Happy Christmas (2014), Joy to The Swanberg’s Mumblecore, Cast Did The Most Homeworks (including Screenplay)

Director : Joe Swanberg

Writer : Joe Swanberg

Cast : Anna KendrickMelanie LynskeyJoe SwanbergLena DunhamMark Webber

 Pre -review notes : Konon Swanberg hanya menyediakan outline untuk para aktor-aktrisnya.

(REVIEW) The baby should be nominated in Oscar, really. What a effortless performance. Happy Christmas merupakan projek mumblecore lanjutan setelah karya tersukses Joe Swanberg sebagai sutradara di Drinking Buddies. Bagaimana Swanberg mengarahkan film yang highly improvised itu cukup membuat Anna Kendrick menjadi kolaborator berkelanjutan mengambil peran utama di film ini. Selain Swanberg juga ibarat madu yang mulai dikelilingi selebriti terkenal saat ini (you should check his next project, middle A-list star studded).

Jenny (Anna Kendrick) – 27 tahun, baru putus dengan pacarnya pindah ke Chicago untuk tinggal bersama kakaknya, Jake (Joe Swanberg) yang tinggal bersama istri, Kelly (Melanie Lynskey) dan bayi berusia 2 tahun, Jude (played by Swanberg’s own son, and he’s scene stealer).

Disorot layaknya home video ditambah dengan nuansa natal, pohon natal, salju, memang membuat Happy Christmas terasa hangat untuk ditonton. Shot yang dibuat “murah” juga tak menjadi distraksi sehingga penonton mampu berkonsentrasi pada karakter, lebih merasakan spontanitas, konflik yang dibuat “kasar” dan tensi yang mengalir dibawahnya di setiap percakapan. Dirilis di Sundance, Happy Christmas adalah upaya Swanberg menunjukkan kematangannya dalam berkarya.

Konflik yang diangkat juga sederhana : home invasion. Senang Kendrick dapat selayaknya menjadi dirinya sendiri tanpa kehilangan karakter yang diperlukan dalam film. She’s cool girl who says “awesome” a lot, but she’s kind of annoying too. Dimulai dari kebiasaan tak membantu mencuci piring di malam pertama, kemudian mabuk berat (masih di malam pertama), Jenny berhasil membayang-bayangi kehidupan “normal” Jake dan istrinya. Ditambah dengan aksen bicara “I am good wife” dari Lynskey dan kepura-puraanya mengutarakan keinginannya, Happy Christmas menghadirkan tensi halus diantara karakternya.

Apa yang menarik adalah karakter-karakter ini semua mengandalkan ad-lib dari para aktornya, I mean, maybe in the paper, it’s just written like, “Jenny – 20 something, annoying, confuse, fragile, and Kelly – housewife – tiresome, fake, AND PLEASE ACTORS MAKE THEIR OWN DIALOGUE“, dan struktur yang loose inilah yang memang kekuatan dari film Swanberg untuk lebih mengalir pada dialog improvisasi yang harus secara indirect membentuk karakter yang lebih natural. Karakter dibentuk layaknya gundukan jam pasir, perlahan jatuh hingga akhirnya setiap butir pasir membukit, tidak serta merta lewat dialog-dialog instant tertulis.

Lewat improvisation based-nya inilah Happy Christmas seperti satu karya dengan satu level di bawah Drinking Buddies. Drinking Buddies walau memiliki nature yang sama tapi masih terkesan stabil (disamping visualnya yang lebih terlihat sebagai film dengan teknis, etc, etc), Happy Christmas sering tidak fokus, terlalu fragile, dan menghadirkan konflik yang kemudian di-blur di tengah.

Hilangnya konsentrasi ini datang dengan hadirnya karakter male babysitter and weed seller (what a combination), Kevin (Mark Webber) yang semakin dekat dengan Jenny (unnecessary romance), serta kedekatan Jenny dengan Kelly yang malah membuat resolusi masalah menjadi terkesan prematur. Dan kemudian muncul sub-masalah yang lain, Kelly bisa diibaratkan unsatisfied satisfying wife, karirnya sebagai penulis terhenti ketika ia memiliki bayi dan akhirnya membawa ke resolusi masalah prematur yang lainnya : Jake is pretty decent husband, he gave his whole office for his wife. Jake yang bekerja sebagai seorang filmmaker menyerahkan kantornya yang sedang tak digunakan kepada Kelly untuk menulis. Bagian ini membawa kita pada diskusi 3 wanita, Lena Dunham – Kendrick – Lynskey, membawa kita pada Behind The Scene : Fifty Shades of Grey, saat ketiganya mengobrol projek trashy novel yang dikerjakan Kelly. Paruh tengah adalah bagian lemah film ini, tak fokus, terdistraksi, dan lebih mengarah ke lingkungan luar rumah, ketimbang konflik dalam rumah tangga Jake, Kelly, plus baby, and another baby (uhm, I mean Jenny).

Ketidakfokusan inilah yang membuat Happy Christmas kurang bisa menyaingi Drinking Buddies dalam mengeksplor konfliknya, tidak jatuh pada cliche, dan menghadirkan kejutan dengan menyerang sisi cliche tersebut di akhirnya. Happy Christmas seakan-akan mengangkat konflik di awal, dan kemudian menenggelamkannya, kemudian mengeluarkannya lagi di akhir film. Tanpa memoles, tanpa mengeksplorasi.

Di sisi lain, in positive perspective, ketidakfokusan dari alur film dalam conflict management-nya merupakan bentuk penyelarasan visi film menghadirkan gambaran alami kehidupan rumah tangga kelas menengah dengan konflik sehari-hari yang dikontribusi oleh semua anggota keluarga (including the baby) dan merupakan sebuah film yang memberikan label “ideal” pada setiap anggota keluarganya : good daddy, tired mom, shitty reckless sister (in law), adorable smart baby.

Thanks to the cast, film ini masih worth it untuk ditonton karena menghadirkan karakter yang kuat sekaligus natural di dalamnya, ditambah dengan bayi bernama Jude Swanberg yang adorable, dan mewarisi bakat mumblecore dari ayahnya, Happy Christmas masih merupakan sajian yang hangat dan mengalir (B)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s