The One I Love (2014) Treats Us Like an Aardvark in The Dark, Illuminates Us with Unexpected Possibility

Director : Charlie McDowell

Writer : Justin Lader

Cast : Mark Duplass, Elisabeth Moss and Mark Duplass, Elisabeth Moss

The best marriage counseling, EVER !

(REVIEW – spoiler) Ethan (Mark Duplass) dan Sophie (Elizabeth Moss) adalah sepasang kekasih yang telah kehilangan sparks dari pernikahan mereka. Seperti biasanya, untuk menyelamatkan pernikahan mereka, mereka mengunjungi seorang marriage therapist yang menyarankan mereka untuk menghabiskan weekend di sebuah di sebuah tempat yang memiliki magical touch tersendiri.

Ekspektasi awal film ini benar-benar sebuah enganging comedy drama di sebuah tempat terpencil yang menempatkan Ethan dan Sophie pada quality time yang intim yang semakin mengupas baik konflik atau sisi sebuah hubungan lainnya. Apalagi dengan bintang Mark Duplass yang sebelumnya terlibat cinta segitiga rumit di Your Sister’s Sister yang mengambil setting tempat hampir sama. Sayangnya, I GOT MORE. Yep ! It’s about doppelganger.

Doppelganger benar-benar menjadi hal yang diangkat di tahun 2014 ini. Ada Enemy yang dibalut dengan misteri puzzle yang kuat, ada The Double yang diselimuti style tersendiri, ada juga Coherence yang bekerja dengan sisi science fiction-nya, dan Zoe Kazan’s The Pretty One (I haven’t checked it out yet), dan The One I Love adalah cerita serupa yang kental dengan sisi comedy-romantic yang juga menekankan pada sisi laboratorium of relationship-nya.

Dijelaskan di awal film bahwa Ethan dan Sophie terobsesi dengan masa-masa berjaya mereka. Mereka bahkan sempat melakukan reka ulang saat-saat pertama mereka bertemu termasuk sneaking ke sebuah kolam renang private untuk membangkitkan gairah mereka akan hal masing-masing. Hasilnya adalah hal yang bertolak belakang, bukan sisi exciting, tapi sebuah agony bahwa hubungan mereka benar-benar di atas tanduk. Yeah, romantic re-creation yang menjadi isu awal yang absurd benar-benar direalisasikan oleh sang penulis Justin Leader. Suatu ketika, Ethan dan Sophie menjumpai doppelganger mereka di guesthouse tempat mereka menginap. Bukan sembarang doppelganger, tapi versi yang ini adalah sebuah versi ideal, versi lebih baik, versi 30 % lebih sempurna daripada mereka. Hingga akhirnya, bisa dikatakan, Ethan dan Sophie (yang asli) memutuskan untuk melakukan swinger demi mengetahui misteri apakah dibalik guesthouse, sekaligus mengetahui sebenarnya apakah yang mereka inginkan.

Sebagai sebuah romantic comedy, mungkin The One I Love kekurangan problem background yang kuat pada hubungan Sophie – Ethan. Keduannya terlihat baik-baik saja, kecuali memang terlihat bosan satu sama (yeah it’s Mark Duplass with glasses and less messy hair, who wouldn’t feel too bored). Kemudian, ibarat kertas yang plain ini mulai diwarnai dengan krayon-krayon science fiction lewat kehadiran doppelganger yang lebih di-treatment sebagai sebuah alat eksperimen, permainan, ketimbang doppelganger sebagai sebuah elemen asing yang mungkin mengancam kehidupan mereka. Jatuhnya, The One I Love mungkin lebih memiliki persamaan dengan Coherence dalam hal anomaly tolerance, ketimbang Enemy dan The Double yang mengambil cerita dengan sisi yang lebih menacing, dan denial terhadap versi lain dari diri mereka ini.

Sophie dan Ethan kemudian kembali satu similarity : their new project to explore their doppelganger. Dari sekedar iseng mengulik sesuatu yang aneh, The One I Love mulai berkembang ketika Sophie dan Ethan ternyata berjalan ke arah berlawanan dengan projek baru mereka. Sophie cenderung menikmati dengan The New Ethan-nya yang merupakan pria idamannya yang mampu menerjemahkan apa yang ia inginkan, sedangkan Ethan mulai mencium ada sesuatu yang salah dengan The New Sophie, terutama ketika ia juga mulai merasa terabaikan dengan kehadiran The New Ethan. Isu jealousy, insecurity, trust mulai diangkat, dan diekplor penuh dengan akting Mark Duplass yang lebih keluar ketimbang Elizabeth Moss yang cenderung berada pada level “zone of comfort of her drama serenity”. Being nicer – menjadi landasan Mark Duplass dan Elizabeth Moss membedakan versi satu dengan versi yang lainnya. Dengan tanpa terlalu banyak perubahan fisik, memang The One I Love mengandalkan kekuatan akting mereka, dan keduannya mampu memberikan smooth shifting dari dual role ini. Paling tidak penonton langsung bisa membedakan mana yang asli, mana yang palsu, dan yang paling mengejutkan adalah kekuatan akting Duplass dan Moss semakin menguat ketika keempat karakter dipertemukan face to face. Untuk sebuah performance yang tak terlalu ingin showy, departemen akting dari film ini memiliki dinamika tersendiri. Sayangnya, chemistry intim dari Duplass dan Moss sepertinya tak terlalu terbentuk seperti yang diharapkan (though it’s still great) dikarenakan konsentrasi keduannya mau tidak mau terbagi dengan sesi bersama doppelganger pasangan mereka masing-masing.  

The One I Love’s comedy/drama genre has its doppelganger : fantastical mystery. Dari awal film ini tak terlalu mengeksploitasi tentang asal usul doppelganger ini. Sisi yang terlalu casual, walau diiringi dengan scoring yang sedikit dark, membuat penonton seperti diperlakukan sebagai seekor aarkvard yang menganggap sebuah cahaya sebagai sesuatu yang miraculous, tanpa terlalu mengajukan banyak pertanyaan kecuali menikmatinya. Ekspektasi pun mulai terbentuk, apalagi jika telah melihat Enemy/The Double, The One I Love diharapkan berakhir sebagai sesuatu yang berhubungan dengan psikologis, atau seperti Coherence yang menerima anomali kejadian alam yang akan berakhir baik-baik saja. The One I Love pun mengambil timing yang tepat sebagai final act-nya : it’s time to take this shit seriously, like Charlie Kaufman did.

Charlie Kaufman yang terkenal ahli dalam menge-blend fantasi ke dalam realitas, dengan derajat believability tersendiri, sekaligus tanpa kehilangan sisi strangenya yang menciptakan kengerian tersendiri. Final act dari The One I Love mengingatkan kita pada salah satu karya terbaik Kaufman, Being John Malkovich. Mungin tak semenakutkan ending Being John Malkovich, tapi paling tidak hal ini memberikan belokan cukup tajam untuk The One I Love untuk tidak hanya mengembangkan dua karakternya, tapi juga keempat karakternya (including the doppelganger). In the end, The One I Love isn’t as charming as its title. (B)

4 comments

  1. I think their problem background is pretty clear: hubungan mereka emang sudah mencapai tahap jenuh (sebagaimana hampir dialami semua pasangan di dunia), ditambah dengan Ethan yang selingkuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s