The Most Demanding Role of Meryl Streep as Inexhausting Exotic Creature in ‘Sophie’s Choice (1982)’

Director : Alan J. Pakula 

Writer : Alan J. PakulaWilliam Styron

Cast : Meryl StreepKevin KlinePeter MacNicol

(REVIEW) It needs a writer to penetrate somebody else’s life, dia adalah Stingo (Peter Macnicol) – penulis berusia dibawah 22 tahun, not really in handsome or cute shape, yang pindah ke sebuah boarding house di Brooklyn untuk menulis novelnya (with limited amount of money and no job, what a naïve person). Seperti halnya boarding house, Stingo berinteraksi dengan tenant lainnya, yaitu Sophie (Meryl Streep) – exotic Polish immigrant, with blond hair and flowing night gown, dan Nathan Landau (Kevin Kline) – biologist, impulsive, with mood as roller coaster.

Sifat ketiganya yang saling terkait : Nathan’s easy partying, Sophie’s weird sex appeal, and Stingo’s curiosity, tak memerlukan waktu lama untuk ketiganya untuk menjadi sahabat. Sebuah persahabatan yang kental, namun di waktu bersamaan terlihat seperti ada saja yang salah. Hal itu karena Stingo diantara area kagum dengan sosok Nathan yang memang atraktif sekaligus pintar, dan ia memendam rasa kepada Sophie, inevitable. Hingga akhirnya diungkapkan bahwa dibalik rambut blondie-nya, kulit seputih poselain, lipstick orange, Sophie adalah bekas tawanan Nazi yang memiliki masa lalu, dan selalu menarik Stingo untuk masuk ke dalamnya.

Apa yang dipikiran kita ketika sekilas mendengar judul film ini ? Sophie’s Choice – Sophie’s Choice – Sophie’s Choice, selama 30 tahun film ini selalu meng-highlight aktris di dalamnya. Disinilah permasalahannya, ekspektasi awal terlalu concern  dengan Sophie sebagai pemegang cerita utamanya, yang secara tidak langsung membuat Stingo terkesan sebagai alat triggering / instrument untuk Sophie bercerita, dan hal tersebut diperparah dengan pembagian cerita – sepertiga Sophie dengan ceritanya sendiri, dan dua pertiga cerita Stingo di kehidupan Sophie.

You don’t understand. You don’t understand”, itulah yang dikatakan Sophie untuk menahan ceritanya hingga satu jam durasi berjalan. Selama itu pula, kita dipersembahkan dengan persahabatan mereka bertiga yang berkonsentrasi pada temperamen Nathan yang halusional dan tak stabil, Sophie yang terlalu setia untuk menemani Nathan, dan Stingo yang selalu mencari celah untuk masuk ke dalam kehidupan Sophie.

Tanpa Stingo, Nathan – Sophie sudah menjadi sepasang kekasih yang cukup likeable dengan dinamika mereka tersendiri, sedangkan Stingo hanyalah bagian cerita yang harus dipenuhi dari sebuah adaptasi novel yang memakai sudut pandangnya saja. Positifnya, Stingo memposisikan Sophie sekaligus Nathan menjadi objek yang menyimpan misteri berupa masa lalu.

Past is the layer of portrayal, and this is it the main course, Meryl Streep as multidimensional character called LIFE. Penciptaan siapakah Sophie merupakan hal yang luar biasa. Sophie berangkat dari satu titik, THAT EXOTIC WOMAN ! kemudian mulai terdevelop baik alur ke depan ataupun ke belakang. And trust me, it’s fucking demanding role, tidak salah jika sampai Meryl Streep sampai mengemis-ngemis untuk peran yang satu ini. Satu scene Sophie terlihat sebagai woman with full joy, di scene yang lain Sophie terlihat sebagai trapped woman, di scene yang lain Sophie terlihat sebagai woman with great pain. Apa yang Meryl Streep perlukan untuk peran yang satu ini ? Accent, jika belum pernah mengenal Meryl Streep di film-film sebelumnya, tak akan terlihat jika Sophie diperankan oleh aktris yang dilahirkan di Amerika, what a adorable accent, kita akan mengira dia dilahirkan di Polandia, Ceko atau sebagainya, beruntung untuk Streep, she has European bones. Language, adalah bagian yang cukup membuat Streep harus belajar berbahasa Jerman sekaligus Poland, entah dari pengucapan apakah akurat atau tidak (I’m not German language expert), paling tidak setiap perkataan dari Sophie cukup convincing dan masih menghantarkan emosi,  and that’s all that matters. Transformation, dari gadis terkena anemia, happy joy woman, bald prisoner, semuannya dialami Meryl Streep membuat karakternya begitu dinamis, dan yang paling penting di perannya sebagai Sophie, Streep masih memegang “subtlety”-nya dalam memerankan sebuah karakter. Sophie adalah karakter yang menggunakan masa lalunya sebagai sebuah media untuk menjadikan dirinya yang sekarang. Inilah penampilan terbaik Meryl Streep.

