The Homesman (2014) : Double Barreled Shotgun Shoots Western Scale of Insanity with Disjointed Result

Director : Tommy Lee Jones

Writer : Tommy Lee JonesKieran Fitzgerald

Cast : Tommy Lee Jones, Hilary Swank, Grace GummerMeryl StreepHailee Steinfeld

Having sex with the grumpiest man in the world ? That is high level of insanity.

(REVIEW) Let’s do some maths, women who’s going to be insane in very extreme measure,women who’s not getting married in her 30’s, woman who’s hanging herself ? Ok, that is enough. Tidak mencoba mengatakan The Homesman sebagai sebuah film yang misogynist, tetapi keadaan itulah yang mencoba digambarkan Tommy Lee Jones yang harus dihadapi para wanita di daratan kering Nebraska.  The Homesman mendapatkan sebuah objek ekplorasi  yang nyata berupa mental problem, tapi Tommy Lee Jones juga ingin menggabungkannya dengan hal sulit yang lainnya : others characters study dari karakter dirinya, dan leading lady – Hilary Swank. Hasilnya, The Homesman selayaknya rifle dengan dua barel tetapi tidak pernah berhasil menembak sebuah target yang focus.

Marry Bee Cuddy merupakan karakter yang tepat untuk diserahkan kepada Hillary Swank, atau mungkin yang bisa kita sebut sebagai wanita yang selalu dipaksakan untuk melakukan sesuatu, let’s say become a man, become a boxer, dan sekarang Cuddy dipaksakan untuk mengantarkan tiga wanita gila, dengan sebuah wagon, mengarungi daratan dari Nebraska menuju Iowa (it’s very long journey). Keputusannya ini ia mau ambil karena di daerah tempat tinggalnya hampir tidak ada lelaki yang capable untuk melakukan perjalanan tersebut, termasuk pendeta dan para suami wanita gila ini. Selain, dikarenakan bahwa Cuddy hanyalah wanita single, berusia di awal 30-an, yang over-capable menjalani hidupnya : mengolah tanahnya, tinggal sendiri, sampai she’s the one who proposed “her boyfriend”. Menyadari bahwa perjalanan akan berbahaya, saat melihat George Briggs (Tommy Lee Jones) – seorang claim jumper – terduduk di sebuah kuda dengan tali mengikat lehernya, Cuddy mau menolongnya dengan syarat ia harus membantunya mengantarkan wanita-wanita gila tersebut ke Iowa. Dan, perjalanan road trip pun siap dilakukan.

Awal film The Homesman sangat menjanjikan : scoring yang absorbing, sinematografi yang secara tipikal indah menyorot daratan kering lengkap dengan seleberetan cahayanya, dan konsentrasi utama pada Swank yang terlihat langsung bisa memegang layar sebagai karakter yang tough. Seakan-akan menjadi karakter anti-conformist, The Homesman ber-potensi menjadi projek comeback Swank untuk masuk ke dalam award race (paling tidak nominasi Oscar yang lain). Kemudian tone serius – life is tough ini goncang ketika Tommy Lee Jones menggunakan entrance karakternya selayaknya berada dalam film kartun : sekelompok orang menembakinya, kemudian melemparkan sebuah bom asap atau semacamnya ke tempat ia tinggal, dan Jones keluar dengan muka penuh corang-coreng menggunakan baju tidur, selayaknya Tom yang baru saja di-bully oleh Jerry. Dari special entrance inilah konsentrasi film langsung memencar menjadi dua karakter, selayaknya showcase untuk Swank dan Jones dalam saat bersamaan.

