Tracks (2014), Camel Girl – Such Beauty Goes Into The Wild, Blurred Motives in Fata Morgana

Director : John Curran

Writer : Marion NelsonRobyn Davidson

Cast : Mia WasikowskaAdam DriverEmma Booth

(REVIEW) Alice got another journey, with no mad hatter, red queen, or jabberwocky. Menyenangkan melihat karir seorang Mia Wasikowska, setelah diangkat dari antah berantah dengan film berpendapatan lebih dari 1 milyar dolar, Wasikowska banyak membintangi film yang bisa dikatakan “festival friendly”. Tahun ini saja ia sudah membintangi tiga film dengan respon cukup positif : The Double & Only Lovers Left Alive, dan Tracks adalah tunggangannya sebagai leading lady (setelah dua peran leading lady yang ter-underrated sebelumnya : Stoker dan Jane Eyre).

Diangkat dari novel bestseller, Tracks merupakan pengalaman nyata dari seorang perempuan – Robyn Davidson, yang melintasi Alice Spring ke Samudera Hindia (it’s a lot of miles), jalan kaki, di tahun 1977, all desert. Kembali ke negara asalnya, Wasikowska akan menempuh setengah benua Australia, ditemani dengan tiga unta, satu bayi unta, dan seekor anjing bernama Diggity.

Camel trips do not begin or end, they merely change form.” Quote dari Robyn Davidson sendiri. Mungkin jika kita membaca bukunya, atau menulis bukunya, atau mengalami sendiri perjalanannya, hal ini bisa dirasakan. Tapi, jika melihat dengan tolak ukur quote tersebut, Tracks gagal menempatkannya di permukaan. Dan, mau tidak mau penonton harus menyelam lebih dalam. Robyn Davidson (Mia Wasikowska) di awal, adalah nyaris sama dengan dirinya di akhir. Ia datang ke Alice Spring tak berbekal apa-apa, masuk ke dalam sebuah bar, meminta pekerjaan dan mengatakan ia akan melakukan perjalanan gila tersebut hanya karena kehidupan kota yang membosankan dan repetitif (if that’s the reason, maybe she needs something what we called “holiday”.) Motif yang sedikit blur menjadi penyebabnya, Davidson datang dalam fine shape, serasa tanpa masalah, dan sekarang ia mencari masalah. If there’s no something wrong, why we need to ask “What’s wrong ?”. Satu-satunya pertanyaan terbesar hanyalah “Siapakah Robyn Davidson dan apa yang telah ia alami ?”

Dan benar, Tracks bukanlah film tentang perjalanan yang menginspirasi ke luar, ke penonton (kecuali membuat kita berkeinginan travelling), tapi lebih menunjukkan pemberitahuan kepada penonton siapakah Robyn Davidson sebenarnya (actually it’s pretty selfish, I want an inspiring biography, not just “a biography”, get it ?”)

Good news : Wasikowska durability, berawal tak berbekal apa-apa, sampai mendapatkan untanya, merupakan perjalanan panjang Davidson yang diperankan oleh Wasikowska. Ia akting lurus ( kebanyakan berhadapan dengan unta) ~ tak memandang sinar matahari, anggapan orang, atau keraguan dirinya, dengan penampilan meyakinkan di samping ia berjalan di lapisan es tipis background info Davidson yang masih disembunyikan. Stubborn sudah menjadi hal yang familiar untuk Wasikowska ; Alice keras kepala, Stoker keras kepala, Eva keras kepala, etc, Davidson juga keras kepala dengan apa yang disebut “impossible”. Ia tak keberatan hidup terlunta-lunta, hidup jauh dari keluarga, tinggal di reruntuhan sebuah rumah hanya untuk mencapai keinginannya.

Mulailah durasi berjalan, diselipkan pula kilas balik dari masa kecilnya, flashback yang tidak efektif tapi cukup penting dalam tujuan film. Disinilah kesalahan yang lain : flashback tak meninggalkan kesan. Memiliki masa lalu yang menyedihkan, harusnya sisi ini lebih diolah, bukan diperlakukan dengan treatment “I barely remember”.

It’s confused suicide trial, actually. Davidson sadar benar dengan konsekuensi tindakan “Into The Wild” ini. Kemungkinan terburuk : mati. Tapi, apa yang Davidson lakukan adalah tindakan anti sosial menolak segala bantuan orang-orang di sekitarnya : senjata, radio, sampai menolak bantuan teman jurnalisnya. Sadar misinya tak akan tercapai, ia pun akhirnya menuliskan surat sponsor untuk National Geographic,and she got it, dengan syarat seorang photografer meliputnya, Rick Smolan (Adam Driver). Mulailah Tracks mengembangkan character introduction-nya (not character development), terlihat Davidson adalah gadis yang merasa sudah tak memiliki apa-apa, nothing to lose with possesion issue (terutama setelah kematian ibunya) dan ia ingin hilang di tengah gurun, sendiri, left everything behind, tapi karakter Smolan selalu meng-interfere dan menariknya ke kenyataan (including sex).

The survival doesn’t come from harsh environnment. Dikatakan film tentang survival, Davidson cenderung terlalu resourceful : Smolan yang selalu memantaunya, suku aborijin yang selalu welcome, empat unta yang membawa bekalnya, sampai kehadiran turis yang menurunkan sense of danger. Bahkan adegan dehidrasi pun tak terlalu di-push terlalu jauh. Lagi-lagi, setiap adegan hanya menunjukkan issue yang dimiliki Davidson : saat ia kehilangan kompas, saat ia mencambuk untanya sambil berkata “Don’t you ever leave me again !”, sampai keracunan makanan.

Dengan pemandangan menakjubkan, gurun yang terkesan sama tapi diolah dengan sinematografi memukau, ditambah penampilan aktris utamanya yang semakin menguat dan tak menguap, Tracks masih bisa dikatakan sebagai drama indah tentang confused woman’s self re-invention and refreshment with the happiness measured by dog possesion, tentu saja dengan kekurangan sisi psikologis. In that kind of heat, fuck that psychological side (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s