Under The Skin (2014) : Johansson as Perfect Catalyst for “Bare It All – Digest It – Transform” – Process

Director : Jonathan Glazer

Writer : Walter CampbellMichel FaberJonathan Glazer

Cast : Scarlett JohanssonJeremy McWilliamsLynsey Taylor Mackay

(REVIEW) We don’t need explanation, we just need Scarlet Johansson. Beberapa film memang terlihat “malas” untuk memberikan penjelasan tentang apa yang sedang diceritakan. Tapi, hal itu tidak selamanya menjadi hal negatif, beberapa film justru hidup setelah credit roll berjalan. Dan, terbukti bahwa Scarlett Johansson merupakan katalis sempurna, merubah apa yang ingin disampaikan filmmaker menjadi sesuatu yang ditangkap penonton (disamping banyaknya deviasi interpretasi yang berkembang tentang film ini, but that’s the beauty of it).

Let’s say this movie is such research, maka akan terlihat tidak valid jika penduduk bumi meneliti penduduk bumi sendiri. Yep, earth is population, Scotland is sample, van picking is its methodology. Oleh karena itu, diperlukan external party (dalam hal ini alien) untuk melakukan observasi tersebut.

Alien mendarat di bumi (I assume) dengan image sophiscated, universe thingy, disertai dengan scoring menggetarkan dan memperkuat keberadaan frekuensi dari dunia lain. Suara aneh seorang wanita pun mulai melengkapi dengan mengeja huruf sampai akhirnya menjadi kata bulat, dan manifestasi alien ini sebagai manusia dimulai dari kornea mata (which seems like Mars landscape with its volcano crater).Dia adalah Scarlett Johansson (the best alien’s decision EVER to take her shape) yang melucuti pakaian seorang wanita dan mulai wondering dengan kehidupan pertama di bumi : seekor semut yang diclose upDari sinilah perjalanan alien ini dimulai.

Dengan lipstik merah dan mantel bulu, ia mulai berburu mangsanya dengan melakukan van picking kepada laki-laki yang ia jumpai di jalanan, terdapat sisi fleksibel di scene-scene ini, bagaimana si alien cantik berusaha melakukan penetrasi pertama dan menciptakan perbincangan cukup menarik disimak. Walau dalam wujud fisik Johansson, alien tak langsung mendapatkan korbannya dengan mudah. Ia seperti memiliki kriteria, tak semua laki-laki bisa ia jerat (trivia : some of these men aren’t actors). Dengan melakukan metode tak biasa, yaitu menaruh kamera di van dan membiarkan Johansson berinteraksi dengan pria Scotland tanpa tahu mereka sedang difilmkan, Jonathan Glazer – sang sutradara ibarat mendapat keragaman sample penduduk Scotland yang bervariasi. Observasi melucuti penduduk bumi dengan berbagai macam pakaian pun dimulai. Bare it all ! Bare it all !

Diangkat dari sebuah novel, dan membutuhkan waktu 10 tahun untuk mengangkatnya ke layar, Glazer tahu benar apa yang ia sajikan di layar. Salah satunya lewat moment tak terlupakan ketika Johansson menjebak korbannya dalam ruangan hitam tak berdinding, kelam tak terbatas, hanya dengan lantai glossy yang merefleksikan dua makhluk yang akan “bercinta”. This is remarkable scenes, dengan scoring yang betul-betul mengangkat atmosfer luar biasa sexy, alienating, sekaligus memiliki sisi berbau ritual. Mica Levi should win something for the score. Scenes ini seakan-akan menunjukkan bahwa manusia sepertinya kehilangan insting mereka terhadap bahaya ketika mulai tenggelam dengan nafsu dan keinginan mereka.

Walau telah men-digest seorang manusia, Johansson masihlah ignorant alien. Terciptalah haunting scene yang lain : penampakan Scotland yang terisolasi, dingin, dan it’s fucking nowhere, berpadu dengan ekspresi dingin Johansson untuk meninggalkan bayi di sebuah pantai demi memilih korbannya yang lain. Lewat siaran berita dari radio tentang bayi inilah sisi humanity dari Johansson sebagai alien mulai diuji.

Kental dengan sisi arthouse-nya tak membuat Under The Skin terlalu mengalienasi diri sebagai tontonan yang terlalu segmented. Cerita “preying alien” sendiri sudah bisa menopang film jika penonton “malas” menangkap message dengan berpikir pasca menonton. Tentu saja, tak terlepas dari performance Scarlett Johansson yang merupakan salah satu penampilan terbaik di karirnya. Tantangan terbesar mantan istri Ryan Reynolds ini bukanlah sebagai makhluk sexy penggoda, tapi bagaimana ia menerjemahkan silent moment yang mendominasi durasi cukup diacungi jempol. Tanpa bantuan cast yang lain, Johansson mempertahankan film hanya dengan gesture, ekspresi dan personanya sebagai the most sexiest woman on earth. Her performance is just like star constellation in the middle of darkest sky : silent, beautiful, complex and mysterious.

Kemampuan Glazer menghadirkan cerita yang mudah diikuti, tapi dengan balutan arthouse, memang bisa memuaskan penonton dengan selera mainstream atau sebaliknya. Berbalik layaknya boomerang, misi film dalam menyampaikan pesan pun menjadi kabur. Di titik tertentu, Under The Skin mulai terasa menjemukan, diisi dengan mangsa satu dengan mangsa yang lain. Disinilah, cerita mulai berbalik, dari lingkungan eksternal sang alien berpindah ke sisi yang lebih personal dan internal. She transforms herself.

Saat bertemu dengan korban yang lain : seorang laki-laki 26 tahun dengan cacat wajah, Johansson menemukan sesuatu yang lain. Walau selalu terlibat dalam pengalaman erotis dengan para korbannya, Johansson tak pernah membiarkan mereka menyentuhnya (she even didn’t undress her bra or panties). Seakan-akan berbagi mutual condition : untouched, being alienated in different ways, pengalaman Johansson dengan pria cacat ini membawanya ke petualangan yang lain.

Pada akhirnya, Under The Skin memberikan gambaran tentang society pada awalnya, kemudian mengembalikannya ke sang pengamat, yang secara tidak langsung memberikan comparison chart : human versus alien. Final act dari Under The Skin tidak ubahnya perjalananself crisis, self obsession dari Johansson yang juga membawa gambaran lebih kompleks mulai dari “Who’s the beast ?” sampai “What kind of woman I am, beneath this make up ?”.

Under The Skin meronta untuk dilihat lebih dari sekali, terlalu banyak sisi yang belum ter-revealed di setiap scene-nya. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Grazer ? About society ? About woman in the middle of it ? How about humanity ? Some movies are better ended up in question mark.

P.S. If it’s Johansson ? Repeat. If it’s Johansson ? I am okay if there’s alien invasion. Goddamn you, Ryan Reynolds. (A-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s