Jones pun selaku screenwriter tak pernah mendapatkan satu tone yang pas untuk filmnya : kadang serius, kadang lucu, kadang begitu ekstrem depresi. Jones tak menyetting satu tone yang pasti, atau melakukan pergeseran tone secara gradual, tapi ia mencapur adukkan semuannya menjadi satu, tonally jumbled. Terutama saat Jones juga tidak ingin mengesampingkan tiga wanita gila dengan memberikan flashback karakter ketiganya : Mrs. Sours (Grace Gummer) yang kehilangan anaknya, Mrs. Theoline (Miranda Otto) yang gila karena ternaknya semua ludes dimakan penyakit, dan Mrs. Svendsen (Sonja Richter) yang kehilangan ibunya dan mulai melakukan hal ekstrem setelahnya, seperti menaruh tangannya terbakar di atas lilin. Profil ketiga wanita ini ditunjukkan dengan acak oleh Jones, dan bukannya menjadi sesuatu yang membuat penonton mengerti dan simpati, flashback ini hanyalah pengganggu konsentrasi untuk menjadi focus apalagi film sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar.

Hal yang menarik adalah bagaimana penonton melihat sebuah definisi “kegilaan” bersatu melakukan perjalanan bersama-sama dalam satu wagon. Tidak dapat dipungkiri bahwa Mrs. Sours, Theoline, atau Svendsen adalah definisi “gila” yang lumrah yang sudah biasa diterima. Tapi bagaimanakah dengan definisi, atau kadar kegilaan dari karakter-karakter yang waras, dan sampai batas manakah kadar tersebut sampai menguasai satu individu. Journey with self invention – itulah salah satu tema yang diminati di tahun 2014 ini, setelah muncul Tracks, kemudian film ini, dan Wild yang sepertinya akan menghadirkan hal yang serupa. The Homesman terus mempertanyakan judulnya, ketika film lebih berpolar pada Marry Bee Cuddy dengan Swank yang terus memperkaya karakternya – sebuah afeksi datang dari Cuddy, tidak hanya ditujukan kepada ketiga wanita tanggung jawabnya, namun juga ketika dia terpaksa berhenti memperbaiki sebuah makam, dan mengalami sebuah pengalaman antara hidup dan mati. Sayangnya, Tommy Lee Jones tak pernah menandaskan karakter Cuddy ini dengan tujuan menggalinya sebagai protagonist utama. Cuddy hanyalah karakter yang menjadi pengantar untuk karakter Tommy Lee Jones sendiri.  Beruntungnya untuk Swank, walau karakternya seperti tak terselesaikan, ia mampu menjembatani Cuddy ini sebagai karakter yang bisa paling tidak dipahami aksinya – terutama ketika Cuddy mulai melihat kehidupan yang diimpikannya, hanyalah sebuah kehidupan dari ketiga wanita tersebut yang berakhir terikat dalam sebuah wagon.

When the stairway to “insanity” is more understandable than its reverse way. Berbeda dengan Cuddy yang cukup waras dan beralih mengalami “kegilaan”, George Briggs adalah pekerjaan rumah tersendiri untuk Tommy Lee Jones – seseorang menjadi gila karena tekanan, bisa dimengerti lebih mudah, ketimbang seseorang yang “gila” berubah menjadi sedikit waras ? That will need a medical treatment. Dengan perkenalan karakternya yang dibuat seperti kartun, minimal backgrounds, Briggs tetap menarik untuk dilihat, walau segala motivasinya terlihat entah datang dari mana. He’s a claim jumper. He’s a claim jumper. And now, he’s sane claim  jumper. Tanpa interaksi berarti (but sex), Cuddy bukanlah sebuah alat transformasi yang efektif untuk Jones siap ke dalam tahap berikutnya. Seperempat terakhir film ini pun sudah kehilangan apa yang dijanjikan di tengah film, a non makes sense – self invention is worse than I thought. Ditambah dengan beberapa kehadiran talent yang ditunggu-tunggu, dan memang disiapkan di akhir film seperti Meryl Streep dan Hailee Steinfeld dalam peran minor mereka, tak cukup bisa me-redeem kekecewaan yang telah dibuat dari cerita sebuah film dari adaptasi novel berjudul yang sama. Jones berhasil menggambarkan insanity scale para karakternya, tapi untuk menjelaskannya, itu masih menjadi hal yang lain. (C+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s