Calvary (2014), Huge Sense of Detachment, Survey and Sermon from The Priest Who Pays the Price

Director : John Michael McDonagh

Writer : John Michael McDonagh

Cast : Brendan GleesonChris O’DowdKelly Reilly

(REVIEW) Opening line (which I grabbed my instant attention) : I first tasted semen when I was seven years old. Calvary digadang sebagai salah satu film Irlandia terbaik, bahkan beberapa menyebutnya sebagai masterpiece.

Paling tidak sekali, kita pernah mendengar kasus criminal bagaimana seorang pendeta (atau ahli agama yang lain dalam hal ini) melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap seseorang. Yeah, kasus seperti ini memberikan satu titik nila dalam satu belanga susu, tak terelakan untuk mendapatkan perhatian. Calvary berangkat dari titik yang sama. Suatu hari, di satu minggu, seperti biasanya seorang pendeta – Father James (Brendan Gleeson), duduk di sebuah bilik, di dalam kegelapan ia menunggu pengakuan dari seseorang di bilik di sampingnya.

“I tasted semen when I was seven years old, nothing to say ?”, mysterious man said.

“It’s certainly a startling opening.”, Father James answered.

Sebuah awal yang menjanjikan, I like this kind of script, sebuah screenplay yang menyadari dirinya adalah sebuah screenplay. Dialog dilanjutkan dengan mengatakan bahwa pria misterius tersebut merupakan korban pelecehan seksual dari seorang pendeta pedofil yang telah mati, dan kini Father James harus menanggung akibatnya. Sang pria misterius mengancam akan membunuh Father James dalam tujuh hari ke depan, bukan karena Father James merupakan seorang pendeta yang buruk, melainkan sebaliknya. Membunuh seorang pendeta yang baik, dan tak bersalah, itu akan menjadi sesuatu yang sensasional, itulah yang menjadi dalih sang pria misterius.

Who’s this mysterious lunatic guy ? Seperti memberikan janjinya yang lain, mungkin film ini akan berjalan seperti film detektif, dengan Father James sebagai pemeran utamanya, mengobrak-abrik seluruh pedesaan Irlandia untuk mencari tersangka utamanya. Namun tidak, first lesson : do not give “the mysterious suspect” role to actor with specific accent.Untuk beberapa moviegoer yang telah akrab dengan beberapa anggota cast film Calvary, tentu langsung dapat mengenali dan menunjuk hidung sang pelaku pengancaman, walau sang actor juga masih mencoba meredam suaranya untuk menyembunyikan suaranya. Seiring dengan berjalannya durasi, sisi ini sepertinya memang disengaja oleh filmmaker, karena Calvary memang tidak berjalan kearah film ke-detektif-detektifan, “Who’s the suspect ?”

Ketika Father James mengatakan bahwa ia sudah mengetahui personal tersangkanya, dan tugasnya adalah melakukan detachment apa yang ia dengarkan di bilik tersebut dengan kehidupan personalnya, ancaman ini menjadi sesuatu yang tidak lagi bermasalah, dan film pun berjalan kearah yang berbeda, a little bit of survey.

Sense of detachment merupakan salah satu hal yang diangkat dalam film ini, sedikit banyak lewat pengalihan issue ketika Father James melakukan sedikit dialog untuk menyelesaikan beberapa masalah di dalam desa kecilnya. Ia berdialog dengan seorang pencuci pakaian yang mengalami KDRT, dengan seorang tukang daging rasis, dengan seorang montir yang keras kepala, dengan seorang gigolo, dengan sorang penulis yang sudah tua, dengan seorang dokter atheis, sampai seorang tersangka kanibal pembunuh (played by his ginger son : Domnhall Gleeson). Tentu saja menjadi hal yang sangat menarik, ketika setiap dialog ini ditulis dengan sangat tajam, bertebaran dengan black comedy (smart, yes, funny ? I guess no.), tapi dalam waktu yang bersamaan penonton juga dibuat bertanya-tanya “What’s the point of all this talking ?), terutama ketika film lebih mirip sebagai scrambled eggs dengan bentuk yang tidak jelas akan dibawa kemana. Di sisi lain, dialog-dialog ini memberikan gradasi yang cukup berwarna untuk keseluruhan film. What a movie with such vivid characters, are they Biblical ? I do not know. Ketika Father James mencampuri urusan semua anggota desa, satu-satunya yang sedikit beralasan adalah hadirnya anak perempuan Father James – Fiona (Kelly Reilly) yang juga bermasalah : recently suicidal. Ditambah dengan karakter Father James yang mulai diungkap bahwa ia seorang mantan alkoholik yang pernah memiliki rumah tangga yang bermasalah dan sempat meninggalkan Fiona.

Jika semuanya dikembalikan dengan issue utama film : pengancaman pembunuhan. Cavalry merupakan film yang mencoba menceritakan seorang pendeta yang harus menghadapi uncertainty di sebuah bingkai kepastian percobaan pembunuhan, dialog-dialog dengan penduduk desa semakin mencampurinya yang membuatnya memiliki crisis of faith (cannibal who said he became God by killing, or atheist doctor who has to kill for a living), dan apakah ia akan meninggalkan masalah dengan cara yang mudah ? Let’s say the problem is solved if he take a plane to Dublin, just that’s it.

Father James sendiri diperankan dengan kharismatik (something that I admired), dengan manusiawi oleh sang leading actor. Terdapat rasa detachment, compassion di setiap dialog dengan lawan mainnya, terdapat pertanyaan setiap kali ia nanar melihat lautan, dan terdapat rasa insecurity ketika ia tahu kematian akan menjemputnya. Tapi disamping semua virtue seriusnya, Father James tak mengeyampingkan sisi humanisnya : ia memiliki mobil sport merah, ia memiliki seekor anjing, ia berdansa, ia masuk ke dalam bar untuk berdialog, namun di waktu yang bersamaan, kita bisa melihat sebuah fragile principal dalam dirinya.

Bisa dikatakan Calvary, ya, sebuah kombinasi drama relijius yang diselipkan banyak dark comedy, cerita detektif, dan sejumlah tragedy. Dikaitkan dengan judulnya Calvary – bukit dimana Jesus disalib, Father James memberikan gambaran kecil bagaimana ia menanggung dosa dari pendeta sebelumnya, serta resiko ia tetap menemani jemaatnya. Okay, time to verdict, it didn’t work out, for me, Calvary is just small survey of rural Ireland with main issue that really doesn’t matter anymore. (C+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s