Ida (2014), Sinful Thoughts, If You Don’t Question It, How Could You Believe It ?

Director : Pawel Pawlikowski

Writer : Pawel Pawlikowski, Rebecca Lenkiewicz

Cast : Agata Kulesza, Agata Trzebuchowska, Dawid Ogrodnik

(REVIEW) What’s bleaker than Poland, in 1960’s, postwar, in black and white ? Yep ! Dan itulah setting dalam film Ida, a journey of faith – past, present and future. Ida menjadi salah satu film yang tidak hanya menggunakan visual monokromatik dengan alasan beauty-cinematography, tapi juga beralasan kuat mengapa hitam putih krusial untuk dihadirkan dalam film ini. Like a metaphor.

Tak ada yang bisa mengganggu konsep “God is everywhere” dalam hati seorang Anna (Agata Trzebuchowska) – biarawati muda, yatim piatu, yang menghabiskan 18 tahun hidupnya di dalam gereja. Ia menikmati segala rutinitas dalam gereja, dan siap mengucapkan sumpahnya kepada Tuhan dan gereja dalam beberapa hari lagi. Hingga akhirnya biarawati senior memanggilnya ke dalam sebuah ruangan dan menyuruhnya untuk menemui satu-satunya anggota keluarganya yang masih hidup, yang belum pernah ia temui.

Polandia, dengan masa lalu kelam yang melibatkan Nazi, Jews, dan komunisnya merupakan “lahan pembantaian” yang sempat menjadi “godless land” dan walau sudah berlalu beberapa tahun, Polandia tetaplah reruntuhan perang yang masih meninggalkan misteri yang tak pernah terungkap. Inilah tanah yang harus diinjak Anna saat keluar gereja dan menemui bibinya, Wanda (Agata Kulesza). Masuk dalam apartemen kecilnya, Wanda adalah versi ekstrem kutub yang berlawanan dari Anna, mundane, peminum alkohol, perokok, dengan seorang laki-laki sisa dari malam sebelumnya. Dalam ketenangannya, hal tersebut tak terlihat mengganggu Anna dengan misi “just meet and go“-nya, hingga Wanda melontarkan pertanyaan “Are you a Jew nun now ?”– pertanyaan yang mengubah Anna dalam seketika : yeah, ia seorang Jew dengan nama Ida (now that titular title answered).

Apa yang dilakukan sang sutradara Pawlikowski seperti meng-capture sejarah kelam tanah kelahirannya, merubahnya menjadi “still” dan menge-framenya dalam bingkai pigura lewat aspek ratio dan kamera yang terkadang dibiarkan saja tidak bergerak serta tanpa scoring dibelakangnya. Kemudian, frame-frame ini diisi dengan penampakan alam Polandia yang luar biasa “naturally beautifully tragic” dimana pesona graveyard tidak hanya dihadirkan lewat keberadaan nisan, tapi penampakan keseluruhan. Jati diri Anna yang sekarang berubah menjadi Ida, mendorongnya untuk mengetahui lebih dalam masa lalunya. Perjalanan untuk mengetahui sosok orang tuanya pun menjadi tak terelakkan.

Road trip ? Believer versus unbeliever in one car ? Ring a bell ? Yeah, tahun lalu kita memiliki Philomena diisi Judi Dench yang taat bersanding Steve Coogan yang atheis. Berbeda dengan Philomena, road trip yang dilakukan Ida-Wanda jauh lebih bleak, dark, dan sama sekali tak memusatkan tujuan perjalanan ketika Wanda mengatakan orang tua Ida telah mati, hanya saja tak pernah diketahui makam mereka. Hal ini membuat perjalanan mereka sesungguhnya bukanlah fisik road trip itu sendiri, melainkan interaksi keduannya yang mulai berubah menjadi karakter hitam versus putih : Ida, the God’s servant, dengan wajah murni, dengan mata hitamnya versus Wanda, basically she did the God’s work, ketika ia mengungkapkan bahwa ia seorang judge yang juga bertanggung jawab membuat keputusan eksekusi sejumlah orang.

Journey of faith, ketahanan keduanya dengan “keyakinan”-nya masing-masing inilah yang membuat film ini memiliki efek powerful setiap orang yang menontonnya. If you don’t question it, how far you will believe it. Ida dengan semua dunia barunya kemudian semakin tertantang ketika seorang hitchhiker menumpang di mobil mereka, pemain saxophone (Dawid Ogrodnik) yang seakan-akan men-seduce Ida dengan cara yang begitu pasif dan halus, Ogrodnik merupakan representasi dari “carnal question” dalam diri Ida.

Tarik ulur keduanya dengan pertanyaan yang dilontarkan satu sama lain antara Ida dan Wanda : kehidupan duniawian Wanda, dan ketaatan Ida yang mengusik dunia yang selama ini mereka ketahui. Representasi kedua karakter ini bahkan tercermin pada casting Agata Trzebuchowska yang merupakan first timer actress (someone found her in a cafe and made her take an audition) dan Agata Kulesza yang telah dahulu lebih mapan. Walau judul film hanya mendaulat satu nama saja, film ini sebenarnya mengambil cerita dari dua karakter sekaligus. Wanda bukanlah supporting character yang hanya mendukung cerita pemain utamanya. Wanda, karakter kuat yang tak segan menggebrak pintu, mengancam orang-orang di sekitarnya dengan penampilan fisik yang masih elegan walau terdapat sisi slutty di dalam dirinya. Wanda, character who knows vicious world. Berbeda dengan penampilan strong dari Agata Kulesza, Agata Trzebuchowska menghadirkan banyak diam, dengan ekspresi yang datar, thoughtful silent, yang mampu mengimbangi Kulesza dengan caranya sendiri, salah satunya dengan penampakan fisik malaikatnya yang semakin menonjol dalam kesederhanaan visual hitam putih.

The past attacks, ketika direveal apa yang terjadi dengan orang tuanya (and some surprises : kind of Sophie’s Choice extended version), cerita pun bercabang menjadi dua, journey of faith works in both characters. Baik Wanda dan Ida mengalami awakening keimanan di dalam diri mereka. Beberapa transformasi ini tidak begitu dipertunjukkan alasannya, dan juga sang filmmaker pun tak berusaha menyuapi jawabannya. Left unsaid, negatifnya transformasi ini terasa ter-simplified tapi dalam waktu yang bersamaan juga membuat film terasa begitu dinamik di nature-nya yang terkesan tenang, and that is the sensation, the experience.

Ida menyampaikan deep messagenya dengan memberikan arti dalam setiap elemennya, dengan cara yang tidak pretentious, memberikan dua sisi berlawanan dikemas dalam package yang halus, serta tanpa melupakan bahwa penonton membutuhkan hiburan yang mengalir (unfrustating way). One of the best this year. Answer your carnal questions, not hide them. (A-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s