Boyhood (2014) is Inevitable Prominence, Coming of Age Comes into Existence from Real Growth

Director : Richard Linklater

Writer : Richard Linklater

Cast : Ellar Coltrane, Patricia Arquette, Ethan Hawke, Lorelei Linklater

No botox ! No dying ! – two main rules in Boyhood.

(REVIEW) No shit ! Richard Linklater semakin mengukuhkan dirinya bukan sekedar seorang filmmaker, namun juga seorang long term investor yang tak enggan bermain-bermain dengan sesuatu yang high risk : waktu. Setelah menyelesaikan jibaku romansa Jesse – Celine dalam Before Trilogy, ia ternyata menggarap sebuah film dengan ide sederhana, tapi dengan teknik pengambilan gambar selama 12 tahun. Yep ! You heard me right, 12 Years a Movie !

Idenya sederhana, Richard Linklater hanya ingin menyajikan sebuah film coming of age  dimana salah satu aspeknya sering dilupakan film serupa : growth, dan tak main main Linklater memberikan sebuah growth  yang bisa dilihat kasat mata, menjadikan penonton saat melihat Boyhood seperti membuka lembar demi lembar album foto keluarga yang menyajikan tahap pertumbuhan dari seorang anak. Tidak hanya itu, walau terkesan seperti tahun-pertahun tahap anak yang ditempel sepanjang 160 menit, Linklater tak melupakan cita rasa atau keluwesan lewat sisi magical seperti penonton menemukan sebuah family video dan kemudian menyetelnya. So, what else do you want, parents ?

Dimulai dengan lagu Yellow dari Coldplay yang merupakan milestone tahun 2000-an, itulah pertama kalinya kita melihat wajah Mason (Ellar Coltrane), kenali wajahnya, sukai wajahnya karena penonton akan melihatnya dalam tiga jam ke depan. Dia hanyalah seorang anak biasa yang tiap pulang sekolah diinterograsi sang Ibu (Patricia Arquette) : mengapa sepanjang hari di sekolah tak konsentrasi ? Mengapa ia memasukkan batu di penajam pensilnya ? All about kid’s stuff. Kemudian, baru penonton mengetahui bahwa Mason adalah korban single parent dari ayah ibunya, namun itu bukan masalah, kids don’t give a fuck about everything basically. Bersama kakak perempuannya – Samantha (Loreley Linklater – yep she’s Linklater’s daughter, duh !), dua bersaudara ini tumbuh di lingkungan yang jauh dari kata ideal, termasuk interaksi dengan ayah mereka (Ethan Hawke) yang hanya bersifat kadang-kadang, dan semuannya akan berubah dalam tiga jam ke depan, yep ! It’s like the best timelapse a movie could offer.

Setengah bagian pertama dari film ini adalah bagian yang paling magical. Serasa tak ada yang penting lagi kecuali bisa melihat dua orang anak tumbuh di layar, membesar, dengan perilaku mereka yang menyenangkan. Terutama Samantha – yang merupakan charming straight A student  dan selalu membayangi Mason dalam pergaulan mereka. Samantha memang ditakdirkan sebagai bintang keluarga dan hal ini yang membuat karakter Mason mulai terbentuk : pada dasarnya ia hanya memenuhi perannya sebagai anak laki-laki yang memiliki mulut lebih kecil daripada anak perempuan, idiotic speaking from me. Linklater membiarkan anak-anak ini untuk berperilaku sesuai zamannya ketimbang memanipulasinya termasuk saat salah satu anak perempuan menyanyikan lagu Britney Spears – yang bisa menjadi pengalaman embarrasingly sweet yang relatable untuk penonton yang melakukan hal yang sama (FYI, I didn’t do it).

Linklater tetap memberikan banyak konflik berat untuk Mason dan Samantha, namun juga memberikan sebuah exit strategy untuk membuat masalah ini tak menggunung apalagi mengintimidasi pertumbuhan anak yang merupakan hal paling krusial. Masalah datang dari karakter sang Ibu : unprotected sex – married – having kids – divorced – single parent who hardly paid the bill – married again – divrced again – moving – moving -moving – married again – divorced again – moving (yeah, kurang lebih itulah rangkumannya). Exit strategy  ini tidak lain tidak bukan  adalah sisi natural ignorance anak-anak ini, bahwa tak peduli masalah seberapa berat masalah berseliweran di sekitar mereka, mereka hanyalah anak-anak.

Setiap lima belas menit, anak-anak ini bermetamorfosis ke fisik mereka yang baru, Linklater juga tak melupakan bahwa environment bergerak ke arah yang sama. Some people stayed, some people, hukum alam yang ditunjukkan dalam Boyhood, yang merupakan alat untuk Linklater mancapai sebuah keseimbangan menglah understated conflict dalam film yang terus didesak dengan alam timelapse dalam film, tanpa harus terasa terburu-buru, tanpa harus berkewajiban untuk menyediakan “segala solusi”, namun tetap memiliki sisi rewarding  untuk penonton. Tidak lain tidak bukan karena masalah hanyalah domestic problems yang sudah kerap mampir di telinga atau bahkan setiap rumah pernah mengalaminya.

Jika di Before Trilogy selalu ada diskusi yang diangkat sebagai oli penjalan Celine – Jesse. Di Boyhood, no disscussion is the discussion. Boyhood adalah realisme perjalanan dari seorang anak hingga beranjak dewasa lewat pergaulan dengan temannya, perdebatan dengan ibunya, pura-pura sakit, bertengkar dengan saudara perempuannya, dan lain-lain. Terstruktur dengan apik tanpa terlihat terlalu ambisius di setiap tahapnya sekaligus menghibur sehingga penonton tak ada waktu untuk berkata, “What’s the point of all this ?”. Boyhood yang hanya disyuting beberapa hari, namun dalam jangka waktu 12 tahun, merupakan sebuah pembuktian bahwa Linklater secara konsisten berjalan di atas kawat untuk menjaga keseimbangannya, dimana setiap tahun sorotan syuting ini, ia tak pernah satu kalipun ingin menjadi memberikan sesuatu yang bold, atau ego-nya sebagai sutradara untuk menjadi performer utama. And, it’s fucking 12 years, dude. Seperti halnya yang dikatakan karakter ayah oleh Ethan Hawke saat memberikan CD kompilasi The Beatles paska bubar, di ulang tahun Mason ke 16, mengatakan bahwa tak ada menonjolnya dari masing-masing personil The Beatles adalah keindahan utama dari grup musik itu. Seakan-akan sebuah perumpamaan bahwa tak ada menonjolnya dari setiap tahap tumbuh kembang Mason adalah bagaimana Linklater mencapai keseimbangan.

Boyhood bukanlah film yang sempurna, namun memiliki cara sendiri untuk menjadi spesial, memiliki cara sendiri untuk menjadi magical, dan merupakan sebuah revolusi dari segi visual ketika industri film sibuk dengan pre-production, post production yang hanya sejentikan jari. Spesifiknya, buah kesabaran ini memberikan coming of age terunik dengan cara bertahan pada nature coming of age itu sendiri. (A-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s