Coherence (2014) – a Tidy Turmoil Orbits Astronomical Anomaly into an Enganging Roulette Wheel

Director : James Ward Byrkit

Writer : James Ward Byrkit

Cast :  Emily BaldoniMaury SterlingNicholas Brendon, Elizabeth Gracen, Alex Manugian, Lauren Maher, Hugo Armstrong, Lorene Scafaria

Do you know Schrodinger’s cat ? It’s not a cat.

(REVIEW spoiler) Comet, dinner, ping-pong paddle, blue glow stick, red glow stick, mysterious box, alternate universeyah itulah hal-hal random yang berusaha Coherence susun dalam satu meja makan, dan hasilnya adalah Coherence menjadi salah satu film paling rapi dalam segi penyajian, apalagi jika dilihat ide dasarnya yang (surprisingly) ambisius dan harus dengan berhadapan dengan budget yang begitu kecil.

Ide James Ward Byrkit untuk “meluaskan ruang tamunya” di sisi drama mungkin serupa dengan film Carnage yang mempertemukan keempat karakternya dengan konflik-konflik halus dan latent yang sepertinya mengarah ke meltdown yang lebih besar. Bedanya, sisi drama ini kemudian di bungkus lagi dengan sisi science fiction yang mendominasi dan menjadi bagian paling menarik film.

Suatu malam, delapan karakter dipertemukan dalam sebuah acara makan malam, Em (Emily Foxlersharp boned with radiant face), Kevin (Maury Sterling – pasangan dari Em), Hugh (Hugo Amstronggrizzly bear attorney), Beth (Elizabeth Gracen – istri Hugh – hair grey with fengshui regime), Mike (Nicholas Brendonactor with drinking problem), Lee (Lorene Scarafia – istri Mike – typically good house wife), dan Amir (Alex Manugian useless character) serta Laurie (Lauren Maher – mantan pasangan Kevin – a bitch). Ke delapan karakter ini begitu luwes melakukan banter satu sama lain – bercanda, “menyerang” satu sama lain (mostly Laurie), menciptakan satu makan malam yang hangat tapi berjarak. Thanks to homey dinning room. Hingga akhirnya sebuah komet melewati di atas langit mereka, dan diduga mematikan aliran listrik di sekitarnya, kecuali satu rumah yang masih menyala terang, yang memaksa mereka keluar rumah yang tanpa mereka sadari, mereka memasuki roulette wheel yang baru saja komet ciptakan.

Sebelum masuk ke dalam sisi science fiction-nya, selalu menyenangkan melihat sebuah film mumblecore yang diolah dengan baik. Improvisasi natural dari masing-masing aktornya terasa melebur, hangat dan intim. Tak terasa terlalu di-direct dengan kombinasi cara mengambil gambar dengan home video, Coherence menjembatani sisi science fictionnya, dengan adegan mengalir yang membuat durasi berlalu dengan begitu cepatnya. The natural improvisation, the banter, the mumblecore are perfect appetizer so the audience isn’t too full, but not really “intentionally” waiting the main course. Cukup memberikan outline cerita untuk para aktornya sepertinya menjadi salah satu metode “screenplay” yang efektif jika diberikan pada aktor-aktris yang mumpuni, memberikan sisi elastis sendiri pada cerita. Sorry for Joe Swanberg’s Happy Christmas, tapi Coherence lebih enganging dan menyenangkan didukung dengan editing “tap-tap-tap” yang rapi membuat Coherence merupakan sensasi 90 menit paling cepat dalam menonton sebuah film (last year, I had Drinking Buddies, still Joe Swanberg’s).

Masuk ke dalam sisi misterinya, Hugh dan Amir yang pertama kali keluar rumah kembali dengan terengah-engah dengan membawa sebuah box misterius yang berisi kumpulan foto mereka yang telah diberi nomor dengan ping-pong paddle didalamnya, dan sebagai kejutan puncaknya, Hugh mengatakan bahwa di dalam rumah yang satu-satunya memiliki penerangan, dia melihat “versi yang sama tapi lain” teman-temannya. Referensi cerita tentang quantum – something, Schrodinger’s cat (you Wikipedia it, yourself), sampai alternate reality yang mengalami coherence-pun dengan lancar menjelaskan fenomena yang terjadi. Walaupun pada sisi ini, film terlalu “detail” dijelaskan, too much Wikipedia description in information for audience, termasuk karakter Em yang terlalu “pintar” menjelaskan fenomena komet yang pernah terjadi. I mean, it’s gonna be better if the information about this sci-fi and shits are minimized.

Jika menyukai sesuatu yang berbau loophole (like Triangle or something), Coherence merupakan film yang trippy untuk hal-hal yang demikian – mindbending orang mengatakannya, dan film ini termasuk film yang jujur, tanpa ingin menutupi dengan maksud membentuk twist di akhir, tapi benar-benar ingin melihat reaksi karakter dalam memecahkan isu science di dalamnya. Loophole yang memicu berbagai tindakan efek intruder juga cukup efektif memberikan sisi kengerian konvensional, ditambah dengan editing yang sering memotong film dengan musik yang berangsur klimaks, kemudian layar menjadi gelap gulita, seakan-akan menciptakan sensasi “climax before commercial” di serial televisi.

Apa yang cukup disayangkan dari Coherence adalah konflik personal (drinking problem, secret affair problem, bitch problem, etc-etc) dari masing-masing karakter tak pernah menjadi se-powerful yang diharapkan. Tentu saja banyak excuse untuk hal ini : tema science fiction yang terlalu kental, terlalu banyak karakter untuk diselesaikan satu-persatu, dan sebenarnya konflik-konflik antar karakter ini dimaksudkan untuk mengkondisikan sebuah “darker version” yang di sisi positifnya menciptakan horor dengan definisi tersendiri.

Dan disinikah sisi spesialnya, Coherence memiliki unthreatening creepiness tentang insecurity ketika “dua dunia” yang penuh dengan uncertainty melebur menjadi satu. Come on ! When we think about alternate universe – voluntarily, we always think the “better” version of ourselves. Sebuah alternate universe yang dipaksakan dan tak diinginkan menciptakan pola berpikir yang berlawanan : a darker version, dan Coherence pun membalikkan situasi ini. Sisi ini memiliki dua sisi yang berlawanan, di sisi satu merupakan sebuah mimpi buruk, tapi kemudian jika melihat lagi lebih dekat, mimpi buruk ini merupakan sebuah opportunity untuk sebuah keadaan yang lebih baik. Setelah berkutat dengan science dan mengembalikannya ke pribadi Em pada khususnya, mungkin terlihat sedikit terlambat untuk Em akhirnya membuat keputusan. Sedikit melonggarkan durasi lima menit lebih lama untuk Em berkutat dengan isunya sepertinya akan membuat film ini lebih sempurna.

In the end, Coherence is our little gem. (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s