Camp X-Ray (2014) : Inconsistent Surveillance Imprisons Audacious Works in Dubious Believability

Director : Peter Sattler

Writer : Peter Sattler

Cast : Kristen Stewart, Peyman Moaadi, Lane Garrison

Stewart doesn’t know Prisoner of Azkaban ? Now, we know why she broke up with Pattinson.

(REVIEW) Fuck Geneva Convention, karena pada dasarnya di tempat terpencil seperti Guantanamo Bay terdapat dua macam prisoners : pertama, penjahat kelas kakap seperti teroris, kedua, para penjaga yang terperangkap karena ditugaskan disana. Dan, berbicara tentang teroris tentu saja tidak akan lepas dengan tragedi Twin Towers 9/11 yang memang menjadi courtesy yang ditampilkan di awal film. Namun, Camp X-Ray tidak akan masuk dalam perdebatan teori konspirasi 9/11 ini, atau masuk ke dalam prejudice liar ketika dua karakter penjaga dan detainee teroris dipertemukan. Camp X-Ray merupakan drama yang mengandalkan karakter, perasaan, mood antara dua karakter yang terjebak pada satu tempat. Dan untuk hal tersebut, sang sutradara sekaligus penulisnya mampu memanfaatkan tebalnya dinding kurungan sebagai media komunikasi yang moving, penuh aturan, walau pada akhirnya berakhir pada sentimentalitas yang tak sesuai dengan setting brutal dari detention camp of Guantanamo Bay.

Apa yang menarik dari Camp X-Ray adalah film menggunakan audacity dari bintang utamanya di tempat yang tepat. Sering dikatakan sebagai “straight face”, Stewart cukup fit in menggunakan personanya (let’s say her best performance of Bella Swan is in last installment when she’s a “strong” vampire, or miscasting of “too strong” Snow White”).

Amy Cole (Kristen Stewart) adalah seorang tentara muda yang ditugaskan ke Guantanamo Bay. Hal tersebut bukanlah hal yang sepenuhnya buruk karena salah satu keinginan terbesarnya adalah meninggalkan kota kecilnya di Florida. Dengan etos kerja “I could handle it”, Amy Cole mendapatkan sebuah lingkungan dimana perbedaaan antara guard – detainee, tidaklah se-simple konsep hitam putih terutama saat ia bertemu dengan Ali (Peyman Moaadi – you see his familiar face in A Separation), seorang detainee tertuduh terorisme yang telah berada di sana selama delapan tahun. Pengalaman delapan tahun Ali dipertemukan dengan keamatiran Amy Cole inilah yang dicoba tarik ulur Peter Sattler, salah satunya lewat adegan yang paling diingat adalah adegan cocktail (coctail means you got a cup, ehem, full of shits, like real shits, feces.)

Camp X-Ray bermain pada setting yang brutal serta ektrem – penjara, namun salah satu yang membuat rasa ketidakpercayaannya adalah film ini beberapa kali mencoba keluar dari kerangkeng tersebut dan mencoba ranah yang lebih sentimental. Tentu saja, hal ini kemudian terasa “too good to be true” ketika Guantanamo Bay bukanlah tempat dimana antara detainee dan guard bisa bebas bercakap-cakap bertukar ide. Apalagi, pada awal film Peter Sattler secara tegas memberikan gambaran SOP yang berjalan disana : they don’t wear name badges, they don’t call detainee prisoners, they even wear fucking gloves all the times. Inkonsistensi dari SOP inilah yang membuat Camp X-Ray memiliki rinky dink believability, tidak peduli se-precious apa cerita yang coba disampaikan. Inkonsistensi ini kemudian seakan-akan berubah menjadi upaya cheating dari Camp X-Ray yang memanipulasi sebuah Guantanamo Bay menjadi tempat yang ideal, untuk menceritakan storyline tentang humanity – at some points it’s like Guantanamo Bay advertisement as your best travelling destination, a marketing to say it’s not so bad to be in Gitmo.

Terlepas dari itu Peter Sattler memperlakukan setting Guantanamo Bay ini dengan penuh kharisma. Beberapa shot menunjukkan tempat ini hanyalah sebuah institusi dimana dua golongan besar terjebak di dalamnya dengan prospek masa depan yang berbeda : para detainee yang menjalankan ibadah dan selalu memegang kitab suci mereka, atau para guard yang dengan tertib hormat siang malam pada bendera negara mereka. Dan, karakter Amy Cole dan Ali sebenarnya dua karakter di luar interval dari dua golongan ekstrem tersebut, hanya karena mereka mau berkomunikasi satu sama lain.

Lewat pick up lines memanggil Amy sebagai “Blondie”, Peyman Mooadi menyajikan sebuah penampilan yang mampu menggabungkan antara kewarasan dan kegilaan selama ditawan delapan tahun di ruangan super kecil. Ia seakan-akan berperilaku normal ketika ia menanyai Amy tentang buku Harry Potter ke-enam yang selalu ia tunggu, dan ia berperilaku lebih normal ketika ia menertawai Amy karena ia tidak tahu Prisoner of Azkaban dan menganggapnya sebagai buku berbau Arab. Sifat supel dari Ali ini mencoba menembus benteng aturan, kode etik yang dipegang Amy Cole, ketika Stewart benar-benar menunjukkan straight face-nya sambil melongok jendela setiap menit sambil berkata “Keep it down !” saat Ali mulai bergerak ke arah emosional dan melempar Amy dengan kotoran, kemudian menari kesenangan. Lewat hal-hal sederhana seperti membahas Harry Potter atau permainan Sudoku inilah setiap komunikasi diawali, tidak akan berubah menjadi sebuah rough discussion antara dua pihak, namun cukup untuk penonton menikmati perjalanan film.

Apa yang dialami Kristen Stewart dan Peymaan Mooadi adalah mendapatkan sebuah karakter yang memiliki universe terlalu luas untuk diperlihatkan di layar. Karakter jauh lebih kaya, lebih luas daripada performance-nya sendiri. Untuk karakter Ali mungkin diperlihatkan seberkas cuplikan saat ia ditangkap paska 9/11, dan range delapan tahun terpenjara mungkin sudah cukup mendefinisi karakter ini. Tetapi untuk seorang Amy Cole, a newcomer, selalu saja ada sisi tidak terekplor terutama ketika ia melepaskan diri memiliki kehidupan tanpa Ali. Sebuah sisi nervous, tersesat, dimana ekspresi dari Stewart berubah menjadi terlalu banyak interpretasi untuk penonton terjemahkan. Bahkan beberapa kali, Stewart terjebak pada ekpresi mukanya sendiri, ketika ia tak mampu menjembatani perasaannya ke penonton.

Camp X-Ray merupakan hiburan yang penuh dengan pesan moral yang punctual, terlepas dari pesan moral tersebut relevan atau tidak, dengan performance dari dua aktornya yang kaya, walau tak semuannya diungkap di layar. Untuk Peter Sattlers, Camp X-Ray merupakan projek tricky untuk sebuah karya debutan, dan dia tiga perempat berhasil, sementara untuk Stewart, menyajikan perfomance seperti ini paska karir Twilight-nya, merupakan sebuah blast yang layak dihargai, walau ia akan memerlukan peran yang lebih potensial membuktikan bakatnya. (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s