Borgman (2014) : Allegorical Dutch Work Converts Tale into Tangible Infestation, Oppression and Possession

Director : Alex van Warmerdam

Writer : Alex van Warmerdam

Cast : Jan Bijvoet, Hadewych Minis, Jeroen Perceval

If you wanna fuck your gardener, just don’t !

(REVIEW – definitely spoiler !) Beberapa tahun yang lalu The Cabin in The Wood mengejutkan kita dengan meta-nya, humor, serta wicked twist. Film tersebut juga mampu mengukuhkan diri menjadi satu film penting yang merangkum perjalanan genre-nya dari A-Z. Nah, Borgman memiliki potensi ini, dengan segala kejeniusannya, Borgman mengambil tenaga ekstra, untuk mengkonversi menjadi film penuh simbol dari genre asalnya, serta beradaptasi sebagai drama yang unik.

borgman (1)

Sebut saja film seperti Sinister, atau yang terpopuler The Shining, horor-horor tersebut selalu mengendap-ngendap pada karakter utamanya, mendistraksi penonton dengan image menakutkan dan suspense seru, kemudian bang ! Jack Nicholson menggedor-gedor pintu kamar istrinya. Dengan kampak, and his fucking grin. Invisible doesn’t mean it doesn’t exist. Makhluk-makhluk astral tak terlihat ini dengan otomatis kebanyakan menciptakan interaksi satu arah yang dilihat dari kaca mata penonton, dan Borgman dengan jeniusnya mengambil keuntungan ini.

Seorang pastur + seseorang dengan pasak + seseorang membawa anjing, terlihat menyisir daerah hutan dan memburu sesuatu. Dan dia adalah Camiel Borgman(Jan Bijvoet) – laki-laki lusuh yang tinggal di bawah tanah, beserta beberapa temannya. Beruntungnya, ia berhasil melarikan diri, dan karena badannya yang lama tak mandi, ia mengetuk pintu rumah elit untuk sekedar meminjam shower mereka. Bizzare stranger, beberapa rumah langsung menutup pintunya bahkan Richard (Jeroen Perceval) – salah satu pemilik rumah, menghajarnya setelah Camile menyinggung tentang istrinya. Tanpa sepengetahuan suaminya, sang istri – Marina (Hadewick Minis) memberikan pertolongan pada Camile yang babak belur dan memberikan tempat sementara di guest house-nya. Ia tak menyadari bahaya sedang mengancam keluarganya, ia tak menyadari Borgman bukanlah sekedar last name dari Camile, dan cerita “You Think You Know The Story”-pun dimulai.

Film yang di-submit sebagai perwakilan Belanda di Oscar ini selayaknya mengubah proses “Infestation – Oppression – Possesion” a la Warren menjadi sesuatu yang lebih tangible, bermuka dua dengan genre khas festival yang kental dengan drama, interaksi, serta “ketidakjelasan”. Untuk yang sudah familiar dengan genre horor, Borgman sudah mulai teraba arahnya, dimana sepanjang film adalah “connecting the dots”-game, yang membuat Borgman adalah produk disarming genre yang menukar kekuatan genre-nya dengan misteri dan penekanan drama yang secara kasat mata tak jelas dibawa kemana.

Infestation – let me in. Borgman dengan pesona manipulatifnya terus menerus menyerang Marina dengan hebatnya. Kekuatannya ini didapatkan dari sense of pityyang Marina rasakan dan dibandingkan dengan sifat Richard yang keras. Tak pernah ada moment Camile akan melakukan sesuatu yang besar tanpa seijin Marina, kecuali ketika ia mengendap-ngendap ke kamar anak-anak Richard dan mulai mendongengkan cerita, atau saat ia mandi di bathtub-nya, atau saat ia membiarkan masuk dua anjing masuk ke rumah Marina yang merupakan infestasi aneh pertama.