How about Nathan and Stingo ? Kevin Kline seharusnya mendapatkan recognition Oscar (mungkin karena ia newcomer saat itu) untuk perannya yang begitu delusional, naik turun, atraktif, suave, swell dalam waktu yang bersamaan, berhasil menjerat Streep yang waktu telah mengantongi tiga nominasi Oscar, tidak sebuah kejutan jika akhirnya Kevin Kline mendapatkan award-nya tujuh tahun setelah film ini, he got talent.

Berbeda dengan Stingo, yep our hormone pumped writer, yang performance-nya selalu tenggelam dengan kedua partner-nya walaupun ia akhirnya menunjukkan sisi emosionalnya di durasi akhir film. But still,this writer is annoying, I don’t know why, and a little bit disgusting everytime he touched our Sophie. Motivasi Stingo mendekati Sophie dirasa sedikit cacat : apakah ia benar-benar mencintai Sophie, atau itu hanya bagian dari hormone 22 tahunnya yang sedang bergejolak (beside, he’s a virgin), membuat Stingo sebagai pemuda yang pasif menunggu, hypocrite opportunist, terkadang bermuka dua, dengan hubungan Sophie dan Nathan. Basically, he’s the guy who does nothing.

SPOILERS

Sophie’s Choice menekankan penceritaan sebagai sebuah bagian dari “story of my life” ketimbang “I have really great bad past” yang cenderung memiliki nature depresi, hal inilah yang membuat cerita berisi banyak rasa asam, pahit, manis, sedih, walau masih dibungkus pada nature yang sama yaitu tragedy.

Sophie, the woman who always has fucked up choices. Scene flashback merupakan harta karun yang akhirnya berhasil digali di film ini. Beberapa di antaranya disajikan dalam scene monokromatik atau sentuhan sepia yang mampu menangkap masa-masa horror yang begitu kelam di zaman holocaust dan penangkapan serta fase yang disebut dengan exterminator.

Did you know ? Frase “Sophie’s Choice” telah menjadi sebuah istilah sendiri ? Hal ini disebabkan karena rahasia kelam Sophie merupakan sebuah scene yang heartbreaking, haunting, sekaligus horror. Ketika Sophie sampai di sebuah camp bernama Auschwitz, seorang Nazi terkesima dengan kecantikan Sophie, yang akhirnya ia manfaatkan dengan berkata “I am not a jew, I am a Christian, so neither my children.”, Nazi itu memandangi Sophie dan melihat kedua anaknya. Jan dan Eva, hingga akhirnya the fucking Nazi memberikan Sophie pilihan untuk memilih salah satu diantara kedua anaknya, sedangkan salah satu yang lain akan di “exterminate”.

And she chose “the boy” instead of the girl. And the girl’s scream will haunt you. Gadis kecil ini kemudian dihubungkan dengan scoring (yang berasal dari flute si gadis semasa hidup), it’s just like double misery

And here it is the savior, Stingo is not waste of time, afterall.

Saking terkenalnya scene “The Choice” itu seakan-akan melupakan bahwa masih ada yang terjadi dengan Nathan-Sophie-Stingo yang keadaannya makin diperparah dengan kakak Nathan yang mengatakan bahwa Nathan hanyalah seorang penderita schizophrenic, ia bukan biologist, ia tak bekerja sebagai scientist di perusahaan farmasi, dan ia tak akan memenangkan hadiah nobel (seperti yang ia elu-elukan di sepanjang film), disinilah Sophie’s Choice mulai mempekerjakan judulnya lagi. Ketika Nathan mulai destructive, tidak hanya dengan dirinya sendiri, namun juga bagi orang lain, Sophie lebih memilih untuk kembali bersama Nathan, ketimbang menjalani kehidupan baru dengan Stingo, and that is also a fucked choice.

In the end, Sophie’s Choice is not about herself, it’s her, Nathan and Stingo and darkest past (B)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s