Proxy (2014) – Something Wrong with Esther, Overtwisted but a Must See for Twists Lover

Director : Zack Parker

Writer : Zack ParkerKevin Donner

Cast :  Joe Swanberg, Alexa Havins, Kristina KlebeAlexia Rasmussen

(REVIEW) You don’t mess with pregnant woman, or ex-pregnant woman. Masih ingat film Inside ? Film home invasion yang menyajikan scene-scene bergidik yang levelnya berkali lipat karena melibatkan makhluk fragile bernama ibu hamil. Untuk yang pernah menontonnya, opening film ini pasti sedikit banyak mengingatkan.

Esther (Alexia Rassmunsen) sedang menantikan kehadiran buah hatinya yang akan segera lahir dalam dua minggu ke depan. Ia begitu tenang, sedikit menempatkan antusiasnya di bawah level, dan menjalani salah satu rutin yang pasti dilakukan ibu hamil : pemeriksaan USG. Tak ada yang bermasalah dengan kehamilannya. It’s a serene, beautiful day. Sampai akhirnya, sepulang dari pemeriksaan itu, ia diikuti seseorang, dihantam hingga pingsan, dan kegilaan sang misterius ini juga membawa beberapa hantaman batu bata di perutnya.

Brutal scene left high demands, menaikkan adrenalin penonton langsung di awal membuat film ini mendapat perhatian instant, sedang di sisi mata pisau yang lain, ekspektasi penonton pun meruncing naik. Dengan durasi waktu dua jam yang tersisa, penonton dibuat bertanyawhodunnit ? Tapi pertanyaan ini langsung dipatahkan dengan kehidupan Esther yang sendiri, tanpa siapapun. Pastinya tidak akan seru jika seseorang misterius itu hanya memiliki motif random. Film pun kemudian segera bergeser ke sisi psikologis Esther. Esther tak sepenuhnya menutup diri, ia mengikuti support group yang mempertemukannya dengan Melanie (Alexa Havins) – wanita yang langsung mendapat perhatiannya, wanita yang membawa sisi misterius sendiri, wanita yang “mungkin” sama dengan dirinya. Persahabatan keduannya inilah yang membawa suami Melanie (Joe Swanberg) dan satu-satunya sahabat Esther – Anika (Kristina Klebe) kedalam segi empat setan tentang motivasi kriminal, obsesi, dan rasa kehilangan.

Don’t you dare expect one kind of last minutes twist. Sulit untuk menceritakan film ini tanpa memberitahu twist di dalamnya. Karena apa ? Karena sepanjang durasi, awal-tengah-akhir, ditebar ranjau twist yang siap mengalihkan arah cerita. Beberapa twist berupacharacter revelation yang membuat film ini dengan lancar menggerakkan roda misterinya dengan dark mysterious characternya. Beberapa twist diletakkan ke tengah durasi langsung mengubah arah film 180 derajat, reminds me of Hitchcock, dan twist demi twist inilah yang membuat excited ditonton. Beberapa film memang menempatkan twistnya di akhir, seakan-akan menyiapkan fase preparasi untuk meng-handlenya, apalagi jika itu adalah twist yang besar. Waktu, adalah satu yang tak bisa diusahakan film ini. The twists, plural, are satisfying, but “how the movie handles twists itself” is something couldn’t be handled.

Characters are blurred as fuck. Empat karakter pilar diperlakukan seperti layar USG, kabur, tak nyata, dan hanya sang filmmaker saja yang mengetahui “jenis kelamin” mereka. Dua karakter diantaranya lebih seperti distraksi, di-stereotype yang bertugas membawa bahaya seakan nyata. Mengalihkan perhatian penonton, membuat kita lupa bahwa ada beberapa pisau yang siap menancap dari belakang. Kristina Klebe tampil apik standar dengan sisi loose canon-nya (she’s the main threat) sementara Joe Swanberg tampil serius sebagai Patrick – ayah yang baru kehilangan anaknya (he’s the second threat). Apa yang dialami Anika dan Patrick merupakan grief-driven actyang membawa mereka ke tindakan nekad yang masih masuk akal, motif mereka masih dimengerti, sementara apa yang dilakukan Esther dan Melanie lebih sesuatu pathological alam bawah sadar. Sehingga tak kaget jika penonton belum merasa terhubung dengan Esther dan Melanie.

Mystery and drama compete asking attention. Sandbagging cast and duration with movie’s ambition. Ada ambisi besar dalam film ini. Pertama, penuh twist dimana pastinya akan meminta pergeseran cerita dan karakter. Ketika satu aktor sudah menempatkan karakterisasinya, twist dihadirkan, karakter harus segera dibangun kembali. Hal ini mempengaruhi misi kedua dari film : drama dan misteri yang terbagi rata. Untuk genre misteri, film ini akan sangat menyenangkan (scale 1 to 10, i’ll give a 8), tak seimbang sisi psikologis yang dialami karakter dan menjembatani drama intens tak sepenuhnya dimengerti oleh penonton (scale 1 to 10, i’ll give a 5). Bukan salah pemerannya jika karakter mereka tak tersampaikan : limited screentime, strange unfriendly character, no make sense action and they are not Viola fucking Davis. Satu-satunya yang mendapat highlight hanya penampilan Rassmunsen yang memang diberikan “sarana”. Belum lagi durasi semakin draggy dengan teknis yang terkesan half-assed, beberapa slowmotion, close up air menetes sepertinya dirasa tak perlu, hanya menambah kesan rough tentang film yang terlalu ambisius (in negative way).

Splash of criminals, Proxy bisa dikatakan “tak tersampaikan” sebagai drama psikologis, juga melakukan oversimplified terhadap sisi investigasi sebuah drama kriminal. Namun, untuk penggila twist, film ini gudangnya dengan menghadirkan banyak belokan, kejutan dengan pergerakan karakter yang menggila. Namun, yang istimewa adalah bagaimana film ini serasa mem-breakdown empat karakternya menjadi empat sisi yang memberikan reaksi dan aksi berbeda terhadap sebuah kejadian kriminal dan mendefinisikan rasa berkabung dengan caranya masing-masing. May I say that the movie divided the characters into pure psycho, latent psycho, criminal by force, and criminal by intention of revenge.

Terlepas dari termakan oleh ambisinya sendiri, Proxy masih merupakan sebuah sajian misteri yang solid dengan ladang twist yang layak mendapatkan eksekusi yang lebih baik : maybe some simpler touch, steady tone, and concentrating to its characters as object of suspense, mystery genre. We don’t want a table with too much dishes while we only have two hands and a mouth, right ? (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s