They Came Together (2014), Smart but Lazy Recreation of “What’s Wrong with Formulaic Corny Romantic Comedy ?”

Director : David Wain

Writer : Michael ShowalterDavid Wain

Cast : Paul RuddAmy PoehlerBill HaderCobie SmuldersEllie KemperMelanie LynskeyEd Helms

(REVIEW) This is what happen if handsome leading lady paired with beautiful leading man, extravagantly corny, and that’s worse than “usually corny”. Corny-ness, hal yang akan diangkat dalam film ini. Personal notes : selalu kagum dengan film yang mampu meng-mock film lain, ataupun mereferensikan ke film lain. It needs intelligence but not with this movie.

Corny – formulaic, semacam guilty pleasure untuk kita menonton film seperti ini untuk menghabiskan minggu sore di rumah (if it’s raining outside). Corny – formulaic bahkan sudah tak menjadi downside jika kita memang ingin melihat corny Julia Roberts, formulaic Sandra Bullock, they keep shining, anyway. Blueprint “hate at the first sight – meeting – meeting – finally falling in love – a lil bit conflict – temporarily separation – heart changing – and last scene that needs train station, airport or church” inilah yang menjadi sumber inspirasi They Came Together untuk menjadi rom-com yang berbeda, I appreciate that effort.

Joel (Paul Rudd) dan Molly (Amy Poehler) memulai cerita mereka dengan aerial shot pemandangan kota New York dengan skycrappernya (first rule of corny movie : checked). Joel adalah karyawan dari mega korporasi CSR – perusahaan permen raksasa, yang memiliki comitment issue dengan pacarnya, Tiffany (Cobie Smoulder), sedang di sisi kota lain, newlybreakup Molly sedang berkonsentrasi dengan toko permen kecilnya. And you know what happen next : Tom Hanks – Meg Ryan’s You’ve Got Mail.

Film ini mendaulat dua comic talent-nya untuk mengeksploitasi ke-corny-an film sebelumnya. Hal yang sah-sah saja, bahkan cenderung entertaining pada awalnya tapi berubah menjengkelkan dan semakin “absurd” ke belakangnya. Amy Poehler – dua tahun host Golden Globe berturut-turut, merupakan talent yang tepat untuk materi seperti ini. Menyenangkan ketika melihat Poehler benar-benar well aware dengan keberadaan kamera, dengan comical timingnya mengucapkan sisi meta dari film ini. Begitu juga dengan Paul Rudd, generasi pelawak Judd Apatow dengan unthreatening handsome-nessnya ini juga sudah makan asam garam di sepanjang karirnya di dunia komedi,so what went wrong ? Baik Molly dan Joel diperlakukan seperti artis SNL yang menjalani scene demi scene tanpa continuity yang dialami karakter selama 80 menit. Scene demi scene hanyalah segmen satu beralih ke segmen yang lain tanpa adanya satu benang merah cerita yang paling tidak konsisten untuk diikuti. Dari sinilah, dua bakat komedi ini benar-benar terbuang. They are compressed by their own comics and satire. Berbicara tentang wasted talent, supporting cast hanya diperlakukan seperti cameo, di acara tv, sounds bad, huh ?!?! Ed Helms, Melanie Lynskie, Cobie Smoulder – all goes blurp ! Satu-satunya penampilan yang bisa dinikmati hanyalah duet Ellie Kemper dan Bill Hader yang secara konsisten menghibur.

It’s okay to be metafilm teranyar dengan treatment yang hampir sama – 22 Jump Street yang bahkan mengambil storyline hampir sama dengan pendahulunya bahkan masih solid menghantarkan benang merah cerita utama sedangkan sisi metanya digunakan sebagai asesorisnya. Tapi tidak dengan They Came Together, meta-meta-meta-meta-self aware-self aware-self aware yang dicompile menjadi satu cerita, dan tak ada keseriusan untuk membangunnya.

It’s not okay to have one kind of jokes for the whole movie. Yep, The Lego Movie dengan one liner-nya yang semakin mulai terprediksi arah jokesnya, menjadi bukan sebuah kejutan. Begitu pula dengan They Came Together menerapkan mocking jokes-nya ini di sepanjang film tanpa variasi. Hasilnya, repetisi-repetisi-repetisi, dan terbukti melelahkan, sangat melelahkan.

Movie that refuses to be serious, even in comedy scaleContoh baiknya adalah Anchorman, dengan loose structure scriptnya kita akan sibuk terbahak-bahak tanpa memperhatikan logika film. Disini, They Came Together hanya setengah-setengah memperlakukan hal ini, mulai dari seseorang yang hampir jatuh dari gedung, Charlie’s Angels’ mask opening, sampai moment-moment insolent yang cenderung awkward ketimbang lucu seperti horny MILF, atau horny granny (dimainkan oleh Lynn Cohen). Respect adalah hal yang dihilangkan dalam film ini dengan outcome yang tak begitu baik.

Just mocking, but no better solution. Perumpamaan yang tepat untuk They Came Together adalah “jatuh pada lubang yang sama”. Film ini tak berusaha menghadirkan alternatif lain / alternatif twist secara cerdas. Hanya melakukan copycat scene per scene film sebelumnya dengan raunchy, R-rated jokes yang kadang hit and miss. They Came Together hanyalah replika film serupa, tanpa improvement berarti.Hal yang paling buruk : movie is ended by scheduled routine last kiss (last rule of corny movie : checked).

In the end, They Come Together adalah tesis dengan rumusan masalah, analisis masalah yang jago, begitu detail membedah corny movie, tapi tak memberikan kompensasi pemecahan masalah yang berarti. They Come Together, such unselfish title, but it goes into another direction, makes it as movie with a bunch of people who are well aware with camera existence (C+).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s