Lilting (2014) is Smooth Strike of Cross Cultural, Speaking Languages to Muffle The Tone of Bereavement

Director : Hong Khaou

Writer : Hong Khaou

Cast : Pei-pei Cheng, Ben Whishaw, Andrew Leung

Yes, I call it family drama.

(REVIEW) Jika masih menganggap LGBT sebagai sebuah produk bawaan pengaruh Barat, Lilting bisa dikatakan menabrakkan LGBT dengan conformity bersifat ketimuran, menjadikannya seakan-akan sebagai sebuah west versus east. Namun, Lilting mengolahnya dengan sangat halus, menekankan perasaan ketimbang kemungkinan destruksi yang bisa saja terjadi, dan mengubah hal tersebut menjadi sebuah bahasa universal yang mungkin bisa dipahami siapa saja. Tidak hanya berbicara tentang bahasa LGBT, Lilting memperkaya dirinya dengan isu motherhood, grief, loss, cross cultural, sampai perbedaan usia yang benar-benar dihormati  di dalam film.

Sejak awal film, Lilting langsung menancapkan statement ke jantung penonton. Junn (Pei-Pei Cheng) dengan senangnya menyambut anak semata wayangnya – Kai (Andrew Leung) yang mengunjunginya di nursing home tempat sekarang ia tinggal. Berbagi hubungan meyakinkan ibu dan anak, keduannya saling melontarkan keceriaan, kesedihan Junn tinggal sendiri, sampai ketidaksukaan Junn pada Richard (Ben Wishaw) – teman satu flat Kai yang membuatnya tak bisa bersatu dengan anaknya. Kejutan datang ketika petugas nursing home mengetok pintunya, dan barulah penonton tahu apa yang baru saja dilihat hanyalah imajinasi Junn semata, atau memory-nya tentang Kai yang baru saja meninggal.

Sederhana, halus, tenang, terkesan tak terlalu ambisius, dengan sinematografi yang mengiringinya dengan baik. Pertanyaan mengapa film ini memenangkan Cinematography Award dalam ajang Sundance terjawab sudah. Memang terdapat beberapa permainan kamera dalam Lilting dengan komposisi warna yang seimbang dan menenangkan (like we’re in therapy room) yang tersaji dalam satu layar. Tetapi yang paling membuatnya special adalah bagaimana semua teknik ini memperlakukan sebuah memory, kenangan menjadi sesuatu yang masih terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Dan, kenangan yang dibuat berputar dengan daily rate ini menjadi sebuah instrument yang menghantui, sekaligus alat pemutar kesedihan yang efektif.

Kenangan itu adalah Kai yang mampu menjembatani dua karakter dengan elemen yang sangat berbeda untuk bisa berinteraksi. Junn, seorang manula campuran Kamboja China yang entah sampai kapanpun ia tinggal di Inggris, tak akan pernah bisa berbicara Inggris (kecuali “Fuck you !”), dan Richard yang sebenarnya adalah pacar “rahasia” Kai yang sudah menginjak tahun keempat. Keduannya saling tarik ulur saling menyalahkan satu sama lain, walau selalu mereka redam untuk berteriak. Junn menyalahkan Richard atas tindakannya yang “merebut” Kai, sedangkan Richard menyalahkan Junn karena terlalu dependent dengan anaknya. Satu-satunya persamaan yang mereka miliki adalah duka mendalam, kebingungan paska Kai meninggal, dan terutama untuk Junn, hidupnya mungkin akan berhenti di nursing home  untuk selamanya. Ketika Junn berjumpa dengan Alan (Peter Bowles) – manula lain yang memiliki love interest dengan Junn. Richard menyewa seorang translator (Naomi Christie) untuk menjembatani perbedaan bahasa antara Alan dan Junn, dan mungkin juga berbagi kesedihannya dengan ibu dari kekasih tercintanya.

Mendapatkan halangan komunikasi dengan bahasa yang multilingual, Lilting mempertahankan sebuah keaslian, sisi awkward, sebuah fase gagap ketika seseorang menyampaikan pesan untuk diterjemahkan, dan yang paling berat adalah setiap terjemahan tersebut selalu menyertakan unsur perasaan di dalamnya. Film berhasil mengatasi segala teknis kaku yang seharusnya terjadi di dalam film seperti ini dengan memanfaatkan “proses” penerjemahan menjadi sebuah gaya bahasa yang lebih dalam, walau tak harus diucapkan. Salah satunya adalah Pei-Pei Cheng yang merupakan mantan aktris laga, tetapi kali ini menghadirkan sisi “tough”-nya lewat acting yang konsisten, kuat, dengan penambahan ekspresi bingung, sekaligus menjadi sebuah dinding tangguh untuk Richard yang sulit ia tembus. Junn dengan sweater berwarna pastelnya dan gaya rambutnya (is it Pixie ? I don’t know) merupakan gravitas dalam film yang menggabungkan ketangguhan sekaligus kelembutan seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya. Berbeda lagi dengan Junn, Richard dituntut untuk lebih sensitif, untuk lebih frustasi, dan sebagai seorang gay dengan kenangan sempurna tentang pacarnya, Ben Wishaw memberikan penampilan vulnerable, yang dikemas dengan mulutnya yang tak bisa mengatakan apa yang harus ia katakan. “Junn, your son is gay.” – menjadi sesuatu yang ingin ia ucapkan ketika Junn dengan halus mulai merebut kenangannya dengan Kai, termasuk abu peninggalannya. Sebagai dua karakter yang sengaja di-mute sepanjang film, Pei-Pei Cheng dan Ben Wishaw memberikan lebih dari apa yang sudah script sediakan.

Sub-plot, romansa cinta manula antara Junn dan Alan merupakan sebuah persembahan komedi di dalam film. Bergulir terus sepanjang film, seakan-akan mengoles minyak di tengah isu sensitive, sekaligus kesedihan karakter yang bernuansa depressive. Dan, untuk itu, film sungguh bijak mengolahnya untuk tidak berkutat dengan kesedihan tetapi menawarkan guyonan-guyonan proses linguistic di dalam film. Sub-plot yang terkesan membuang waktu ketika film seharusnya menjelaskan apa yang sedang terjadi antara Richard – Junn dan Kai di masa lalu, dan selalu berada di awang-awang, sub-plot ini hanyalah sebuah perwakilan cerita ketika Junn berkata, “ He is simply who he is, I am who I am.”. Sebuah nature bersifat unapologetic untuk Lilting dalam mempertahankan perbedaan di tengah sebuah asimilasi yang sedang diusahakan, dimana sebuah consensus sebenarnya tidak diperlukan.

Lilting tak pernah membumbung tinggi meneriakkan perasaannya, perasaan selalu dibawa ke dalam udara, melayang membentuk atmosfer teknikal bagaimana sebuah rasa harus disampaikan dalam media sebuah bahasa. Lilting sekaligus menjadi sajian unik “love triangle”, yang tarik ulurnya tanpa terlihat berotot tapi terkontrol dengan indah, dan jika berkaitan dengan afeksi, the best one is the unspeakable one. (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s