The Zero Theorem (2014) with Incredible Impossible Unsolved Equation, There’s No Easy Answer

Director : Terry Gilliam

Writer : Pat Rushin

Cast : Christoph WaltzMélanie ThierryDavid ThewlisMatt DamonTilda Swinton

(REVIEW) Two reasons you have to watch The Zero Theorem, number one : you’re a physician with existentialism issue, number two : you’re keen seeing Christoph Waltz under the funny costumes. Otherwise, it hurts.

What’s the meaning of life ?”, yeah, setinggi itulah pertanyaan yang dibawa The Zero Theorem di sepanjang filmnya. Sebuah pertanyaan sesulit menyelesaikan equation segalanya = kosong, nothing is everything. Pertanyaan yang mungkin juga pertanyaan seluruh penduduk bumi, entah siapapun kita, pekerjaan kita atau kondisi kita.

Tak terkecuali untuk Qohen Leth (Christoph Waltz), seorang programmer yang hidup di reruntuhan sebuah gereja, dan di dunia dystopian yang penuh warna. Sehari-harinya ia menunggu sebuah panggilan telepon (from God) untuk memberitahukan jawaban apa arti hidup sebenarnya. Dan disinilah masalahnya, yang juga masalah untuk kita semua. Di dunia baru dimana religion tak membantu lagi (there’s a lot of church with less credibility like Batman church), dan hingar bingar media termasuk digital billboard yang over aggresive melakukan marketingnya, Qohen terjebak pada dunia kerja cubicle-nya dimana efektivitas-efisiensi-efektivitas-efisiensi menjadi hal yang nomor satu. Dan dia masih menanyakan arti hidup ? Sementara ia hidup tepat di bawah tempurung. Inilah sebagian kecil satire yang coba diangkat oleh Terry Gilliam lewat dunia baru eksotisnya.

The Zero Theorem adalah salah satu film yang lebih asyik membahas issue di dalamnya, ketimbang melabeli dan menaruh ekspektasi film ini sebagai bagian dari entertainment. Sure, everybody loves funny comics with jokes in its cloud shaped dialogue, The Zero Theorem is more like abstract paintings. Tentu untuk fans Gilliams, film ini bukanlah kejutan melihat dari style yang diangkat, sedangkan untuk newbie (I’m talking about me), The Zero Theorem lebih menjadi perwujudan film dengan plot yang membingungkan, berjalan lambat, dengan visual yang membawa sensasi strange (not in good way). That’s why The Zero Theorem is niche product.

Dengan budgetnya yang tak selangit, The Zero Theorem menciptakan dunia baru lewat set produksi yang tak biasa, dengan hasil yang 50:50, impressing unimpressing. The Zero Theorem adalah film kedua di 2014 yang memiliki visual too overwhelming setelah Mood Indigo. Berbeda dengan Mood Indigo yang mentransformasikan semua benda ke dalam edisi futuristik, tentu The Zero Theorem mengaplikasikan perubahan lingkungan ini sebagai bagian sindiran dunia yang sekarang. Salah satunya lewat workplace yang digambarkan seperti suasana video game dimana para pekerjanya seakan terhipnotis di dalamnya, kind of a sarcasm for unhappy workaholic.

Okay, back to story, The Chosen One issue. Bekerja pada korporasi yang egois, dengan supervisor yang eksploitatif (David Thewlis), Cohen akhirnya mengajukan pada The Management (Matt Damon) yang begitu dituhankan untuk bekerja di rumah, dengan begitu ia tak akan melewatkan panggilan telepon dari Tuhan. His wish is granted, Management pun memberinya sebuah projek, The Zero Theorem-project, untuk Cohen selesaikan di rumah. Disinilah karakter Cohen berjalan memutar pedal plot, memberi misteri ke dalam cerita, sekaligus memberi issue “Is he the chosen one ? Is he special ?” (another common issue in our life : let be honest, for once at least, we ask God “Why us ? For this kind of life ?” Another existentialist problem.)

Masalah semakin berkembang, semakin depresif ketika misi untuk Cohen ini terlalu perfectionist di tangan Cohen yang tak sempurna. Project Zero Theorem digambarkan sebagai susunan Tetris dimana ketika Cohen salah menyusunnya, Tetris ini akan meledak, kemudian harus memulai dari awal lagi. Ketika keadaan semakin terpojok, datanglah seorang wanita, Bainsley (Melanie Thierry) dan anak laki-laki dari Management, Bob (Lucas Hedges) – kiriman dari management yang ditugaskan sebagai distraksi, atau malah akan memberi arti bagi hidup Qohen yang masih kosong.

The Zero Theorem sekali lagi dipenuhi dengan banyak issue yang terlalu abstrak dan filosofis yang terkadang membutuhkan loading process bagi penonton ketika hal tersebut dimetaforakan ke dalam set produksi, properti, dan bizzare activity. Hasilnya menyakitkan melihat sebuah film penuh makna namun dengan media yang membuat frustasi, karena setiap jengkal scene seakan membuat kita overloading.

Walaupun begitu selalu saja ada yang menarik untuk disimak, yep Christoph Waltz. Suddenly two oscars winning actor ini menghilangkan sisi devilishnya selama ini dan menggantinya menjadi karakter Qohen yang rumit. Ada sisi fear of death, loneliness (that’s why he always talks in plural form “we-us-our”), introvert, antisocial, disconnect from God, self isolated character dan sexuality. Menjadikan Qohen ini sebagai dying character terutama dengan penampilan botaknya yang membuatnya seperti penderita kanker stadium akhir. Walaupun begitu, Qohen selalu di-bending untuk lebih relevan merasuk ke dalam penonton. Oleh karena itu, Christoph Waltz memberikan performa maksimalnya, walau karakternya terlalu keluar dari spesies manusia normal.

Menjadi karakter yang lebih normal adalah Joby – the supervisor – David Thewlis menyuntikkan humor, bersamaan dengan parade kostum dari Tilda Swinton yang selalu menarik untuk disimak (she’s a doctor, and bald, and a rapper too). Tapi yang cukup mencuri perhatian adalah Melanie Thierry sebagai wanita penggoda dalam balutan squakey costume warna merah menyalanya. She’s just so cheeky and has the best cybersex website of all time.

Kembali lagi, dengan pertanyaan sebegitu tingginya, dengan kemungkinan jawaban sebesar void di angkasa sementara kita hanya sebagian elemen kecilnya, The Zero Theorem tak sebegitunya memberikan jawaban yang mudah, dan eksplisit (not even a chance). Oleh karena itu, The Zero Theorem lebih memberikan sebuah perjalanan dari Qohen, dengan atau tanpa jawaban untuk para penontonnya.Unlucky me, I am not PhD in this kind of thing, and it’s just not my cup of tea (now I am an asshole). (C)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s