Horns (2014) Has A Lot to Offer, Devilish Mumbo Jumbo Whispers In Childhood – related Murder Case

Director : Alexandre Aja

Writer : Keith Bunin (screenplay), Joe Hill (novel)

Cast :  Daniel RadcliffeJuno Temple, Max Minghella

What a loss, he’s not trying his parseltongue skill….

(REVIEW) Jika sedang mencari horor yang elegan atau subtle, lupakan Horns. Diangkat dari buku bestseller karya Joe Hill, Horns juga merupakan sebuah cerita yang tidak jauh-jauh dari karya ayahnya – Stephen King, yang kadang melibatkan sebuah kasus kriminal, dengan sisi paranormal, dan elemen-elemen yang terkadang mempertanyakan akal sehat. Tapi, inilah yang membuat Horns berbeda, perpaduan horor, fantasi, komedi, yang memiliki originality dengan herbagai elemen yang terlihat berantakan untuk dipadukan, tapi, surprisingly, merupakan sebuah perpaduan yang pas.

Ig (Daniel Radcliffe) dan Merrin (Juno Temple) merupakan pasangan yang sempurna, memadu kasih di rumah pohon mereka yang merupakan sebuah peninggalan masa kecil. “I am gonna love you for the rest of my life.”, begitulah kata Ig, yang kemudian dijawab Merrin, “Just love me for the rest of mine.”. Opening ini kemudian diputar 360 derajat ketika Merrin ditemukan tewas di rumah pohon mereka, dan Ig menjadi bulan-bulanan media serta masyarakat sekitar karena ia satu-satunya orang yang memiliki motif membunuh Merrin. Dibantu oleh temannya, Lee (Max Minghella) – satu-satunya orang yang mempercayainya, Ig berusaha menangkap pembunuh kekasihnya.

Awal dari Horns adalah film dengan masing-masing elemen yang terlihat tidak klop – sebuah setting tempat dengan heavenly atmosphere, opening title page yang terasa random, sampai penggunaan lagu Heroes – David Bowie yang juga tidak pada tempatnya (you know that song is Perks’ property). Tak ada yang menarik melihat sosok Ig dipersalahkan berbagai macam pihak (termasuk statement tidak langsung dari orang tuanya) atas pembunuhan Merrin. Kemudian, suatu pagi, Ig dikejutkan dengan munculnya dua tanduk di kepalanya yang semakin memanjang, film pun mulai menunjukkan taring originalitas-nya.

Memang Horns membutuhkan waktu untuk bisa membentuk dirinya sendiri, bahkan dengan kemunculan dua tanduk di kepala Radcliffe, film malah semakin bernuansa comedy ketimbang menguatkan alamnya untuk menjadi gelap. Tanduk tersebut bukanlah tanduk biasa – seakan menggeser ekspektasi pertama yang mengira tanduk tersebut akan menjadi simbol bulan-bulanan untuk media menguatkan citra “iblis”/ bersalah terhadap Ig, tanduk tersebut memiliki power untuk memicu berbagai confession dan rasa persuasif yang luar biasa ketika Ig menyarankan hal-hal buruk untuk orang-orang di sekitarnya.

Alexandre Aja juga menyertakan beberapa momen flashback masa kecil yang semakin memperkaya film  walau juga semakin menabur elemen tambahan tak menentu. Flashback ini kemudian mulai membentuk kasus pembunuhan menjadi sebuah kasus pembunuhan dengan multi suspect dimana para penontonnya mulai mencurigai karakter-karakter dari masa kecil Ig yang terlibat. Alangkah membosankannya jika Horns hanya menyandarkan diri pada hal ini, yep that’s like basic prototype of Veronica Mars The Movie this year. Dan, semakin sadarnya Radcliffe dengan kekuatannya, yang berdasarkan sebuah stereotype karakter dari eksistensi sebuah tanduk, Horns mulai enjoyable, dengan banyak hal yang bisa ditawarkan.

Berdasarkan filmography-nya, Alexandre Aja memiliki bakat untuk mengolah sesuatu yang campy, cheesy, bahkan tidak masuk akal. Karyanya yang missed karena absennya sisi humor yang membuat film terasa berlebihan (bahkan ekstrem untuk The Hills Have Eyes atau Maniac karya terakhirnya), disinilah dark humor untuk Horns bermain. Berani menempatkan komedi seakan-akan menegaskan sifat ignorance film ini dengan apa yang sedang dilihat penonton, hasilnya merupakan sebuah kombinasi yang percaya diri, selebrasi, bahkan Horns juga seakan-akan meng-embrace berbagai elemen yang “sedikit memaksa” dengan komitmen tersebut, termasuk pada penggunaan visual effect yang tak terlalu sempurna.

Embrace the image, hal ini juga yang dilakukan oleh Daniel Radcliffe dalam Horns. Tidak dengan pretentious menghindari peran yang dekat dengan magic, supernatural demi melepaskan image-nya, Radcliffe malah semakin menegaskannya. Yeah, memandang Ig bermain dengan ular-ular iblisnya pasti akan membuat penonton teringat Harry Potter dengan parseltongue-nya. Terbukti Radcliffe dengan sesuatu yang gelap masih memiliki stardom untuk memegang sebuah layar dengan pasti. Karakter Ig pun menarik, melihat sebuah kekuatan Iblis yang diberikan Tuhan untuk sebuah kebaikan me-reveal kejahatan – sebuah ironi yang tak pernah lepas dari film ini. Ig juga karakter yang sebenarnya kompleks : seseorang yang berada pada perbatasan antara menggunakan kekuatannya demi kebaikan, atau menggunakannya sebagai sarana balas dendam karena ia memang berkapabilitas memiliki hal tersebut.

Salah satu hal yang mahal dalam sebuah murder case : honesty. Horns memilikinya, walau pada akhirnya Horns bukanlah film investigasi yang melibatkan banyak clue yang bermuara pada satu tersangka. Horns lebih seperti proses re-telling sebuah kasus, atau dengan alurnya, Horns lebih seperti rekonstruksi. Sebagai sebuah film yang melibatkan elemen paranormal yang bizzare, tanduk Ig bukanlah sebuah objek yang dikupas – mengapa Ig memilikinya, mengapa Ig bertransformasi, dan lain-lain sebagainya merupakan jawaban yang tidak akan diperoleh dengan akal sehat, dan jika Horns memaksakan untuk menjawabnya, penonton tidak akan pernah bisa puas dengan jawaban tersebut. Keberadaan tanduk ini kemudian bisa penonton “terima” ketika Horns menyetting tempatnya layaknya sebuah tempat di luar dunia – sebuah kota yang dibuat seakan terisolasi dengan penduduk kota yang terbatas, hutan Eden dengan berbagai bentuk pohonnya, fairy-image dari Juno Temple (she’s in Maleficent too) semakin menguatkan penonton untuk berpikir Horns bukanlah real case, Horns adalah sebuah mindless fairytale.

Horns merupakan sebuah film yang terkesan clumsy, tapi bisa bekerja untuk penonton. Dan, untuk penonton yang bisa mengesampingkan banyak hal, Horns adalah hiburan yang sangat menyenangkan dengan premise yang original, dikembangkan dengan original pula, walaupun akhirnya dibubuhi penyelesaian murder case yang begitu biasa, bahkan tearjerker di akhirnya. Hebatnya lagi, Horns membubuhkan scene terakhir (yang juga scene pertama film ini) sebagai penetral dengan apa yang telah dirasakan film ini. Finally, the devil done the good deed ! (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s