White Bird in a Blizzard (2014) is The Brightest Crayon in The Box, Heavy Lifting of Total Ignorance

Director : Gregg Araki

Writer : Gregg Araki, Laura Kasischke (based on the novel by)

Cast : Shailene WoodleyEva GreenChristopher Meloni

Once your mom disappears ? Make Beef Wellington, like very quick !

(REVIEW) What an ideal family, sang ibu yang jago merawat rumah dan memasak makan malam (today is Beef Wellington, tommorow is Crab Thermidore) (Eva Green) dengan suami yang setiap hari mengatakan “I’m home, honey” , botak, perut buncit(Christopher Meloni), dan anak semata wayang mereka, Kat (Shailene Woodley) yang mulai beranjak dewasa. Sayangnya, seiring waktu berjalan, kehidupan keluarga ini tak secemerlang furniture tahun 80’an, Eve hanyalah ibu rumah tangga yang insecure ketika anaknya seakan-akan mencuri predikat “supreme” dari dirinya, dia juga bahkan tak lagi mencintai suaminya, kepergian Eve dari rumah sepertinya hanya menunggu waktu. Dan, suatu hari ketika Kat pulang sekolah, ayahnya terlihat tegang mengatakan ibunya telah menghilang, Kat hanya berkata, “She’s probably at store or something.”, dan terkadang definisi “something” tersebut adalah cukup luas untuk mencakup sesuatu yang mengerikan.

White Bird in a Blizzard menjadi sebuah coming of age yang berbeda karena memuat berbagai aspek yang memang sarat dengan kehidupan remaja : keluarga yang disfungsional, percintaan remaja, dan yang paling utama adalah sex. Dalam sebuah fase yang penuh dengan jadwal penting dan tidak penting, White Bird in a Blizzard sukses menyampaikan karakter Kat sebagai sebuah karakter yang tak mengindahkan semuanya : Ibunya, pendapat orang, mimpi surreal-nya dan yang menjadi highlight adalah bagaimana Gregg Ararki menggunakannya untuk mengacuhkan inteligensi penonton dalam hal menebak sebuah jalan cerita yang bisa dibilang tidak segar lagi.

Memang tugas sebuah film tidak hanya untuk bercerita, tetapi juga menyampaikan sebuah sensasi : senang, sedih, tegang, takut adalah beberapa sensasi yang lumrah. White Bird in a Blizzard menyampaikan sebuah rasa “tidak diperhatikan”. Dengan plot-nya yang sebening kristal, penonton dibuat berteriak, “Hey open that thing !”, “Hey, wake up ! Wake up !”, dan dengan percaya dirinya, film juga menyebarkan clue yang kelewat nyata ketika Kat mendapatkan mimpi-mimpi aneh, salah satunya adalah paska Eve menghilang, ia bermimpi Eve tiduran telanjang ditutupi salju. Dan, semuannya seakan-akan dibiarkan seperti angin sepoi-sepoi, inilah yang mungkin bisa disebut, the unexpected virtue of ignorance : ignorance kills (is that a virtue ?)

Mungkin sebaiknya tidak memberikan predikat thriller pada film ini, karena memang film ini tidak berusaha untuk menjadi thrilling. White Bird in a Blizzard menghidupkan kata “white bird” – not red, not green, not blue, sebagai bentuk bagaimana seseorang bisa berubah menjadi seakan-akan berpikiran “bersih”, naive, dan bodoh dalam waktu yang bersamaan. Dan, akan banyak yang tidak setuju memang jika mengatakan Kat adalah karakter yang naive. Terutama ketika kita melihatnya sebagai seorang gadis yang mendapatkan “suddenly have thin body with over self esteem”, meronta-ronta pacar samping rumahnya (Shiloh Fernandez) untuk berhubungan sex, dan ketika ia menolaknya, ia  berpaling merayu detektif berusia 40 tahunan yang menyelidiki kasus hilang ibunya.

Sex merupakan sebuah senjata yang efektif untuk mengalihkan dunia, dan dengan komitmen Shailene Woodley sebagai “the next Kate Winslet with perfect tits”, sex memang menjadi sisi yang overwhelming di dalam film ini. Beruntungnya, Kat adalah karakter yang memberikan kompensasi untuk Woodley memberikan “semuannya”. Ia mempertahankan citra “coming of age”-nya dengan sisi seductive dengan dandanan yang membuat kita setuju ketika Eve mengatai dirinya sebagai “you’re a little slut”.

Tetapi film ini sepenuhnya merupakan milik Eva Green. Siapa lagi yang bisa merepresentasikan “dreamy housewife” yang berubah menjadi “confused, stress, with nervous breakdown housewife” jika bukan seorang Eva Green (besides she’s one of the best Bond girl)? Ditambah dengan ia mendapatkan segala amunisi yang ia perlukan : mini skirt, seethrough night gown, not quite a nudity but good enough to show her curve, dan yang paling utama adalah anak siapa yang tak merasa terintimidasi dengan seorang ibu yang mengucapkan setiap perkataan seintens aksen Rusia ? Berbeda dari jalan cerita Eve yang terus dibayangi Kat, Eva Green terus menempel kuat membayangi Shailene Woodley disamping screentime-nya yang terbatas dan melompat-lompat lewat flashback. Walaupun pada beberapa scene, Eva Green juga tak terlihat bisa berpadu dengan setting film, ataupun pemain lain yang berusaha bermain halus.

Gregg Ararki dengan potensi kesulitan meng-handle jalan cerita tak linear, berhasil meluaskan dunia coming of age-nya lewat kehidupan Kat yang “sibuk” dan setting waktu yang luas (film bersetting dari akhir tahun 80’an sampai awal 90’an) dan dengan menggunakan kasus hilangnya Eve sebagai sebuah lingkup kecil yang menjadi perwujudan sebuah virtue remaja (which is : ignorance) yang tadinya bisa dilihat lumrah, tapi kemudian beralih menjadi fatal. Dan untuk itu, film ini menjadi film yang disturbing lewat caranya tersendiri.

White Bird in a Blizzard merupakan sebuah kasus kriminal, yang tidak memerlukan sebuah strategi menutup diri, atau strategi melakukan pembiasan pandangan penonton, tapi dengan kesederhanaannya film ini mampu menjadi sebuah sajian yang membuat penonton merasakan sensasi kesal (in a good way, the last time I felt is when I was watching Compliance). Why you bother when the character even doesn’t try to reveal it ?

Dan dengan ending yang juga dibuat sebagai sebuah realisasi, a bullseye to the movie’s mission, merupakan sebuah tembakan tepat diantara mata untuk penonton, dengan sombongnya menebak-nebak plot film, dan dijawab dengan pernyataan seorang Gregg Ararki bahwa film ini bukanlah sebuah thriller (jika dia mau pastinya dia bisa menghadirkan final act sebagai mouse and cat game), White Bird in A Blizzard is all about ignorant world of a teenage.

And if it was supposed to be a thriller, it just ended up as a mediocre one, wasting time. (B++)

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s