Honeymoon (2014) : Chemistry Crawls, Holding Its Horses Way Too Long with Its Anti Sharing Material

Director : Leigh Janiak

Writer : Phil Graziadei, Leigh Janiak

Cast : Rose Leslie, Harry Treadaway, Ben Huber

If you see someone flashes your room in the middle of the night, have sex !

(REVIEW) 2014, bukanlah tahun yang begitu menggembirakan untuk couple (but congratulation to you, George Clooney), sebut saja pasangan di In Fear yang mengalami nasib buruk berhadapan dengan terror berandalan, atau pasangan di Willow Creek yang tiba-tiba harus berhadapan dengan horror auman dari Big Foot. Kemudian, ada lagi Honeymoon, horror body invasion yang kembali menawarkan one couple show di tengah hutan menghadapi dark forces yang menyerang mereka.

Leigh Janiak mempercayakan filmnya pada dua actor muda untuk berpasangan sebagai suami istri. Bijak, yeah, karena dengan sisi muda mereka akan terlihat sebuah dinamika pasangan dan chemistry ang misinya akan diubah sebagai sebuah roller coaster mimpi buruk oleh Janiak. Mereka adalah Bea (Rose Leslie) dan Paul (Harry Treadway)newlyweds, yang dengan sisi remaja mereka akhirnya mau menempuh ke jenjang lebih serius. Dan, walau banyak keterbatasan saat proses lamaran, pasangan ini akhirnya melakukan hal ter-cliché (???), terlumrah oleh pasangan baru, yaitu bulan madu. Di rumah danau mereka. Basic-nya di tengah hutan.

Dari awal film, Janiak sudah memberikan penandasan core filmnya yaitu lewat kekuatan chemistry kedua pasangan Bea-Paul yang direkam dengan sebuah videotape untuk menunjukkan kepada penonton bahwa pasangan ini adalah pasangan cocok satu sama lain. Walau tidak terlalu mengikat penonton dengan chemistry yang seharusnya lebih bisa ditunjukkan, paling tidak videotape ini merupakan awalan yang baik untuk Honeymoon mempersiapkan senjata dari awal film, yang kemudian akan dilemparkan kembali ke penonton di akhir film.

Kemudian, film berlanjut dengan Bea – Paul melakukan adegan sex – adegan sex – adegan sex, dengan penuh mesranya melontarkan jokes satu sama lain, hingga akhirnya ada satu jokes yang menguak sisi ketidakmatangan, ketidaksiapan mereka sebagai satu pasangan. Yeah, it’s a womb jokes. Tapi hal ini bukanlah masalah karena sekali lagi Bea-Paul sepertinya sudah memiliki strategi taktis mengatasi konflik mereka. Dan, inilah yang menjadi kekurangan film ini, too perfect couple. Padahal film juga sebenarnya juga akan menggunakan dinamika-nya dengan ingredient ini, salah satunya lewat kecemburuan ringan Paul pada mantan summer boy Bea di masa lalu : Will (Ben Huber) – yang saat ini memiliki kedai rumah makan di sekitaran danau. Barulah Janiak menggoncang kesempurnaan pasangan ini ketika Bea ditemukan di tengah hutan, tengah malam, dalam keadaan telanjang. Sikap Bea mulai terdistraksi, mulai berubah, termasuk ketika Bea mulai menghindari untuk berhubungan sex dengan Paul, disinilah penetrasi dan klimaks Honeymoon mulai dilontarkan.

Melihat salah satu poster Honeymoon, kita akan teringat pada horror super rewarding – The Ruins. Yeah, dengan segala keklisean-nya, The Ruins paling tidak bisa memberikan naik turunnya level adrenalin lewat gore yang mengiris kulit. Inilah yang mencoba ditinggalkan Honeymoon. I’m okay with that. Mengandalkan misteri karakter, misteri lingkungan sekitar, sedikit misteri yang berhubungan dengan perut, yeah Rosemary’s Baby. Jika Rosemary’s Baby dilihat dari pihak perempuan yang terinvasi, Honeymoon mulai menggeser concern-nya yang semula dari satu pasangan secara keseluruhan, menjadi anxiety yang dialami Paul saja (and Harry Treadway isn’t Mia Farrow). Dan, inilah yang membuat Honeymoon mulai menjadi sebuah horror thriller  dengan anti sharing material, dengan langsung tertutupnya karakternya, membuat Bea malah menjadi karakter satu dimensi yang malah semakin dangkal untuk dilihat.

Memang sebuah horror atau thriller tidak harus mengumbar misterinya, tapi seberapa lama sebuah film genre ini menahan melepas kudanya adalah satu hal yang harus dipertimbangkan, mengingat penonton pasti memiliki toleransi sendiri. Kompensasinya, film ini tidak secara menonjol dari segi performance (walau masih diatas rata-rata), film ini tidak berusaha membuka misterinya layer per layer, sebagai gantinya karakter Paul mempertanyakan, “Who are you ? Who are you ? Who are you ?”, setiap saat setiap waktu. Padahal satu yang dilupakan, film tidak hanya menggunakan sudut pandang seorang Paul saja, penonton adalah pihak yang mulai “serba tahu”, sehingga semua pertanyaan tersebut mulai basi.

Honeymoon terjebak pada kode etiknya sendiri, dan mengandalkan interaksi Bea – Harry yang tadinya mesra menjadi terus berjarak saja, dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang menonjol. Satu-satunya yang patut diacungi jempol adalah bagaimana Janiak menyebarkan pattern yang akan menentukan aksi Bea dalam usaha menutupi jati dirinya yang mulai berubah. Kemudian, kode etik, pattern film ini mulai menyerang balik film ketika Janiak menghadirkan resolusi – final act yang bersifat sentimental, tapi malah membuat sebuah plot hole yang begitu besar, jika Bea harus terus mencatat nama – alamat – umur – warna kesukaan yang merupakan memori dasar sebuah kepribadian, bagaimana bisa ia memperjuangan, atau mengingat cintanya kepada Paul ? Hmmm, that is big question. (C+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s