Only Lovers Left Alive (2014), Well Maintained Vampires, Nutritious Blood Popsicle That Best Licked Slowly

Director : Jim Jarmusch

Writer : Jim Jarmusch

Cast : Tilda SwintonTom HiddlestonMia WasikowskaJohn HurtJeffrey WrightAnton Yelchin

As long as they are not glowing under the sun, every vampire flick is worth to watch, hah ! I am kidding.

(REVIEW) No, I’m not. Vampire, tentu saja dengan “culture” mereka yang kuat selalu menarik untuk diangkat ke dalam layar, dan Only Lovers Left Alive merupakan sebuah eksekusi menyegarkan yang memperlakukan vampire dengan sangat bijak. Apa yang kita lakukan (if we’re vampires) jika kita memiliki ribuan tahun untuk hidup ? Yep, itu juga yang ditanyakan Stephanie Meyers lewat tagline Twilightnya, “When you can live forever, what do you live for ?”, tentu saja kita tidak hanya akan tidur di siang hari, menjadi makhluk nokturnal, mencari mangsa, dan mendapatkan cinta Bella Swan, whoops, serta masih menjadi kepribadian yang dangkal. Itulah yang berusaha disampaikan oleh sutradara serta penulis, Jim Jarmusch.

Lewat opening scene yang menghipnotis dan memusingkan : bintang di langit bergerak memutar (i don’t know why “stars”, maybe represents something eternal, and something hopeful). Eve (Tilda Swinton) dan Adam (Tom Hiddleston) terbangun di tempat yang berbeda : Eve di Tanger, dengan tumpukan puluhan buku dan karpet antik, sementara Adam di Detroit dengan alat-alat musiknya. Ya, keduannya vampire, dan hidup ratusan tahun membuat keduanya memiliki pengetahuan luar biasa, basically they are living encyclopedia. Keduanya juga membutuhkan darah, namuo keduanya telah meninggalkan cara lama untuk mendapatkannya. Menjalani kehidupan low key sebagai vampire, Eve dibantu Marlowe (John Hurt) – teman vampire veteran, sedangkan Adam dibantu Ian (Anton Yelchin) dan Dr.Watson (Jeffrey Wright) untuk mendapatkan kebutuhannya. Walau sama-sama berumur, Adam tak pernah lepas dari sifat galau, kadang suicidal-nya, cenderung idealis sebagai musisi, inilah yang membuat Eve berkunjung ke Detroit yang juga mempertemukannya dengan adik liarnya, Eva (Mia Wasikowaska) yang siap merubah keadaan.

This is such vampire’s everyday lifeJarmusch tak pernah muluk-muluk mengelola cerita dalam film ini. Ia bahkan cenderung tak memperlakukan makhluk eksotis haus darah ini sebagai sesuatu yang bersifat terlalu dieksploitasi. Ia memperlakukan vampire di dalam tubuh Eve dan Adam sebagai bagian dari virtue mereka, sekaligus sebagai perwakilan karakter yang selalu haus, terperangkap dalam perjalanan waktu. Apa yang kita sebut dengan “vampire”, hanyalah sebuah gimmick menarik yang dikemas dengan grace dan full of ethic conduct. Terbukti dengan minimnya action a la vampire (yang memang sepertinya tak diperlukan) dan film ini terbukti juga menjadi film vampire dengan compassion karena memanusiakan vampire, how great is that. Apa yang kita lihat benar-benar keseharian mereka, mencoba menghibur kesendirian di balik perangkap gelapnya malam.

So, it’s THAT boring ? The answer is, “No, it’s not. Ingatkah bahwa mereka telah hidup ratusan tahun ? Hal inilah yang membuat Jarmusch dengan bebas ambil sana sini referensi buku, alat musik, tokoh, ilmuwan, tanaman lengkap dengan nama latinnya, bahkan referensi bermacam jenis kayu, yang membuat percakapan atau perkataan menjadi semakin kaya dan terbatas. Sounds strange ? Nope, kemudian dikemas dengan fleksibel, yang mudah dicerna tak peduli seasing, sesulit apa yang Eve dan Adam lontarkan. Thanks to Hiddleston and Swinton too.

When the relationship is like refreshing blood popsiclepercakapan penuh nutrisi kemudian menyuburkan hubungan cinta Eve dan Adam, menutup drama dan cliche yang ada dalam setiap hubungan. Diskusi, diskusi, diskusi tentang banyak hal, mungkin tak akan banyak mengangkat issue relationship mendalam, they’re not Celine and Jesse, tapi yang mereka bicarakan senantiasa enganging, dan kadangkala tercipta effortlessly comedy. Baik Swinton dan Hiddleston (God, their names’ even rhymed) juga tak terjebak pada penampilan dark, namun loose, enak untuk diikuti, terus menarik untuk dilihat. Terutama Swinton, bahkan dengan rambut, kulit White Queen-nya, ia menunjukkan compassion, maturity untuk partnernya.

Subtle survival, dengan minimnya karakter vampire (hanya empat), dengan kesendirian mereka, vampire bukan lagi sebuah spesies menjamur seperti di abad 15, mereka langka, mereka juga menghadapi kelangkaan pangan ketika darah manusia mulai terkontaminasi (Adam bahkan memanggil manusia sebagai zombie). Sosok Eva sebenarnya adalah wujud vampire yang mulai beradaptasi : ia easy going,better outfit choice, and lived in LA, ia juga liar meminum sembarang darah, tak kaget ia selalu haus akan pure blood, kehausan ini cukup ditunjukkan oleh keliaran Wasikowaska. Tapi survival yang sebenarnya adalah Adam dan Eva harus bangun di dalam runtuhan bumi yang sama, the thing that keep them passionate is another thing. Inilah yang membuat film ini terasa manis.

Movie that really know to take a sipuntuk beberapa orang mungkin Only Lovers Left Alive terlalu pelan ditata, dengan masalah yang masih terlalu kabur, tapi itulah hidup sehari-hari baik untuk vampire dan manusia, we just need struggle in daily basis. Hal inilah yang mungkin membuat pengembangan karakter tak begitu kentara, bahkan ketika vampire-vampire ini telah kehilangan comfort zone, sehinhga Jarmusch harus mengembalikan Adam – Eve ke alam liar untuk bertahan kembali.

Spoiler : You could say Jarmusch creates Twilight : The Beginning, vampires drink contaminated blood that makes ’em stupid. Just kidding (B+)

 

5 comments

    1. Wow ! Thanks dah ngasih tau, g pernah liat Hiddleston pas diwawancara itu, penasaran kenapa bintang ? Soalnya openingnya jujur dah bkin pusing dgn bintang diputer2in…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s