Hide Your Smiling Faces (2014) : Unnerving Vibe of Curiosity, Overstretched Absence of Noise

Director : Daniel Patrick Carbone

Writer : Daniel Patrick Carbone

Cast : Ryan Jones, Nathan Varnson, Colm O’Leary

When the kids are too alright, when kids don’t need to be “shush”-ed, that’s time to worry.

(REVIEW) Lewat judulnya, Hide Your Smiling Faces merupakan sebuah film coming of age yang bermuram durja, dan cenderung introvert mengingat penonton merupakan pihak terbuka yang siap menerima segala informasi. Negatifnya, sisi introvert film ini juga mengandung unsur demanding untuk diterjemahkan, dan kenyataannya, film ini mengubah penonton menjadi pihak yang harus selalu mengerti. I am not in the mood, the odd is not in our favor, and it’s frustrating, and it sucks. Menghadapi pilihan bertolak belakang antara “bisa berbicara banyak” atau “tidak berbicara sama sekali”, Hide Your Smiling Faces merupakan cerminan personal dari filmmaker-nya, dalam hal ini Carbone sebagai sutradara dan penulis scenario, menyajikan fase-fase transformative kehidupan remaja dan anak-anak yang disajikan secara lowkey, dan menyangkut isu yang begitu berat – mortality.

Eric (Nathan Varnson) dan Tommy (Ryan Jones) bermain sebagai kakak beradik dengan kehidupan pergaulan yang berbeda, namun akhirnya disatukan dengan sebuah mutual question ketika salah satu teman Tommy, Ian,  ditemukan tewas mengenaskan di bawah sebuah jembatan. Menghadapi tragedy ini, keduannya menunjukkan sebuah reaksi yang berbeda, Eric yang mulai beranjak dewasa harus berhadapan dengan temannya yang lain yang bersifat suicidal, sedangkan Tommy masih terguncang ketika ia mengetahui bahwa ayah Ian memiliki sifat abusive, yang mungkin memiliki andil terhadap kematiannya.

Nathan Varnson dan Ryan Jones bermain apik dalam sisi diam mereka, walau kebanyakan performance mereka juga didasarkan pada attitude alami mereka sebagai seorang anak-anak. Natural, realism, Hide Your Smiling Faces tidak ubahnya sebagai sebuah playground dimana penonton dipaksa menonton dengan detail semua gerak-gerik anak-anak ini. Tentu saja setiap gerak-gerik ini merupakan bentuk simbolisasi dari tranformasi mereka. Tetapi apakah penonton mau menonton ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, di setiap detik, setiap menit, adalah sesuatu yang patut dipertanyakan. We need a timelapse ! We need a timelapse ! Say it !

Mortality merupakan sebuah isu yang berat, terutama jika dihadirkan dalam konsep coming of age seperti ini. Isu yang sedikit rentan ketika sang filmmaker  tak lagi bisa menggunakan trial –error dalam menanggapi sifat curiosity dari para anak-anaknya ini. Diperburuk dengan keengganan sang filmmaker untuk terjun ke dalam sisi dramatis, Hide Your Smiling Faces ibarat sebuah karet yang diulur oleh sang filmmaker dengan maksimal, kemudian ditahan dimana karet itu diperkirakan tidak akan putus. Hasilnya Hide Your Smiling Faces tak mampu memenuhi ekspektasi tinggi yang telah diciptakan sendiri saat dipertunjukkan di Festival Film Tribeca tahun lalu. Ditambah karakter yang bersangkutan memiliki back up minimal tentang kehidupan mereka sebelumnya, keluarga mereka, atau informasi-informasi tambahan yang kurang disajikan dalam film, karakter dengan tanpa track record, kemudian dipaksa berkonsentrasi pada satu isu, dimana isu tersebut merupakan sebuah reaksi alami yang sifatnya tidak terlalu traumatic, menjadikan Hide Your Smiling Faces sebagai film yang memerlukan usaha ektra untuk bisa di-relate oleh penonton

Sisi baiknya, lewat sajian “menarik karet” tersebut, tercipta pula sebuah unnerved vibe, dan dengan interpretasi yang dibiarkan tak terdefinisi, anak-anak ini bisa terlihat suicidal ketika mereka menanyakan berbagai pertanyaan tentang sekarat, mati, dan sebagainya. Dan, dengan durasi delapan puluh menit, tak ada pertanyaan lain di benak penonton selain apakah yang akan dilakukan anak-anak ini ketika mereka memiliki kesempatan untuk berdiri tepat di tepi jembatan, atau apakah mereka akan menarik pelatuk saat mereka memiliki kesempatan memegang senjata.

Gagal dalam me-manage kata “mortality” menjadi hal yang absorbing untuk penonton, Hide Your Smiling Faces merupakan murni produk festival yang berusaha menangkap fase remaja – preremaja di lingkungan rural, dimana pada fase ini dominasi teknologi belumlah sehebat di kota-kota besar. Setting tempat, bagaimana tempat ini ditangkap, ditambah dengan sensitifnya suara alam memang bisa menjadi hiburan tersendiri, ditambah dengan keintiman dua actor ciliknya yang mampu total masuk kedalamnya, Hide Your Smiling Face is pretty good, genuine playground, but no more than that.

Terdapat beberapa potensi untuk cerita bercabang arah menjadi eksternal. Contohnya selalu adanya tensi tentang ayah Ian (Colm O’ Leary) yang mengintimidasi keluarga Eric dan Tommy dengan ancaman-ancamannya, namun itu tidak diolah. Atau, hubungan ayah, ibu, Eric yang ternyata masih beradaptasi dalam lingkungan baru mereka, itu juga tidak jadi ditindaklanjuti. Atau bahkan kematian Ian yang masih memiliki membuka banyak spekulasi, juga menjadi hal “dilupakan” begitu saja. Semua hal tersebut mematahkan karya Carbone yang terkesan anti ambisius ini, menjadi sebuah film yang ambisius dengan caranya tersendiri, salah satunya dengan mengurung kehidupan anak-anak ini ke dalam dunia mereka sendiri (dengan berenang di danau, atau bermain gulat dengan teman-teman mereka, atau di jembatan, seakan-akan film hanya menyelesaikan satu persatu wahana), sedangkan pikiran mereka sedang menjelajah ke dunia yang lebih luas.  (C)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s