Willow Creek (2014), Exploring Wilderness of Found Footage, Nothing Found but Big Foot Shaped Big Burger

Director : Bobcat Goldthwait

Writer : Bobcat Goldthwait

Cast : Bryce JohnsonAlexie Gilmore

(REVIEW) Selepas ber-black comedy dan ber-satire ria lewat God Bless America (in some ways, it’s refreshing), Bobcat Goldthwait menentukan film berikutnya sebagai found footage, sebuah genre yang cukup lelah, dan Goldthwait mengolahnya dengan treatment yang sama.

Willow Creek, sebuah tempat/kota dimana legenda Big Foot berkembang. Tidak hanya sebagai legenda, makhluk mitos ini telah menjadi sebagian sisi tak terlepaskan dari masyarakat disana. Itulah yang membuat Jim (Bryce Johnson) dan Kelly (Alexis Gilmore) untuk mengunjunginya, dan berusaha membuktikan bahwa Big Foot bukanlah sekedar legenda.

Paruh pertama adalah yang bisa kita sebut “unnecessary part to be made” – if you see it in negative perspective AND “what made this movie as slow burning thriller” – if you see it in positive one. Tak ada yang bisa dihadirkan kecuali tahap introduction – perkenalan pada pasangan Jim – Kelly dan town tour, yang bebas dari sensasi thrillingLewat keluwesan pasangan ini berinteraksi, durasi awal film ini menunjukkan bagaimana Kelly harus terus menyeimbangkan sisi “mature”-nya dengan kegilaan Jim terhadap keberadaan Big Foot. Tentu saja, lewat sisi skeptiknya, yang membuat menarik (and somehow, makes it less annoying) adalah Kelly tak pernah memaksa pendapatnya untuk bisa diterima oleh Jim. Begitu juga dengan Jim bertindak dengan hal yang sama. Apa yang dilakukan Jim dan Kelly adalah naturally fun – fun – fun.

Pernah melihat Eden Lake yang dibintangi Michael Fassbender ? Yeah, film ini sedikit mengingatkan kita. Jika di Eden Lake, kota digambarkan sebagai komunitas dengan karakter ekstrem, Willow Creek lebih digambarkan sebagai mixed up community dengan sisi fanatik terhadap sosok Big Foot. Fanatisme tersebut tercermin pada atribut-atribut kota yang menjunjung Big Foot sebagai sosok hero : mural kota dengan sketsa Big Foot, patung-patung Big Foot, dan lain-lain. No wonder because Big Foot is main object that attract visitor to their tourism side. Ada juga beberapa interview pada sebagian penduduk meliputi ibu tua yang telah lama tinggal tapi tak percaya dengan Big Foot, fans no. 1 Big Foot, sampai seseorang yang sengaja menciptakan lagu tentang Big Foot (you know what I was thinking : “This movie should be a musical, Big Foot plus some musical numbers ? That is invention”). Termasuk juga, mereka menikmati burger dengan ukuran kaki Big Foot (literally) dan kertas pengumuman tentang missing person (typically). Apa yang dilakukan Bobcat Goldthwait sebenarnya cukup cerdas : memperlakukan Big Foot sebagai pure myth ketimbang menggiring penonton ke arah tertentu.

OKAY, FROM NOW ON, I’LL SEE IT IN POSITIVE WAY. Apa yang dilakukan Goldthwait di paruh pertama adalah upaya mempertahankan pure sense penonton untuk dibawa ke paruh kedua. Dan karena penonton belum terkontaminasi maka tak cukup sulit untuk membawa penonton ke arah suspense yang menaik-turunkan adrenalin. Dan, Goldthwait pun menunjukkan skill-nya disini : treatment minimalis yang akhirnya mendefinisikan film secara keseluruhan.

You have problem with shaky camera movement ? Goldthwait has solution. Apa yang disajikan di paruh kedua adalah memaksimalkan indera pendengaran sebagai materi teror utama. Pernah memiliki pengalaman berada di rumah sendiri dan setiap bunyi (pintu, bunyi air, jendela, suara burung) menjadi horor ? Nah, film ini jadi ajang reuninya. Setelah mendapat ancaman dari sebagian orang untuk meninggalkan Willow Creek, Jim dan Kelly malah memutuskan camping di tengah hutan, dekat sungai, dan disinilah teror dimulai. First rule if you’re camping in the middle of woods ? Don’t you dare proposing your girlfriend (you know what happened with Fassbender in Eden Lake, GET BURNED). Setelah ditolak lamarannya oleh Kelly (but they still had sex), mereka dibangunkan oleh suara-suara yang tidak hanya cukup misterius tapi cukup efektif untuk membuat merinding. I can’t put it into words, suara wanita menangis sampai suara Big Foot (maybe) yang semakin mendekat dan mendekat, memecah keheningan malam yang hanya diisi suara statis derasnya sungai di awang-awang. The best part of it : direkam kamera statis yang memusatkan ekspresi histeris dua karakternya, selama sekitar 20 menit tanpa putus. Yeah it’s fucking 20 minutes – single take, with no cuts (but pitch black, if you count it as a cut).

Goldthwait juga cukup bakat me-manage teror di daylight, dengan sense frustasi, desperate, dan kering. Kali ini, apa yang dibangun di paruh awal lewat pembangunan karakter Jim yang boyish, Kelly yang tenang, diputarbalikan dengan Jim yang bertindak tenang sementara Kelly terus histeris. Finally, it’s not forever, girl acts more mature than boy. Yang menjadi kekecewaan adalah ending yang terlalu cepat, terlalu mengakhiri film yang masih terjebak pada kebanyakan film pada genre yang sama (though there’s subtle twist too, but almost invisible to be noticed).

In the end, Willow Creek tak menawarkan hal baru (kecuali Big Foot Sized Burger) baik dari cerita atau pengolahan. Tapi, Willow Creek cukup terdefinisi dengan genuine suspense pada paruh kedua. Some people say slow burnt thriller found footage, I call it as “it could be one of V/H/S segments, and it’s still pretty decent (and shorter). Exploring wilderness of found footage, it fails, but still “caw-caw-raaar-caw-caw-raaar !!!!” (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s