Cold in July (2014), Well Framed Crime with Double Edged Dagger of Multiple Twist to Twist The Plot Sanity

Director : Jim Mickle

Writer : Jim Mickle, Nick Damici, Joe R. Lansdale

Cast :  Michael C. HallSam ShepardDon Johnson

(REVIEW) Texas, some cowboy’s hat, 80’s and Dexter kills again, it’s started and ended with a (questionable) bang ! Awal tahun ini kita memiliki film revenge-home invasion mumpuni seperti Blue Ruin yang mampu menyita perhatian dengan ketegangan dan black comedy dari drama balas dendam tanpa skill. Satu lagi yang menjanjikan adalah Cold in July, diangkat dari novel berjudul sama, dan berasal dari tangan “dingin” sutradara yang sebelumnya mengangkat tema kanibal dengan apik, We are What We Are.

Suatu malam, Richard (Michael C. Hall) dibangunkan istrinya (Vinessa Shaw) yang mendengar suara tak wajar di dalam rumahnya. Dengan segera ia mengisi peluru dalam pistolnya, mengendap-ngendap dalam rumahnya sendiri, sampai ia akhirnya berhadapan dengan seorang intruder bertopeng yang terlihat tidak mengancam (degree of danger : he doesn’t hold a gun). Sunyinya malam dengan kondisi tegang membuat keputusan tak sengaja diambil Richard : suara jam berdenting membuatnya menarik pelatuk dan melayangkan peluru tepat ke mata dan menembus kepala si intruder.

Dengan catatan history yang bebas dari tindakan kriminal dan self defense, satu kematian itu tak membuat Richard harus menghadapi permasalahan hukum yang pelik. Ia hanya harus menghadapi seluruh penduduk kota yang mulai memberikan lirikan “Damn, you’re hero.”, dirinya sendiri paska membunuh seseorang dan Russel (Sam Sheppard), ayah dari sang intruder yang baru saja keluar dari penjara.

Sound familiar ?

Paruh pertama merupakan well framed case  dengan Michael C. Hall menciptakan scene-scene nervous  yang didukung dengan pacing yang lambat, Cold in July tak berusaha menyederhanakan definisi “pembunuhan” dan efeknya bagi sang pelaku. Dapat terlihat pula perubahan dalam keluarga Richard dan keluarganya, dan hal ini sama sekali tak kalah menarik jika dibandingkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika cerita mulai settle dan menunjukkan indikasi yang menyenangkan sebagai revenge flick,  film pun merubah arah dan berusaha melewati area yang baru. Twist.

Ekspektasi awal Cold in July adalah membangun kekuatan, menarik minat penonton dengan menghadirkan perubahan cerita lewat twist, multiple. Lagi dan lagi, twist dalam sebuah film memang membawa pada dua hasil : menguntungkan dan merugikan. Dan dalam film ini, twist-twist ini termasuk berada di tengahnya. Diakui oleh sang filmmaker sendiri bahwa buku sumbernya tak didesign untuk difilmkan, dan ketika mencoba difilmkan, draft awal film sampai 200 lembar sementara dalam praktiknya Cold in July merupakan film yang pendiam dan banyak menggunakan gesture, mood sekitar untuk lebih mengungkapkan perasaan sang karakter. Disinilah karakter-karakter di film ini harus bekerja keras untuk membuat karakter meyakinkan di cerita yang bisa semena-mena berubah.

Cold in July merubah posisi setiap karakternya menjadi sang pemburu, yang diburu, teman, lawan, musuh dengan begitu cepatnya. Mencampurnya dengan tidak hanya satu tema dalam genre crime seperti revenge, tapi juga dengan banyak elemen seperti corruption, pornography, sadism, conspiracy dengan satu benang merah yang menjalar di sepanjang film : fatherhood. Maka tidak menjadi sebuah kejutan ketika sebuah film yang berusaha meraup banyak hal dalam satu waktu harus kehilangan detail yang penting dan mungkin dipertanyakan oleh penonton.

Spoiler !

Ketika kepolisian menggunakan Richard dan keluarganya sebagai umpan untuk menangkap Russel, Ray Price (Nick Damici) – kepala kepolisian, adalah karakter kunci yang berperan membuka dan menutup plot. Tapi seakan berjalannya plot yang mengupas twist, karakter penting ini serasa ditelan oleh bumi, dengan tujuan agar tokoh utama lebih berkonsentrasi dengan cerita baru mereka. Such a big plot hole.

Itu semua tak sebanding dengan plot hole berupa character development yang dialami oleh salah satu karakter.  Dia adalah karakter utama, Richard. Film dengan cepat memperlakukan Richard seperti outcast yang tidak perlu lagi melanjutkan sisa cerita. Hal ini kemudian diikuti dengan Richard yang malah mencoba terlalu ikut untuk masuk ke dalam cerita. Richard yang tadinya seorang family man yang merasa terganggu ketika anaknya mengatakan “Bang !  You’ re dead.” dan menolak untuk bangga dengan tindakan kriminalnya, secara perlahan mulai mengizinkan dirinya untuk masuk ke ranah yang lebih terorganisir dan bahaya.

Kedatangan Jim Bob (Don Johnson) sebagai karakter yang baru hadir di tengah film sebenarnya bisa menggantikan kehadiran Richard yang mulai invalid jika film ingin berjalan ke arah yang diinginkan. Keunikan Jim Bob dengan mobil merah menyala, peternakan babi, dan sisi kedetektifannya bisa menggantikan sisi psikologis dari Richard yang sebenarnya mulai terselesaikan (dan malah tak terjawab di akhir film). Didampingi dengan chilling, calm performance dari Sam Sheppard yang mulai area baru untuk berkembang, menjadikan film ini akan sempurna jika dijalani dengan duo character  ketimbang memaksakan formasi trio.

Terlepas dari elemen yang masih dipertanyakan, Cold in July masih merupakan hiburan yang solid (dengan fine performance, shot dan scoring), dinamik, terkadang memiliki elemen black humour, dan masih menerapkan “Who doesn’t love twists, for better and worse ?” (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s