source : www.impawards.com

Obvious Child (2014), Good Humored Gestation Injects Endorphin to Better Cope with Serious Theme and Stripe of Cliche

Director : Gillian Robespierre

Writer : Gillian Robespierre, Karen Maine (story)

Cast : Jenny Slate, Jake Lacy, Gaby Hoffmann

What to expect, when you’re expecting ? Abortion.

(REVIEW) Pernyataan tak peduli seberapa berat sebuah kehamilan, semuanya akan berubah ketika sang ibu melihat bayinya. Yeah, semua itu tak terjadi di Obvious Child. Berhadapan dengan tema “kehamilan” tak membuat Obvious Child mengandalkan “feeling” ketimbang “otak”. Lebih dalam lagi, Obvious Child lebih mengeksplor karakternya ketimbang tekanan hormonal yang berujung pada keputusan sentimental. Obvious Child adalah versi dari Waitress atau Juno, tentang unwanted childdimana karakternya bertahan untuk menjadi “primordial” tapi tetap menyenangkan dan tak kehilangan arti.

source : www,impawards.com

source : www,impawards.com

Mendapatkan gen komedian dari ayahnya, Donna Stern (Jenny Slate) melontarkan stand up comedy-nya dengan natural dan tak banyak kesulitan. Baginya, tak ada masalah untuk membawa backstage-nya ke panggung, mengolahnya menjadi jokes yang relatable dengan penonton. Tapi, begitu ia turun panggung, pacarnya mengajaknya berbicara dan memutuskannya karena ia telah selingkuh dengan sahabat baik Donna. That’s problem number 1. Kondisi Donna paska putus diperburuk ketika ia juga harus kehilangan pekerjaan utamanya sebagai penjaga toko buku. That’s problem number 2. Kemudian, ia mabuk-mabukan suatu malam, bertemu dengan Max (Jake Lacy), dan memiliki one night stand, dan dia hamil. That’s problem number 3.

Begitulah paruh awal dari Obvious Child, sebuah premis yang membawa banyak komedi dengan female sentris : hitting bottom. Masalah-masalah tersebut mengelilingi Donna, mencoba dipecahkan Donna dengan good sense of humor, tapi juga menegaskan bahwa satu-satunya anak yang harus ia segera tangani adalah dirinya sendiri. Donna is the obvious child. Obvious Child memiliki persamaan dengan karya Jason Reitman yang lain : Young Adult. Jika Mavis Gary berhadapan face to face dengan adult world, Donna Stern merupakan tahap pre-adult, bagaimana ia digambarkan seperti spora jamur yang bertahan untuk tidak berkembang, padahal lingkungan kurang lebih sudah ideal, jika ia mau mengusahakan.

Sisi ideal dicerminkan dari karakter Max (perfectly casted) : cukup cerdas mengayomi guyonan Donna, responsibly good looking, romantis, dan seorang siswa sekolah bisnis. Prospek bagus ini kemudian dipercacat bahwa ia hanya seorang orang asing untuk Donna, mukanya yang memiliki sisi lain : conventional-face-you-dont-want-spend-your-life-with, dan dia dijuluki sebagai pee farter (yeah, dia kentut saat kencing, tepat di depan muka Donna). Konsep one night stand kemudian diperlebar bahwa interaksi Donna dan Max tak berhenti di situ saja. Film pun semakin mengarah ke romantic comedy walau Obvious Child menyajikannya tak terburu-buru dan tak ingin terlalu memaksa, tapi tetap spesial : scene Max melumerkan mentega Donna, atau saat Donna berada dalam sebuah kardus dan berbicara dengan Max atauscene sederhana saat mereka berdua bertukar sepatu. Kisah Max-Donna dipersembahkan dengan banyak batasan, tapi tak membuatnya terasa undercooked.

Ladang yang sama, dengan tanaman yang berbeda. Obvious Child secara kasat mata adalah komedi yang sama, dengan jokes yang efektif, tapi sederhana dan menyenangkan. Tapi lewat sajian tersebut, di dapat pula pandangan tentang tema kehamilan yang merupakan representasi dari sisi paling feminim, mencoba diakses oleh pribadi yang immature. Dalam hal ini istilah “mature” didefinisikan dengan pribadi anti-jokes, serius, bisa menghitung pajak, memiliki rencana keuangan, yang tidak lain tidak bukan adalah karakter ibu Donna (what kind of professor named “Stern” ?). Terlepas dari aksi komedinya, Jenny Slate bekerja pada porsi yang terbatas. Rom-com yang lain akan menerjemahkan dua garis di test pack tersebut sebagai instrumen perubahan (dan terkadang ekstrem), sebuah character development yang klise. Donna lebih memilih tetap pada bentuk primordialnya bahwa tak semua orang bisa berubah dengan jentikan jari. Dan, Donna menyadari ini. Ketika ia ditawarioption kehamilan, ia mengatakan option “Aborsi” seperti ia sedang memesan burger di drive through. Mungkin benar, tema aborsi mengalami degradasi derajat kepentingan, tapi dalam Obvious Child, anak yang belum jelas (masa depannya, kelaminnya, pertanggungjawaban ayahnya) tidak harus hadir, saat Donna tak bisa bertanggung jawab atas dirinya. Jenny Slate-lah yang memberikan pencerahan untuk penonton, ketika ia tak bisa mengubah karakternya yang telah di-script-kan, Slate mengubah panggung kecilnya layaknya bilik pengakuan, bilik curhat, menggabungkan kemampuan dramanya dengan komedi miris, sebuah presentasi bitter sweet dari karakter Donna.

Jika mengira Obvious Child akan sedepresi jalan ceritanya, itu salah. Pesona Slate sudah cukup menutupi, ditambah supporting roles yang selalu meng-enggagepenonton. Salah satunya, Gabby Hoffman – roomate Donna tapi memiliki penampakan fisik seperti saudara kandungnya hampir selalu mencuri moment di setiap ia di layar. Minor tapi penting, karakter Hoffman adalah teropong, guidance untuk Donna melihat cermin dirinya, jika ia masih tetap nekad melakukan aborsi. Teman-teman Donna inilah yang mengganti porsi “cool parents” yang tak terlalu diperankan aktor-aktris menonjol (Why you can’t cast these people : Patricia Clarkson, Allison Janey, Stanley Tucci, J.K Simmons).

Kunci dari Obvious Child adalah mengetahui apa yang diinginkan, menentukan pilihan dan sikap, dipersembahkan dengan jujur, ditabrak sana-sini dengan sisi klisenya, bertahan sampai akhir, kemudian dipelintir dengan twist pertanyaan, “What is “irresponsible, childish”-act, when every woman (in the movie) actually already did “it” ?” Ditambah, penampilan menawan dari Slate yang mempermudah film mengolah rom-com, dan drama tentang seseorang yang sedang hamil “kepribadian” dirinya sendiri. Sebagai jembatan psikologis dan rom-comnya, Obvious Child memberikan kompensasi transformasi, dari sebuah film yang menge-set jadwal aborsi pada Valentine, menjadi film yang menampilkan sepasang laki-laki perempuan melihat Gone with The Wind di televisi. In another word, Gillian Robespierre berhasil mengidentifikasi sendiri filmnya, transformasi film dengan transformasi karakter sebagai topping-nya. (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s