Frank (2014) : Off Key, Nails-on-Blackboard You Want to Hear, Weirdness Redeems its “Big Headed” Mission

Director : Lenny Abrahamson

Writer : Jon Ronson (screenplay), Peter Straughan(screenplay)

Cast : Michael Fassbender, Domhnall Gleeson, Maggie Gyllenhaal

Remember that scene where Elizabeth Shaw put Fassbender’s head in the bag ? She still has it.

(REVIEW) Jika Magneto memakai helmet agar kepalanya tidak terbaca dan dipengaruhi Charles, kali ini dia memakai kepala besar imut yang menutup 100% kepalanya dan mempengaruhi isi kepala penonton. Melihat kepala Frank ibarat melihat senyum Monalisa : secara fisik dan visual menarik perhatian ; dan membawa sisi misteri yang selalu mem-provoke untuk melihat isi di dalamnya. What if being “ourselves” means being “somebody else ?”, what if being “original” means being “un-original to ourselves ?“, yeah pertanyaan random itulah yang muncul seusai menonton Frank.

Jon (Domnhal Gleeson), uninspiring musician without any song, bisa mencari inspirasi bermusik dari apa saja, tapi tak satupun menjelma menjadi satu lagu utuh. Ia hidup normal dengan keluarga, dan pekerjaan serta hidup lewat ekspektasinya “akan menjadi terkenal”. Hal tersebut tercermin dalam kehidupan social media-nya yang memiliki reality – virtual gap yang begitu besar (besides, he plays with narcissistic hashtag, though he only has 18 followers). Hingga akhirnya, secara accidentalia bergabung pada satu band unik yang digawangi leader eksentrik yang memakai kepala palsu sepanjang waktu – Frank (Michael Fassbender) dan anggota band lain yang tak turut kalah aneh, salah satunya Clara (Maggie Gyllenhaal).

Terinspirasi dari tokoh nyata Chris Sievey yang memakai topeng identik, Frank memberikan gambaran proses kreatif yang diwakili dua karakter bertolak belakang, namun tak berlawanan. Jon hadir sebagai pihak normal, conventionally un-original memberikan toleransi tinggi untuk seseorang seperti Frank – physically original,memojokannya sampai sudut, sejauh mana karakter remarkable ini mempengaruhi karakter yang masih seperti kanvas putih. Ketika Jon dan Frank, and the band,berada pada satu cottage untuk proses rekaman yang sangat lama (18 months), keduanya seperti diisolasi dengan sukarela untuk “membangun karakter baru” tanpa ada gangguan dari luar. Paruh awal ini lebih banyak memasukkan pengaruh satu arah tentang bagaimana Frank sebagai pemimpin yang disegani, sebagai karakter yang misterius, sebagai musisi yang bisa membuat shortcut proses kreatifitasnya.

Berbicara tentang musikalitas, mungkin Frank terlalu “out of mainstream taste” dengan musical number yang tak banyak bisa dinikmati, even “The Most Likeable Song”isn’t likeable, tapi musik yang sesungguhnya hadir dari ketiga karakter utamanya. Aktor macam apa yang mau untuk menutupi aset terbaiknya di sepanjang film ? Tak ada ekspresi wajah, hanya topeng yang memasang ekspresi yang sama, dan kesensitifan script untuk menciptakan kelucuan untuk mendeskripsikan ekspresi wajahnya secara harfiah dengan kata-kata. Adalah Fassbender yang mampu meraih resiko itu, kemudian memberikan kemampuan aktingnya lewat gesture, dan badan yang berkarakter (in this case, at least his body is familiar). Thank God, Fassbender already introduced his body.

Kemudian berdiri bersampingan dengan disarming partner-nya, Domnhal Gleeson mampu mengimbanginya dengan pesona pemuda normal kental khas Irlandia, with his irresistible ginger hair. Gleeson tampil all out tanpa filter, tanpa menjadi ekstrem menyebalkan, atau ekstrem membawa simpati sebagai korban bully, dan tanpa kehilangan sentuhan solid handled role sebagai seorang aktor. Sisi normalcy-nya ia pertahankan lewat instrumen social media-nya, membawanya seakan-akan menjadi karakter normal yang meninggalkan jejak dengan harapan ia dapat menyeret keluar unicorn dari dark forest. Kemudian muncul Clara, dengan penampilan highdecibel-nya, konsisten full frontal menyerang Jon, Maggie Gyllenhaal (with Magneto’s helmet hairstyling) menghidupkan karakternya sebagai ice breaker of decency, sekaligus menyamakan frekuensi dari dua pria tokoh utamanya.

Frank terus terang kehilangan appeal-nya di paruh kedua menjelang akhir. Kehilangan appeal ini sedikit banyak terjadi karena perubahan tone film dari komedi dengan V.O. friendly, bergeser ke black comedy, kemudian beralih lagi ke tragedy yang membungkam mulut penonton. Jon yang menaruh secara diam-diam courtesy band-nya akhirnya mendapatkan banyak perhatian. Beberapa puluh ribu views di Youtube membuat Frank ter-compromise, semakin menambah misteri karakternya tentang konsep “being viewed, being adored”. Isu dibalik kepala palsu muncul ke permukaan, dengan penonton terus mengharap “outcome” yang lebih. Paruh ini diisi dengan saling bertukarnya karakter original-normal ke arah keduniawian bermusik. Transfer of virtue terjadi (including Clara in jacuzzi). Frank sebagai karakter distinctive mulai menurun efek uniknya setelah durasi cukup lama berjalan, diganti dengan penonton yang semakin menanyakan motive di balik ke kepala palsunya. Sesampai di tahaprevelation, Frank lebih memilih memberi hard rendered character dengan third act yang sebenarnya bermain aman. Dan sangat disayangkan ketika karakter ini malah mencoba untuk dijelaskan. I guess it’s best unexplained. If the answer : mental illness ? I won’t accept that.

Lebih jauh lagi, Frank memberikan sisi menyedihkan melalui penggambaran bagaimana kita terjebak pada satu identitas lewat penggambaran fisik saja dan selalu saja ada sisi tragedy dari sebuah permukaan yang comedy (I always wonder why there are a lot of Indonesian comedians died young). Karakter-karakter ini cukup mewakili siapa yang memakai topeng, siapa yang fake, siapa yang persistent, siapa yang memojokkan seseorang ke arah kreatif, kemudian me-reverse-nya. Frank cukup kuat menghadirkan karakternya lewat sajian off-key yang mampu memenuhi misinya yang berkepala besar. Frank is worth watching with best sense of weirdness. (B)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s