The Two Faces of January (2014) Swindles Same Ruins of The Demolished Love Triangle

Director : Hossein Amini

Writer : Hossein Amini (screenplay), Patricia Highsmith (novel)

Cast : Viggo Mortensen, Kirsten Dunst, Oscar Isaac

Greece, the best place for tragedy and love triangle, phytagoras ? Got it ?

(REVIEW) Sebagai seorang screenwriter, Hossein Amini memiliki sisi “vulnerable” tersendiri. Sebut saja film dari sekelas Drive, sampai skenario sekelas Snow White and  The Huntsmen telah ia hasilkan. Dan, The Two Faces of January merupakan karya debutannya sebagai sutradara yang mengambil production set yang tak jauh dari penampakan alam tanah kelahirannya – Irak, yaitu Mediteranian. The Two Faces of January dieksekusi secara old fashioned, dengan skenario beragenda “padat”, serta untuk penonton yang memiliki wanderlust tempat-tempat seperti ini, it is definitely a treat.

Diawali dari sepasang suami istri, Chester (Viggo Mortenssen) dan Collette (Kirsten Dunst) menikmat keindahan runtuhan kota Athens di Yunani. Keduannya kemudian dipertemukan dengan guide wisata muda, nan tampan, Rydal (Oscar Isaac) yang begitu resourceful secara bahasa, dan memiliki charm tersendiri dengan segala mumbo jumbo-nya. Dengan cast sekelas mereka, keindahan kota Mediteranian, scoring yang mantap (walau terasa sedikit dipaksakan), screenplay yang sudah terstruktur dengan penceritaan linear, Hossein Amini bisa dikatakan memilki segalanya. Tapi, segalanya inilah yang membuat The Two Faces of January malah menjadi projek “terlalu rapi” – not in “perfect” term, tapi keahlian Amini memperlakukan undertone isu dari para karakternya harus diacungi jempol. Dan, itulah yang menjadi highlight utama dalam film ini.

Siapa yang mengenal Oscar Isaac sampai tahun lalu ia bernyanyi ? Dan, siapa yang tak akan mengenal Oscar Isaac sampai tahun depan ia akan membintangi Star Wars, dan kali ini dia benar-benar menunjukkan kalibernya. Rydal adalah karakter yang unik. Terbuka tapi tertutup. Charming tapi opportunist. Dengan muka universal-nya, bisa menjadi Arabian, Mexican, American, maybe even Spanish, kita tak pernah tahu siapakah Rydal sebenarnya. He’s open book – menceritakan ia memiliki isu dengan ayahnya yang seorang profesor di Harvard, dan ia seorang lulusan ekonomi universitas Yale, apa yang yang menjadi informasi “too good to be true for someone who’s ended up as guide” selalu memercikan suspicion  dan skeptic untuk karakter Rydal ini. Untuk dua karakter yang belum ter-reveal di awal film, Rydal men-juggling Chester dan Collette dengan begitu indahnya.

But he’s juggling the wrong wolf, suasana interaksi antara Chester dan Rydal semakin menarik dengan diungkapnya identitas Chester yang bukanlah seorang kaya raya biasa. He’s a swindler, a con man, yang telah menipu begitu banyak client di daratan Amerika. Hingga salah satu client-nya mengirim private detective untuk mengejarnya, dan Chester terlibat pada insiden yang bisa membahayakan nasibnya dan istrinya dan satu-satunya orang yang mungkin bisa menyelamatkan mereka berdua hanyalah Rydal – the stranger. Disinilah, The Two Face of January mulai berteriak kepada poster-poster misleading yang terkesan terlalu adventure, berubah menjadi thriller serius yang tak seindah perjalanan mereka menyusuri Athens, Crete dan Istanbul.

Pernahkah kita berada pada suatu daerah wisata, kemudian terpaksa menyewa seorang guide tiba-tiba, selalu saja ada sisi charming dari turis – pemandu wisata di front stage-nya, tapi juga selalu ada sisi intens ketika satu sama lain hanyalah terlibat pada simbiosis yang titik untungnya bergantung dari seberapa  besar nilai eksploitasi satu sama lain. Yeah, sederhanya, berangkat dari situ. Ketika uang bukanlah masalah untuk Chester dan Collette, hal ini benar-benar kabur. Tapi, ketika semuanya serba terbatas, Rydal adalah asset sekaligus liability yang harus Chester percepat penggunaannya,, dan segera disingkirkan.

Amini mengadaptasi buku sumbernya dengan begitu halus, setiap konflik mulai mengggunung, menggunung, dan menggunung, dengan progres yang kecil tapi terasa. Amini mungkin tak se-masterful Ben Affleck, mengolah adegan gripping a la Argo menjadi thrilling seperti seharusnya. Karena film memang sepertinya menganggap itu adalah aksesoris. Sajian utamanya adalah bekerjanya layer interaksi ketiga tokoh, dengan isu mereka masing-masing : Rydal dengan dad issue-nya, Collette dengan “pretend to be blind wife”-issue-nya, dan Chester dengan “do the math”- issue-nya yang membuatnya semakin labil. Semuannya berbaur dan tersamarkan, termanipulasi dengan love triangle yang menimpa ketiganya.  Rydal yang selalu membiarkan dirinya masuk ke hubungan Chester-Collette terus membuat dinamika ketika Collette menanggapinya Rydal dengan begitu baik. Kirsten Dunst berusaha memberikan penampilan terbaiknya, walau kapasitas karakter Collette benar-benar terbatas. Pada awalnya, Dunst mungkin terasa sedikit miscasting dengan umurnya yang tak muda lagi, ia harus beraura glamour sebagai mata kail yang membuat ikan terhipnotis. Tapi tidak, justru Dunst memberikan keseimbangan seorang wanita muda yang terjebak pada sebuah perkawinan dengan suami yang ia cintai, tapi dalam waktu bersamaan, ia juga ingin meninggalkannya. Ketidakterlalu terpancarnya Dunst sebagai objek ini (like the way it’s supposed to be) membuat semacam transisi halus ketika twist a la Hitchockian dihadirkan di tengah film. Transisi ini adalah relationship shift, yang dialami Rydal. Twist menekan tombol reset sekaligus memperkaya karakter untuk lebih menampakan diri dengan permainan yang berubah dari love game menjadi life game. Adu strategi antar karakter menjadi adegan-adegan yang seharusnya klimaks walaupun Amini sepertinya tak ingin memaksakan.  Twist tersebut sayangnya mengakhiri interest dalam film ini. Film dengan judul unik, ambigu, yang bercerita tentang tiga orang, tiga karakter dengan masing-masing memiliki dua wajah, harus diakhiri di tengah film, dan membuat film  dalam waktu bersamaan seperti kehabisan bahan bakar.

Banyak hal yang bisa dikagumi dari The Two Faces of January, even costumes, tapi hal tersebut membuat film ini memiliki banyak sisi untuk bersandar (the performances, the landscape, etc), Amini bermain aman dan lupa menaruh sesuatu yang “out of place” atau kejutan sebagai souvenir dalam film, sesuatu yang membuat film ini bisa diingat dalam waktu lama. Hasilnya, Amini seperti membangun bangunan cerita yang sama dan familiar, merobohkannya dengan rapi, menghasilkan reruntuhan yang nyaris sama, padahal banyak hal yang bisa dikeluarkan dibalik reruntuhan tersebut. It’s not about the cast, or place, it should be about Amini’s career milestone, and it forgot. (B-)

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s