Oppression, benar sebagai film dari transformasi film horor dsb, Borgman tak pernah menggunakan karakter-karakternya mengendap-ngendap disertai scoringpeningkat adrenalin, atau jump scare, atau semacamnya. Disinilah, Alex van Warmerdam – sang sutradara, memaksimalkan moment tertentu menjadi super disturbing : mulai dari image beberapa badan yang ditenggelamkan di danau dengan kepala disemen di ember, sampai Camile dengan kurang ngajarnya duduk telanjang di atas badan Marina yang sedang tertidur disamping suaminya. Paruh kedua adalah bagian yang paling enjoyable dengan seluruh revelation siapakah Borgman sebenarnya.

Kemudian, possesion, semakin penonton menebak, semakin cerita menjadi kabur. Karakter-karakter semakin meninggalkan batas sadar tak sadar, terus menguji penonton untuk mempertanyakan dimana akal sehat film ini – such an ironic statement when we question this thing in horror movie like ALL THE TIME. Bijvoet sebagai Camile mengubah kontrol film dengan performa apiknya, mulai dari orang tua homeless lusuh berubah menjadi gardener dengan sisi villain yang mengingatkan kita pada aktor Christoph Waltz, dan Bijvoet ini seperti memiliki charisma control yang digunakannya sebagai leader teman-teman “misterius”-nya.

Tahap demi tahap dibuka dengan perlahan, seakan-akan layer yang dikupas. Interaksi, memanusiakan objek, digabung dengan Borgman yang menjelma menjadi semacam organisasi yang mengancam sekaligus terorganisir yang membuat banyak hal-hal bersifat humor juga mewarnai cerita yang begitu gelap.

Dibalik semua apresiasi dibalik Borgman memberikan tenaga ekstra membedah film seperti sebuah kajian kasus. Borgman benar-benar menjadi film yang segmented. Untuk yang asing, Borgman terlalu random, misterius, yang cenderung mengalami internal bleeding yang enggan untuk dibagi dengan penonton. Question, another question, multiple questions, tanpa disertai jawaban dengan segera, pastinya akan menguji kesabaran. Sedangkan untuk penonton yang telah berhasil menebak dari awal/setengah awal, Borgman tak pernah bisa se-enganging untuk bisa diikuti. Dan, Borgman bukanlah The Cabin in The Wood yang mendirikan twist diatas twist.Dengan sebuah perlawanan sengit antara dua kubu, Borgman bisa menjadi sangat memuaskan, tapi hal tersebut tak ada. Borgman seakan-akan seperti bedah kasus tanpa resolusi baru.

Lewat kelebihan dan kekurangannya, serta nature-nya yang multi interpretasi, Borgman adalah sajian unik yang respectful dengan film-film pendahulunya yang mengangkat hal kurang lebih sama. Berkamuflase juga menjadi film unik tentang home invasion dengan mengangkat allegory permusuhan dari strata kelas antarahomeless dengan keluarga kelas atas, dengan tidak adanya moral judgement dari tindakan, yang dijustifikasi dari sisi fairy tale yang memang sudah familiar di telinga.Unique ! (B)

2 comments

  1. Baru nonton ini (aaa akhirnya sempet buat nonton film lagi >.<). Kupikir gimana ya, taglinenya yang "perfect mix of Dogtooth and Michael Haneke" mungkin tepat, tapi sayangnya sisi mistis-spiritual yang seharusnya bikin Borgman keliatan beda dari sekadar psychothriller (if I might call it as one) kurang difinalisasi sih di endingnya. Cuma selesai gitu aja, ga ada yang bikin shock, kurang sentakan yang bikin bengong gitu. Haha.

    1. Makin ke belakang emang Borgman makin nggak ada gimmick mistis = spiritualnya, nggak sebanyak diawal2 waktu ngasih clue buat penonton, ditambah kurang adanya self awareness si keluarga Marina yang bikin Borgman makin berkuasa dan nginjek-nginjek yang bikin Borgman dan teman-temannya kayak organisasi kriminal….

      Ya gitu lagi, Borgman lebih ngebedah kasus terus udah, drpd ngebedah terus ngasih surprise/resolusi baru ke penonton, cm ngeliat pola dari sudut pandang berbeda doang……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s