Palo Alto (2014), “Floating, Being Wasted Adolescence” – Treatment to Give Unexplored Depth in Gia Coppola’s Debut

Director : Gia Coppola

Writer : Gia Coppola, James Franco

Cast :  Emma RobertsJames FrancoJack Kilmer, Nat Wolff, Zoe Levin, Chris Messina

(REVIEW) Gia Coppola doesn’t know what to do in her “adolescence”, but who does ? And first thing first, if this movie isn’t a hit, we could blame James Franco. Keuntungan pertama menonton film ini adalah tidak mengetahui jika Palo Alto diangkat dari kumpulan cerita pendek dari James Franco. Mengapa sebuah keuntungan ? To be honest, James Franco yang merupakan salah satu selebriti tersibuk di Holywood telah melahirkan beberapa film low profile yang ia sutradarai, dan semuannya terkesan membosankan (I even haven’t watched them yet, and yeah, I judge movies by its titles). Sisi atraktifnya, film ini ditempel erat dengan nama besar “Coppola”, bukan Francis, bukan Sofia, tapi Gia Coppola, sutradara muda berusia 26 tahun yang mendapuk karyanya ini sebagai debutnya.

palo_alto

Adalah April (Emma Roberts), gadis pemalu, cenderung pendiam, trying to be nice, memiliki hubungan spesial dengan guru olahraganya, Mr. B (James Franco), sementara ia juga memiliki crush dengan teman sebayanya, Teddy (Jack Kilmer). Sementara itu, Teddy adalah seorang pelukis berbakat tapi kondisinya selalu diperburuk dengan kehadiran teman baiknya, Fred (Nat Wolff). Mulai dari sebuah tabrakan mobil yang disengaja sampai tabrakan mobil yang tak disengaja selalu dijalani Teddy dan Fred bersama. Hingga akhirnya mengirim Teddy ke community service yang membuat Fred kesepian dan membuatnya dekat dengan Emily (Zoe Levin) – everybody’s slut in school.

Yeah, kumpulan cerita James Franco sepertinya sudah mencakup semua karakter yang “ada” dalam masa-masa remaja – the shy one, the talented one, the brat one, the slut one, and as bonus, a hot flirting teacher. Dan karena merupakan kumpulan cerita pendek, setiap karakter tidak berkumpul untuk membentuk satu plot, melainkan setiap karakter memiliki masalahnya masing-masing dan bergerak membentuk cerita sendiri. Dan, disinilah Gia Coppola membuat film ini well compelled and beautifully shot cukup memberikan kompensasi di excuse-nya sebagai sutradara debutan. Nafas dan semangat muda yang sangat diperlukan dalam coming of age juga begitu kental lewat soundtrack atau momentum pesta atau kegilaan yang benar-benar dinikmati para aktor mudanya.

Wasted adolescence adalah tema yang diangkat dalam film ini, dan Gia Coppola dalam menulis skenario-nya juga tak terlalu ambisius untuk menebarkan message yang membuat Palo Alto terkesan preacy atau pretentious. Untuk sebagian orang memang film ini akan berasa plotless, tak tahu akan dibawa kemana semua karakternya. Dan disinilah Gia Coppola bermain, yeah plotless, but not meaningless. Gia Coppola membawa salah satu fase hidup – fase remaja sebagai fase yang penuh pemikiran, dan hal inilah yang mencoba ia lakukan pada para aktornya. Baik Roberts dengan Levin sama-sama memberikan penampilan yang tenang, dengan kharisma mereka masing-masing, sementara Wolff mendapatkan peran yang tak begitu subtle namun dari sifat ini ia berangkat menjadi karakter yang menghidupkan, menjengkelkan, tak peduli ia sedang melakukan apa, mulai dari What If Game yang ia mainkan sampai bahkan saat ia bermain piano dan minum dari vas bunga.

Penampilan anteng dari para aktornya kemudian disesuaikan dengan pemukulan rata setiap issue oleh Coppola : yeah, semua isu terasa diredam. April dengan issue virginity-nya dan me-manage-nya dengan guru olahraganya sendiri seakan-akan bukanlah hal yang besar untuk April, begitu pula dengan Fred yang harus kurang kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya, bahkan ketika ia mengucapkan “Do you love me ?” kepada Emily, Emily – the one who give mass blowjobs, tak menjawabnya – Ironic.

If adolescene is a celebration, this movie celebrates it well, with grace. Mulai dari pesta dengan alkohol dan menghisap ganja, aktivitas sex yang melibatkan melepaskan keperawanan, mengemudi di jalur yang salah, menghabiskan waktu di community service, kegiatan ekstrakulikuler lewat sepakbola, semuannya berhasil dirangkum dalam Palo Alto dan dikemas dengan begitu elegan, tak menjijikan, tak begitu liar tapi tetap terkesan liar oleh Gia Coppola.

Salah satu hal minor tapi cukup menarik disimak adalah film tak memberikan sebuah gambaran detail tentang profil orang tua dari masing-masing anak muda ini. Namun, profil ini dibuat lebih notable dan jika melihat sedikit dalam gambaran yang lebih besar, anak-anak ini merupakan hasil dari treatment dari orang tua mereka. Mulai dari orang tua April yang memiliki sisi attention craving dan ignorance dalam waktu bersamaan, menghasilkan April yang cenderung pendiam dan indifference atau orang tua Fred (Chris Messina) yang memiliki sisi kengerian tersendiri sehingga menuntut Fred mencari “adegan fenomenal” di pergaulannya untuk menutupinya.

In the end, paling tidak lewat keabsenan cerita yang bisa diraba, Gia Coppola berhasil membuat sebuah film dengan bijak dengan memperlakukannya dengan bijak pula. Being lost and being wasted menjadi sisi perlakuan yang bijak untuk sebuah film yang memiliki jalan cerita multiple, tapi ingin memiliki unexposed depth tersendiri dan tidak ingin tumpang tindih satu sama lain. I hope Gia Coppola got better and potential source for her next movie and please no James Franco’s SHORT stories (now I am judging again) (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s