Venus in Fur (2014), Emmanuelle Seigner Unwrapped Female Dominance in Polanski’s Play Adaptation

Director : Roman Polanski

Writer : Roman PolanskiDavid Ives

Cast : Emmanuelle SeignerMathieu Amalric

(REVIEW) Beberapa tahun setelah mengurung Winslet, Foster, Waltz, dan Reilly di sebuah Carnage, nama Polanski sempat lenyap di pikiran hingga terdengar sebuah kabar dari film ini – Venus in Fur. Tidak main-main, Venus in Fur menggabungkan adaptasi buku, yang diangkat ke dalam sebuah latihan play, dalam bingkai sebuah film.

Sebut apa yang belum dialami Polanski dalam hidupnya ? Murder, holocaust, sex offender, etc, etc, etc (I checked his Wikipedia page).Hidup seorang Polanski sendiri layak dan worth it diangkat ke dalam sebuah film, tapi apa yang dialaminya tak menjadi inspirasi untuknya untuk mengangkat sesuatu yang berat. Ia kembali melakukan isolasi ringan pada karakter filmnya, kembali membuktikan bahwa dalam sebuah peristiwa yang dikatakan sederhana, seseorang bisa berubah (atau mengungkap sesuatu yang tadinya laten di dalam diri).

Venus in Fur menyeret kita dari luar kota Paris memasuki teater kosong tanpa penghuni, kecuali Thomas (Mathieu Amalric) – penulis, sutradara, yang telah frustasi paska audisi untuk pemeran utama wanita. Talking about bad day, apa yang dialami Thomas belum ada apa-apanya dengan Vanda (Emmanuele Seigner) yang menembus hujan badai petir untuk datang ke audisi tersebut, dengan terlambat. Vanda, entah aware atau mengesampingkan frustasi Thomas, meminta sang sutradara untuk mengaudisinya. Dengan sedikit trik psikologi, Vanda pun berhasil menyeret Thomas dari daun pintu dan membuktikan bahwa ia adalah “the one”.

A lot of stuff to catch up, Venus in Fur membawa kita ke ruang diskusi tentang buku dengan judul yang sama, dimana buku itu diterbitkan pada tahun 1800-an. Isinya : basically it’s 1800’s Fifty Shades of Grey, sesuatu yang relevan dengan Vanda – big boob, trashy, leather skirts, and stocking, all is wrapped up in what we call “provocative”. Dari buku inilah lahir play yang berusaha mengeksplor dua karakter utama dan satu-satunya ke dua arah sekaligus : menelanjangi & memberi layer lewat kostum. Diskusi semakin lebar, ketika Vanda mulai melakukan serangan, tak hanya pada buku yang ia sebut dengan “porno” juga dengan apa yang diangkat Thomas. Maka, bukan sebuah dosa jika kita merasa banyak hal yang telah “set” tapi belum banyak yang kita ketahui. Plus, it’s in fast paced full French banter.

Walau mengangkat buku yang mengangkat sisi masochism, film ini benar-benar tak menyiksa penontonnya. Gotta say, one of quickest 90 minutes, big thanks to Emmanuele Seigner, istri Polanski yang memang disiapkan film ini sebagai showcase-nya. Seigner menangkap sensualitas dengan badannya yang tak lagi muda, menambah Vanda sebagai karakter yang tidak hanya kuat, namun juga mampu memilikiauthority untuk mengambil alih kontrol dari tangan Thomas (she even controlled stage’s lighting). Dari aktris yang terlihat murahan (when I see her, I think the movie will end up in plastic covered couch), Vanda menunjukkan kalibernya dengan tidak hanya menghafal play tersebut dengan matang, tapi juga mampu dan mau mendiskusikannya dengan sang penulis.

Berbeda dengan Vanda yang total misterius, Thomas mulai satu persatu terbuka dan terkupas, terdapat ketergantungannya yang mulai meningkat dari kehadiran Vanda, sampai child abuse yang ia sampaikan dengan dramatis. The play is about him, Thomas said “there’s a lot of him in it”, and it’s Vanda’s task to transcribe it to the stage. Berawal dari issue female dominance yang berasal dari pembagian peran pria-wanita, sampai akhirnya diungkapkan sisi erotis dari Thomas yang mulai menunjukkan his feminim dominance (instead of his masculinity). For godsake, he’s the one who wears heels. Dari sinilah twist cerita mulai menunjukkan taringnya.

Smooth transition, Polanski benar-benar mendapatkan keuntungan dari banyak karakter yang harus diperankan hanya dua aktor, yaitu transisi. Thanks again, Seigner. Vanda dan Thomas bergerak dalam dua arah : melucuti pakaian mereka menunjukkan jati diri sebenarnya serta memakai kostum memperagakan karakter dalam play. Pada awalnya, penonton masih bisa membedakan dua sisi tersebut hingga akhirnya batas-batas diantaranya mulai blur. Sang aktor seperti kerasukan sementara penonton mulai dilanda ambiguitas. Ibarat menunjuk sebuah alter ego, Seigner berubah selepas, seluasa mungkin memanipulasi keadaan dengan kekuatan aktingnya. Disinilah, she’s the champion.

Pada akhirnya, material play membawa dan mengangkat sensualitas yang sering diartikan “salah” dalam industri hiburan menjadi sesuatu yang lain, dan skill Polanski berhasil mentransformasikan setting play yang terbatas menjadi sesuatu yang benar-benar bisa dinikmati sebagai sebuah film. Sisi negatifnya, dengan semua usaha yang telah dilakukan : acting, directing, sampai scoring oleh Desplat, diskusi dan penetrasi dalam film seketika berakhir saat credit roll. Penyebabnya, issue yang diangkat hanya personal untuk karakter didalamnya, mungkin untuk Polanski juga (at glance, Thomas is young Polanski), tapi tidak untuk kita yang menontonnya (B).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s