Melihat trailernya saja, kita tahu bahwa The Quiet Ones mengambil jalan yang sama dengan The Conjuring : doll, old house, old retro style, “not subtle” ghost phenomenon, based on old actual event, tapi dari rating PG-13 saja sudah pasti membedakan. Yang berarti The Quiet Ones tak akan ada gore berlebihan, sedikit nudity (which is none, not even single boob in this movie), dan mengandalkan sesuatu yang lebih atmosferik untuk horornya.

Penciptaan suspense ini kemudian mengubah setting tempat dari lingkungan kampus yang “kurang menyeramkan” ke sebuah rumah di daerah terisolasi saat percobaan Joseph dihentikan pendanaanya. Mulai dari sinilah, sekian banyak jump scare yang tak terhitung jumlahnya mulai ditebar : Jane Harper yang suka bersembunyi di balik pintu, Harry yang melakukan prank, bohlam meletus, sampai ranjang roboh. I am fucking hate this cheap thrills.

Kelima karakter mulai mengisolasi diri (suddenly, like a cult), dan human drama pun mulai berjalan, dan sebenarnya lebih menarik ketimbang experiment yang cenderung progressless. Layer kepribadian dari Joseph mulai dimunculkan, Jared Harris cukup mengambil kontrol sebagai “team leader”, hubungan Brian – Jane juga berkembang menjadi hubungan simpati sang kameramen dan objek, Krissi berkembang dengan “jealousy issue”-nya sedangkan Harry hanya diam di tempat.

Terjadi pula, konsentrasi dari ghost oriented – yang semula hanya menambah misteri sosok Evey, boneka yang menghantui Jane, bergeser menjadi character oriented, yaitu arogansi Joseph, motivasinya yang mulai dipertanyakan. Hal inilah yang membuat The Quiet Ones “sedikit” diatas rata-rata.

Tak banyak yang bisa dilakukan Sam Claflin sebagai leading man di film ini, excuse : ini film horor, jadi hal tersebut bukan kejutan, disamping hubungannya dengan Jane yang instant meyakinkan. Kamera yang dipegang Brian memberikan kontribusi lebih, dengan menggabungkan found footage dan kamera konvensional. Moment paling menakutkan juga dihasilkan dari kamera Brian saat ia menge-shot rumah dalam keadaan pitch black.

Skeptis dari para karakternya juga berada pada tempat yang tepat. Paling tidak memang ada alasan untuk mereka “mempertanyakan”. Tidak hanya easy statement, “I don’t/do believe in ghost.”

The Quiet Ones juga tak memanfaatkan sisi retro-nya menjadi suatu kesan “seperti horor di masa lalu”, teknologi peralatan pun tak menjadi sesuatu yang strange, dan jika dikembalikan pada “Inspired/based actual event”, yakni screenplay sedikit merujuk pada parapsikologi eksperimen – Philips di tahun 1972, The Quiet Ones hanyalah make-believe tanpa kekuatan sebesar The Conjuring dengan keluarga Perron-nya. Lets be honest, you googled Perron family right ?

It’s not poor execution, it’s just under the moderate ones with potential. (C+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s