Mood Indigo (2014), Overwhelming Results, Gondry’s Ombre of Bitter Sweet Fantasy Love Story

Director : Michel Gondry

Writer : Michel GondryLuc Bossi

Cast : Romain DurisAudrey TautouOmar Sy

(REVIEW) For me, Spike Jonze, Charlie Kaufman, Michel Gondry, they are all same species. Setiap karya mereka sepertinya layak ditunggu, dan beberapa karya mereka membuktikan mereka ibarat “scientist” yang mampu bekerja di kanvas mediocre, menciptakanremarkable invention. Dan berbicara Michel Gondry sendiri, pasti tidak akan lepas dengan romcom hits, projek kolaborasinya dengan si jenius Charlie Kaufman, The Eternal Sunshine of Spotless Mind (a movie that can’t be moved from my all the time favorite movie list).Mood Indigo inilah yang menjadi projek back to track-nya setelah “sedikit” terantup oleh Green Hornet (uhm, panned by critics but I liked it).

Mood Indigo mengganti peran jenius Kaufman, dengan mengadaptasi novel cult Duke Elington yang diterbitkan di tahun 1930, dan sepertinya merupakan novel yang begitu “fantastical” terutama setelah melihat visualisasi dalam film ini. Colin (Romain Duris) – rich inventor, sehari-harinya hanya bermain kesana kemari dengan pelayan setianya, Nicholas (Omar Sy) di apartemen kecil warna-warninya. Ketika sahabat baiknya jatuh cinta, Colin pun menunjukkan sisi kepolosannya : ia juga ingin jatuh cinta. Keinginannya ini membawanya pada sebuah pesta dan mempertemukannya dengan Chloe (Audrey Toutou), gadis magical yang langsung merebut hatinya.

Ibarat kata The Eternal Sunshine of Spotless Mind adalah sehisapan ganja yang cukup membuat kita berimajinasi, Mood Indigo lebih seperti overdosed coccain injection. Lebih perlu komitmen yang lebih kuat dalam menonton film ini. Jika Eternal Sunshine menggunakan imajinasinya dengan kanvas kehidupan nyata yang sudah ada, Mood Indigo merupakan hasil fantasi, from scratch, memodifikasi semua benda menjadi hasil fantasi yang strange, dan overwhelming (in a very negative way).

Refreshing, yet displeasing to the eye, Gondry tak memberikan nafas untuk kita agar mampu mencerna, menerjemahkan dunia barunya. Gondry terlihat egois dengan tenggelam sendiri dengan visual, style-nya memperkenalkan hasil karyanya. Sebut saja list benda-benda aneh meliputi live action chef, belut yang keluar dari pipa, stop motion dishes, sepatu yang bergerak seperti tikus, sampai piano yang dapat membuat minuman merupakan sebagian benda berbau fantasi di durasi awal film ini. I mean he doesn’t need to put all this invention products to one colourful Ms. Power Point slide show, and explain it with “next, click, next, click” fast pacing.

Cerita mulai berarah dengan kehadiran Audrey Totou, paling tidak kehadirannya dengan Duris mampu mentransformasikan imajinasi tingkat tinggi ini menjadi moment-moment romantis, seperti saat mereka menaiki angsa/awan yang diangkat dengan crane dan mengelilingi kota, that’s just fucking romantic, atau saat pernikahan mereka, adegan cliche lari-larian menuju altar diganti dengan sebuah balap mobil, and that’s just fun.

Dan disinilah kepintaran Mood Indigo mulai bekerja, mediocre canvas : weary strong powerful love story with likeable leads, serasa dilukis ulang, tapi dengan imajinasi, set of production yang berbeda. Mixed weather digambarkan dengan split screen membagi layar menjadi dua : cerah dan cuaca hujan deras, merupakan salah satu treatment yang digunakan dalam film ini, menggerakkan nuansa film dari strange fantasy ke magical fantasy. Checkpoint cerita cinta klasik terlihat dengan metaphor saat Chloe terkena penyakit aneh karena lilypad tumbuh di dalam paru-parunya (let’s say it’s lung cancer, in our normal world, or tuberculosis in old days).

Penyakit Chloe ini cukup meredam keagresifan film di awal, dan cukup memperjelas misi film secara keseluruhan. Film ingin mempertunjukkan roller coaster cerita, lewat mood karakternya, kemudian diwujudkan dengan visual warnanya. Apa yang berusaha disampaikan Gondry adalah melipatgandakan, meng-hiperbolakan cerita, apa yang menyenangkan diubah menjadi fantastically pleasing,apa yang menyedihkan diubah menjadi fantastically depressing.

Ombre of life – love story, jujur paruh kedua lebih bisa dinikmati ketimbang paruh pertama. Duris semakin kokoh mengikuti arus, merubah karakternya menjadi lebih menyedihkan, sementara Toutou semakin berperan sebagai tameng yang kuat pada relationship yang terlihat tak meyakinkan pada awalnya, tapi yang terpenting adalah di paruh kedua, film ini berhasil menghidupkan judulnya, there’s word “mood” in it. Mood Indigo merefleksikan mood cerita dan penonton, menyenangkan dan menyedihkan, dan berhasil membuat smooth transition daricandy color visual ke black and white visual, dan jika kita tak menyadari transisi ini, sebenarnya kita cukup menikmati filmnya.

Mood Indigo memang tak sesempurna Eternal Sunshine, metode yang digunakan lebih kepada re-telling old story, ketimbang re-examining. Oleh karena itu, Mood Indigo tak se-powerful Eternal Sunshine dengan absen tak memberikan perspektif lain tentang relationship, tak juga membuat kita terbangun, “The relationship never true-er than this.”

Mood Indigo juga sedikit banyak terjebak pada visualisasi yang tak perlu, beberapa substory juga ter-undercooked dan malah mengalihkan perhatian utama cerita cinta Colin – Chloe. Andai saja, film sedikit meng-compress durasi 140 menitnya dengan membuang beberapa part, tentu saja Mood Indigo akan jauh lebih bisa dinikmati plus all things shouldn’t be in fantastical mode, right ?

Mood Indigo is welcomed comeback of Gondry, through its visual inventive achievement, it’s only middle success. Hit-miss exponential effect with overwhelming results, for good and bad (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s