The Rover (2014) Leaves Us High and Dry, Pattinson Reveals “Bare The Fangs” Performance

Director : David Michôd

Writer : David MichôdJoel Edgerton

Cast : Guy Pearce, Robert Pattinson, Scoot McNairy

Robert Pattinson as half wit guy ? What a priviledge to watch.

(REVIEW) Salah satu tips jika berada pada dunia dystopia, RULE #32 : Enjoy the little things (thanks to Zombieland). Seperti halnya Tallahasse yang mencari the last twinkie, atau Witchita dan adiknya yang ingin mengunjungi amusement park di dunia penuh zombie, The Rover adalah sebuah perjalanan seorang laki-laki mengejar mobil kesayangannya (dengan menggunakan mobil lainnya, seems pointless, see ? ) di tengah teriknya gurun Australia, 10 tahun setelah ekonomi dunia mengalami collapse. Remember this rule #32 when you’re watching it, trust me, it helps.

The Rover menjadi salah satu film yang diantisipasi mengingat karya debutan David Michod – Animal Kingdom menjadi salah satu karya best reviewed di tahun rilisnya. Dijajarkan dengan Animal Kingdom, terdapat beberapa persamaan elemen : car as important plot, dependent kid, ruthless criminal, family bond – final twist, and surprising blood splattering in the wall. Hanya saja dibanding Animal Kingdom, The Rover lebih kalem, lebih artsy, lebih kering dan lebih Australia.

Tiga kawanan perampok (David Field, Tawanda Manymo, dan Scoot McNairy) membuat dua kesalahan terbesar dalam hidup mereka. Pertama, meninggalkan teman mereka, Ray (Robert Pattinson) yang diduga telah mati di tempat kejadian perkara, dan kedua, mencuri mobil dari seorang Eric (Guy Pearce) – pria misterius dengan rambut, berewok compang-camping dimana Tuhan saja yang tahu apa yang dipikirkannya. Setelah aksi kejar-kejaran, Eric kehilangan jejak ketiga perampok ini, hingga ia bertemu dengan Ray yang sedang dalam keadaan sekarat. Sebuah road trip menembus gurun Australia pun dilakukan. Untuk Eric, demi mobilnya, sementara untuk Ray, demi berkumpul dengan teman-temannya dan mencari penjelasan.

Berbudget 12 juta dolar, sepertinya sudah tak ada lagi celah untuk CGI menciptakan penuh dunia dystopian-post apocalyptic yang biasanya sudah familiar di telinga kita. Kata “world economic global” pun membantu karena sepertinya tak memerlukan begitu banyak re-create dunia barunya (dibanding dystopia karena perubahan iklim, zombie, atau sebagainya). Cukup disettingkan di gurun Australia, teknik sinematografi, dan flies buzzing sound effect, perpaduan ini cukup depressing dan meyakinkan sebagai gambaran masa depan. Ekonomi juga mendukung sisi minimalis untuk karya Michod yang satu ini, sisi ekonomi paling tidak sudah akrab di telinga kita, sehingga Michod tak perlu lagi banyak berbicara untuk menjelaskannya. Hasilnya film lebih terpusat pada karakter Eric sebagai sebuah product, karakternya lebih dalam dan misterius dibandingkan pertanyaan penonton, “Apakah yang baru saja terjadi dengan dunia ?”

Fair enough and not fair enough. Dystopian without explanation ? Kita memiliki John Hillcoat’s The Road yang memberikan penonton kebutuhan utama hidup : bertahan hidup sehingga absen penjelasan ini terkesampingkan. Survival tersamarkan di The Rover, menggantinya dengan goal yang tricky, anti makes sense, dan sepertinya membutuhkan sebuah penjelasan. Di satu sisi aksi mengejar mobil kesayangan ini masih terbantu dengan masa lalu Eric yang masih misterius. Maybe the car has memory. Maybe the car is his wife’s favorite. Maybe the car is his the only home, etc. Di lain sisi, ketidakinginan Michod menyediakan informasi (terhadap karakter, terhadap motivasi) ditambah dengan silent treatment merupakan dead end The Rover untuk lebih masuk ke dalam penonton. Beruntung, karakter Eric yang memang ditulis untuk Guy Pearce (sebagai follow up karakter membosankan di Animal Kingdom) mampu diperankan Pearce dengan totalitas (hair, skin, make-up, beard) dan stabil (all silent acting is believably good). Eric adalah karakter paling umum untuk film yang artsy seperti ini. Begitu bersinar di awal, mengancam, tapi kemudian karakter ini terus diam sampai akhir, dan meninggalkan penonton akhirnya tak peduli lagi.

Robert Pattinson finally *really* shines. Pattinson adalah kejutan, paling tidak The Rover membuktikan ia tak hanya bisa bermain coolpaska karirnya di franchise Twilight. Tak terbayang Pattinson berbicara dengan gagap, mengganti “kemachoan”-nya sebelumnya sebagai seorang Ray yang begitu needy, useless, dan dependant. Naive ketika Eric menjelaskan bahwa kakaknya meninggalkannya tewas di TKP merupakan critical point untuk Ray. Saat Ray membutuhkan range yang lebih dalam, Pattinson goyah walaupun saat itu karakternya terlanjur menjadi satu-satunya hal yang menarik diikuti. He’s pretty good at half wit – thingy.

Animal Kingdom adalah manslaughter machine yang tak pernah melupakan kompleksitas dari sebuah konsekuensi. Life is goddamn expensive. Ditambah dengan tak segannya Michod membunuh karakter (tak peduli diperankan siapa), Animal Kingdom begitu chilling ketika pelatuk siap ditarik kapan saja. Kebalikannya, The Rover menerapkan “life is cheap”, tak pernah ada konsekuensi kecuali hukum rimba, tak ada hukum yang berarti The Rover kehilangan sisi kompleks dari sebuah aksi, The Rover is downgraded version of Animal Kingdom.Inilah tantangan yang sengaja diciptakan oleh Michod, tapi tak sengaja atau terlewatkan untuk bisa diatasi. David Michod sebagai seorang filmmaker risk taker semakin diperkuat dengan hadirnya lagu Pretty Girl Rock dari Keri Hilson yang merupakan salah satu moment ter-bizzare di sepanjang film 2014. And I actually like it. Kecil tapi penting, menarik bagaimana sebuah lagu merupakan jembatan now world – dystopian world yang membuat penonton langsung terhubung.

The Rover tetap sajian yang menarik. Final act-nya masih layak ditunggu, namun jika belum pernah menonton Animal Kingdom. Beberapa persamaan twist dengan Animal Kingdom (that brings Jacki Weaver to Oscar) merupakan formula yang seharusnya tak dibawa kembali oleh Michod. Reverse the blood stream – that’s the twist. If Michod wants to rely on its twist, please make it fresh. And rely on Robert Pattinson ? You’re better than that. (C+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s