22 Jump Street (2014), Yin Yang Works, “Exactly The Same” – Jinx with No Diminishing Return Effect

Director : Phil LordChristopher Miller

Writer : Michael BacallOren Uziel

Cast : Channing TatumJonah HillIce CubeWyatt RussellAmber Stevens

(REVIEW) Berawal dari “nobody gave a shit” dengan pendahulunya, 22 Jump Street mengawalinya dengan “sceptism of a sequel” dan memenuhi hal tersebut dengan hasil berkebalikan – alias sangat memuaskan. Sutradara sama : Phil Lord, Christopher Miller (yang mulai mengukuhkan diri seperti “healthy spicy formaldehyde (??)” : supposed to be rotten meatball, tv to movie adaptation, and lego based flick), screenwriter yang sama, dan duo yang sama, cerita yang sama, apa yang diharapkan kecuali “Everything is awesome. (if you’re fan of its predecessor).

22 jump street

source : imdb.com

Terbayang seseorang melaporkan hasil opening weekend untuk 21 Jump Street dan kemudian berkata, “Hey, we need sequel.”, ditanggapi dengan “Okay, we’ll do exactly do the same like Final fucking Destinationand still more money – more money.” Dan terbukti, 22 Jump Street mampu hampir 2 kali memperoleh apa yang didapat 21 Jump Street di opening weekend-nya : 57 million versus 37 million, bahkan mengalahkan persaingan ganas dari animasi semua kalangan How to Train Your Dragon 2, di musim panas. Hal itu tentu saja sebanding dengan apa yang disebut dengan high risk, high return.

Ingat ucapan Captain Dickson (Ice Cube) mengucapkan bahwa Jenko (Channing Tatum) dan Schmidt (Jonah Hill) akan menginvestigasi kampus di akhir 21 Jump Street ? Mereka tidak. Mereka hanya ditugasi mengawasi online lecture yang saat itu membahas lambang Yin Yang (yang merupakan juga penggambaran mereka berdua). Namun tak lama kemudian, setelah gagal dalam menangkap penjahat bernama Ghost, mereka dikembalikan ke kampus lokal untuk menelusuri kematian seorang gadis yang diduga peredaran WhyPhy (it’s not Wifi, it’s drug name.) Btw, how refreshing is this short synopsis.

22 jump street 1

source : imdb.com

Ying yang works, it’s “exactly the same and reverse” jinx of previous installment. Kemampuan 22 Jump Street untuk melakukan SWOT Analysis benar-benar serasa alasan mengapa sekuel ini bisa bekerja.

Strength, dimulai dari pasangan Hill dan Tatum, keduannya sedang dalam fase puncak : Hill dengan post Oscar nomination serta Tatum dengan pre Oscar nomination (seemingly), percaya diri, dan membuat apa yang kita sebut dengan bromance ke level yang lebih tinggi. Jika SMA adalah waktu menyenangkan untuk Schmidt, kuliah adalah reverse versionnnya, kali ini Jenko bergabung pada tim football yang mempertemukannya dengan Zook (Wyatt Russel) – belahan jiwa Jenko, suspect utama, ia mengambil posisi Dave Franco sekaligus sumber masalah persahabatan Jenko-Schmidt sedangkan Schmidt bergaul dengan mahasiswa seni membosankan, Maya (Amber Stevens) – mengambil porsi dari Brie Larson. Tak diragukan lagi, ketika Tatum-Hill gila, mereka benar-benar gila lewat impersonation, their high fantasy, plus masculine versus brainy nature dari keduannya. Ketika berdua bekerja dengan jokes yang sama, Tatum dan Hill berhasil membawa hubungan mereka ke level yang lebih intim ketimbang 21 Jump Street, inilah the real chemistry-nya, sesuatu yang membuat versi ini lebih terasa heartfelt, walau dengan jokes pre- gayish relationship, namun masih bisa diterima oleh semua kalangan (even homophobic). Kemampuan Tatum kembali menunjukkan ekspresi “The Vow, Dear John”-nya cukup terasa mungkin inilah yang membuat Tatum lebih jawara ketimbang Hill (walau masih berimbang), terutama jika dikontraskan dengan sisi gilanya yang sudah total lepas, membuat Tatum bersinar layaknya crazy rabbit.

22 jump street 2

source : imdb.com

Michael Baccal juga sukses menerapkan basic prototype cerita yang ia rumuskan dengan Jonah Hill, bunch of good jokes, bunch of instant surprise, bunch of meta, dieksekusi dengan steady oleh duo sutradara yang memang familiar dengan fast paced jokes. Script yang tak direvisi karena Phil Lord dan Christopher Miller yang disibukkan dengan lego mereka, nyatanya memiliki timing jokes yang lebih pas, ketimbang jokes one liner Lego Movie yang cenderung mengalami diminishing return. 22 Jump Street cukup stabil mengocok perut dari awal sampai akhir.

Weakness and threats, lagi-lagi label sekuel masih menjadi momok untuk Holywood – mungkin masih bisa diterima pasar tapi kualitas turun drastis, yeah bahkan sekelas Bridesmaids pun mengambil keputusan bijak dengan Kristen Wiig plus Annie Mumolo menolak sekuelnya (paling tidak untuk saat ini). Itulah yang disadari betul oleh 22 Jump Street yang kemudian dmenambal resiko ini dengan meta humor yang menjadi salah satu kekuatan di film ini : mocking, referencee, including its winning credit title. Cukup hanya dari sini 22 Jump Street sudah memiliki kelebihan dari pendahulunya dan tak usah terlalu bertetek bengek mengembangkan cerita22 Jump Street tentu akan lebih “dimengerti” jika sudah menonton pendahulunya. Familiar, pastinya, namun inilah kelemahan lain yang siap dirubah menjadi kekuatan. 22 Jump Street tak pernah lupa menghadirkan reuni kecil (walau selang film hanya 2 tahun) dengan penampilan singkat dari Dave Franco, Rob Riggle dan Nick Offerman and Korean Jesus, plus cameo dari Bill Hader, Anna Faris, plus Seth Rogen, yang cukup mengobati karena tak ada surprising cameo setara dengan penyamaran Johnny Depp di 21 Jump Street.

22 jump street 3

source : imdb.com

Opportunity, dari jalan cerita, ya, memang 22 Jump Street jalan di tempat, lebih tepatnya memaksimalkan penggunaan lahan, hal ini membuat Jump Street memiliki banyak area tak tersentuh untuk membuat trilogi, tetralogi, 23 Jump Street in Medical School – Culinary School – Dance School, etc, etc. Tentu saja itu informasi awal yang mereka lontarkan untuk kita hanya berpikir Jump Street is all about school, etc, etc, dan menolak informasi berlawanan. Dengan orang-orang “kredibel” di dalamnya, they will be wise.

In the end, 22 Jump Street isnt Saw, Final Destination, Hangover, the same formula still works, that’s makes it cool, that amazes me (A-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s