A Most Wanted Man (2014) : Uprightness of Espionage World but It Disperses As Bland As It Becomes

Director : Anton Corbijn

Writer : Andrew Bovell (screenplay), John le Carré (novel) 

Cast : Philip Seymour Hoffman, Rachel McAdams, Daniel Brühl, Grigoriy Dobrygin, Willem Dafoe, Robin Wright

It takes a minnow to catch a barracuda, it takes a barracuda to catch a shark, and the problem is I don’t even like fishing, so I’m gonna use a bomb instead, to catch all of them.

(REVIEW) A Most Wanted Man – feel THAT title ! So intense, so focus, namun inilah hal pertama yang misleading dari film ini, ketika film ini sesungguhnya ingin menyuguhkan gambaran realistis nanggung tentang dunia espionage lengkap dengan birokrasi dan tetek bengek prosedurnya. Dan, jika dicermati kembali A Most Wanted Man sesungguhnya adalah Phillip Seymour Hoffman yang menjadikan film ini sebagai salah satu penampilan terakhir dalam karirnya, selain God’s Pocket dan franchise The Hunger Games.

You know why I like a thriller ? Simple, because it’s thrilling. Sesuatu yang tidak akan didapatkan dari A Most Wanted Man, namun hal itu tak menjadi masalah jika film ini memiliki hal lain yang ditawarkan, sayangnya A Most Wanted Man terlalu ter-disperse ke segala arah, terkonsentrasi pada kegiatan mata-mata yang terlalu mengandalkan diskusi dengan atasan, van dan penjagaan 24/7. Bagusnya, hal otentik tersebut sangat mahal untuk subgenre spy, sebuah film yang berkonsentrasi ke dalam organisasi mereka, ketimbang bergerak keluar mencari target yang biasanya sulit untuk dikejar. Organization’s paranoid dan trust adalah dua hal mahal lainnya yang mencoba dipertunjukkan di sepanjang film.

Issa Karpov (Grigoriy Dobrygin), – setengah keturunan Rusia setengah keturunan Chechen, berenang jauh ke Hamburg, sebuah kota yang mendapatkan fokus berlebih setelah kejadian 9/11 karena menjadi kota pelabuhan penuh akses. Kedatangannya yang ilegal, membuat seorang kepala agen espionage Jerman – Gunther (Phillip Seymour Hoffman) memberikan pengawasan khusus kepada Issa, apalagi setelah ia yakin bahwa Issa masih terlibat pada jaringan terorisme, sekaligus pendanaannya. Mengumpamakan Issa adalah seekor minnow yang bisa memancing target yang lebih besar, Gunther mem”biarkan” Issa untuk ber”operasi”, termasuk saat Issa meminta bantuan pengacara muda – Annabelle (Rachel McAdams) untuk mengakses uang warisan berjuta euro pada seorang banker (Willem Dafoe).

Dari awal penonton diperkenalkan dengan berbagai karakter yang memiliki fungsi dan diperankan oleh aktor ternama (termasuk Daniel Bruhl dalam peran yang paling tidak signifikan), hal ini seakan-akan mengatakan bahwa penonton tidak harus menaruh konsentrasi pada satu karakter saja, selain film juga tidak ingin terkesan one man show baik untuk Hoffman maupun Dobrygin. Sempat sekilas berpikir bahwa A Most Wanted Man merupakan sebuah judul alternatif yang tepat untuk Zero Dark Thirty, film ini memiliki garis besar ingin menunjukkan birokrasi dan prosedur bagaimana sebuah aksi harus dieksekusi. Sayangnya, walau ingin menunjukkan ke”alami”-an dalam mengeksekusi, A Most Wanted Man tak memiliki background factual yang membuat sebuah cerita layak, berharga untuk diceritakan. Tentu saja, hal ini dikarenakan film ini sebagai sebuah adaptasi dari buku fiksi (walau sepertinya terinspirasi dari kisah nyata, I checked its IMDb’s trivia) ketimbang lebih menekankan pada facts based.

Tak mendapatkan keuntungan dengan sisi dokumenter-nya, film juga tak mau mengkonversikan dirinya menjadi sebuah sajian entertaining dengan kehilangan sisi gripping-nya. And somehow, i can’t live with that. Performances dari para aktornya lah yang mengambil proses konversi sehingga film masih watchable. Tidak ragu lagi, oleh Hoffman sebagai seekor salmon yang berusaha melawan arus deras dari sistem kerjanya yang merupakan risky business. Ia kembali memanfaatkan sifat persuasifnya seperti yang sudah sudah (let’s say Capote and the Master) untuk menjadi sebuah karakter ambisius namun masih memiliki banyak sisi kemanusiaan, terutama rasa gagal yang ia alami sebelumnya di Beirut, dan ia memiliki trust issue, loneliness, his fatigue, yang begitu besar. Pemain lain, layak untuk menyandangkan Robin Wright sebagai salah satu lawan dan kawan dari seorang Hoffman, lewat terbatasnya waktu Wright masih memberikan impression di tengah karakternya yang mengambil belokan besar dalam film. Dan, Dafoe ? he’s always be a nice a-hole.

The Constant Gardener – sebuah film yang juga menjadi karya sang novelis, masih mengingatkan kita pada performance Rachel Weisz yang begitu normal namun memberikan impact yang begitu besar pada film (because of it, she won an Oscar), memberikan film tak hanya sebuah performance namun juga sebuah cahaya untuk penonton masih peduli dengan karakter, tak peduli seberapa besar mega korporasi yang dilawan. Porsi itu sekarang berada pada tangan Rachel McAdams. Tentu saja ada alasan mengapa ia dipilih, di tengah karirnya yang membutuhkan pembuktian, namun McAdams selalu memiliki instant click dengan co-star-nya. Inilah yang dibutuhkan A Most Wanted Man – sebuah investasi perasaan. Sayangnya McAdams tak mampu memberikan usaha terbaiknya. Yeah, selain lawan mainnya adalah karakter muslim(meaning : no kiss in the rain, no boob flash, and Moslem doesn’t believe in time travel).

Ketika beberapa karakter telah menunjukkan kartu mereka, pemutar plot datang dari sisi innocence Issa Karpov : apakah dia merencanakan sesuatu yang benar-benar besar atau apakah ia sama sekali tak merencakan sesuatu. Sebuah sisi hitam putih berlawanan yang menunjukkan bahwa kejadian 9/11 memicu tindakan preventif dunia internasional bahwa untuk menangkap seekor hiu jahat, memang dibutuhkan umpan hidup seekor barakuda. Whether it’s innocence barracuda or not, sometimes it doesn’t matter anymore. (B-)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s