ABCs of Death 2 (2014) : Euphoric Clusterfuck of Sandbagging Segments, Z is for Zygote Resurrects as The Best One

Director : Rodney Ascher, Julian Barratt, 29 more credits

Writer : Robert Boocheck (segment), Alejandro Brugués,14 more credits

Cast : Martina García, Laurence R. Harvey, Andy Nyman, see full cast and crew

As long as there’s no F is for Fart, as long as there’s no F is for Fart….

(REVIEW) Teringat perkataan teman, “Lu harus dapet sesuatu setelah menonton film.” (Yep, he was mocking me, and then he recommended Morgan Freeman’s The Bucket List). Darah yang sama, tulang patah yang sama, sampai satu titik : I’m done with Saw – Final Destination – cheap gore thing, walaupun selalu merasa bahwa awal ketertarikan melihat sebuah film – menjadi fans film, sejarahnya berasal dari hal berdarah seperti itu, kemudian baru merambat mau menonton ke genre yang lain. Kemudian ada orang gila yang membuat konsep ensiklopedia kematian, berisi 26 segmen pendek dari 26 filmmaker berbeda. Tak ada yang bisa dilakukan, basic needdari penyuka film pun timbul lagi, I’m in !!!

Tahun lalu kita mendapatkan salah satu segmen tergila yang berasal dari negeri sendiri Timobros’ L is for Libido (yep, watching a segmen from Indonesian filmmaker with woman and shown pubes is such enlightment). Dengan sejarah Rumah Dara yang merupakan hasil ekspansi dari short movie, terasa jelas keseriusan dan sisi ambisius dari Timobros untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut. Kata “serius” memang menjadi sebuah kata yang relatif dan menentukan kenikmatan segmen per segmen. Dibandingkan film sebelumnya, The ABCs of Death 2 lebih baik, lebih serius dan tetap fun (Thank God, there’s no F is for Fart).

Antara sebuah kesalahan atau tidak, memberikan Chris Nash dengan alfabet Z is for Zygote. Terbukti segmen pamungkas ini adalah klimaks dengan predikat segmen terbaik dan jika ditaruh di awal akan menaikkan bar film, dan menyisakan semua segmen sebagai kekecewaan. Alkisah seorang perempuan yang sedang mengandung dan dipaksa untuk minum ramuan penguat kandungan oleh suaminya, dan tak disangka, ramuan ini adalah mimpi buruk untuk 13 tahun mendatang. Z is for Zygote merupakan bukti sebuah segmen bisa memiliki konsep yang kuat, tapi familiar (sesuatu yang L is for Libido sedikit missed), dieksekusi dengan gelap dan tajam, gore yang siap membuat pingsan (as sharp as X is for XXL’s razor), tapi tak melupakan euphoria yang menjadi kekuatan utama film ini (sesuatu yang dilupakan Ti West dengan M is for Miscarriage tahun lalu, though personally, I liked it). Sama seperti Ti West tahun lalu, Chris Nash tak terjebak kata “mati” sebagai hasil akhir. Kata “mati” diolah, dan digunakan sebagai jembatan ke dalam horor yang lebih disturbing. Jika ABCs of Death sebuah kompetisi dengan hadiah utama segmen dijadikan film panjang, Z is for Zygote pantas mendapatkannya. With the double twist, like Hitchock.

Segmen dengan aroma Asia adalah salah satu yang mendapatkan peningkatan tajam. Setelah kekacauan tahun kemarin, dengan predikat “what the fuck ?????”- not with exclamation mark, Y is for Youth mempertahankan gayanya tanpa harus kehilangan esensi untuk sebagai sebuah segmen yang serius. Menjijikan (big penis does exist), imajinatif, dan bisa dimengerti. Y for Youth adalah produk hormonal dengan eksekusi yang pas. Ada lagi O is for Ochlocracy (mob rule), adalah sebuah entryyang cukup menyegarkan pada subgenre zombie. Lucu, tapi tak terlalu dipaksakan, walau segmen ini banyak melucuti sisi thrilling-nya.

Jika diamati filmmaker yang mendapatkan odd letter adalah segmen-segmen yang menonjol. Lihat saja Z, Y, kemudian ada Q is for Questionnare memberikan editing yang mempertahankan misteri, dan minat penonton. Ada pula X is for Xylophone (versus Gramophone) tentang seorang baby sitter yang memiliki gangguan jiwa. Masih ingat T is for Toilet dimana salah satu anak terlindas kepalanya dalam stop motion ? Xylophone cukup sederhana, singkat, tapi efektif. Horror with child is always enticing me.

Negatifnya, The ABCs of Death 2 juga berisi segmen-segmen “meh” yang tak terlalu menarik. Sama seperti tahun lalu, segmen dengan bau science fiction, futuristik atau sebagainya adalah segmen nanggung, alias half cooked. U is for Utopia lebih cocok sebagai iklan satire yang stylish tentang kefanatikan sebuah tatanan masyarakat terhadap brand tertentu ( a wink to you, Steve Jobs), tapi segmen tersebut tak seburuk dengan K is for Knell, sebuah invasi alien atau apalah itu, yang tak kurang lebih hanya bermain pada visual effect nanggung.

Apa yang kurang dari sekuel ini adalah humor dan animasi. Tahun lalu, kita punya burung beo gila, dua animasi yang cukup menghibur, tetapi tahun ini sisi komedi tersebut banyak missed. H is for Head Games dan P is for P-P-P-P adalah segmen yang tidak bisa menukar “kejelekan visualnya” dengan kelucuan atau cerita yang menyegarkan di tengah segmen yang serius-serius-serius. Selain itu, sekuel ini memiliki diversity yang cenderung lebih plain, walau secara garis besar tak ada segmen-segmen berbau amatir seperti pada predesornya. Kurang pula segmen-segmen dengan eksekusi simple tapi menarik seperti G for Gravity atau O for Orgasm.

Dan akhirnya, pembuka dari The ABCs of Death adalah A is for Amateur, sebuah cerita yang sedikit “meta” tentang seorang pembunuh yang terjebak pada ventilasi udara (even John Cussack in 1408 is better crawler), kejutan dan cocok sebagai pembuka. Segmen-segmen sisanya cukup tipikal menegangkan walau tidakremarkable seperti C is for Capital Punishment yang mengingatkan kita pada final act Mystic River, permainan berbahaya R is for Roulette yang menyandarkan kejutan yang sama seperti pembuka ABC of Death tahun lalu, N for Nexus yang mengingatkan kita pada adegan The Curious Case of Benjamin Button, dan sebagainya.

The ABCs of Death 2 terlihat lebih stabil dari pendahulunya lewat nature segmen yang sifatnya lebih homogen dan kurang variatif, dan masih menghadapi downsidedari segmen-segmen yang sandbagging terhadap segmen yang mungkin membutuhkan durasi lebih. Tapi lebih dari itu, The ABCs of Death tetaplah euphoria sakit menyenangkan, dan kapan lagi mendapatkan 26 segmen pendek dengan garis merah dari berbagai filmmaker. Sebuah kado kecil untuk spesies yang tak keberatan melihat spesiesnya sendiri untuk dibunuh, dipotong, disetrum, dikuliti. Okay, where’s flamethrower ? (C)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s