The Babadook (2014) : Sick of Haunted House, Creepy Creature and Cheap Terror ? This is The Convalescence

Director : Jennifer Kent

Writer : Jennifer Kent

Cast :  Essie Davis, Noah Wiseman, Hayley McElhinney

Ba-ba-dok-dook-dooook, yeah that’s the new Knock-Knock game.

(REVIEW – mild spoiler) Tahun 2014 dunia horror sepertinya sedikit ber-celibate : tidak ada semacam The Conjuring atau paling tidak Insidious. Walaupun sebenarnya kita memiliki semacam Under The Skin atau Borgman yang merupakan horror jenius namun dikemas dengan arthouse yang sangat kental. Ain’t that enough ? No, it’s not enough ! Sebagai penikmat horror terkadang apa yang kita inginkan adalah horror yang bisa dinikmati, dengan real monster, dengan real ghosts. Dan, The Babadook datang dari daratan Australia untuk memenuhi panggilan ini.

Jennifer Kent’s The Babadook bisa dikatakan sebagai sebuah film yang seharusnya Mama bisa capai dua tahun lalu : sama-sama hasil expand dari short movie, melibatkan konsep keibuan dan anak-anak, melibatkan hal yang bersifat sentimentil di endingnya, dan setan utama memiliki satu darah yang kuat (Mama and Mr. Babadook would be such a cute couple, with cute childrens). Namun, yang dihadirkan Kent tidaklah hanya berhenti pada pengenalan “fairy tales”  a la Guillermo Del Toro yang gelap ke dunia nyata, hadirnya Mr. Babadook – yang juga bisa disebut boogeyman ini merupakan sebuah bentuk manisfestasi dari human condition : grief.

Setelah kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya, Amelie (Essie Davis) kini hidup dengan anaknya (Noah Wiseman) dengan segala aktivitasnya. Tujuh tahun nyatanya belum cukup untuk Amelie melupakan sosok suaminya, terutama karena Samuel -anaknya ibarat sebuah constant reminder yang terus menariknya pada kejadian kecelakaan tersebut. Kondisi Amelie yang semakin buruk, semakin diperburuk dengan peringai Samuel yang jauh dari normal : tidak hanya abusive pada dirinya dan teman-temannya, namun ia juga mem-bully ibunya secara psikologis. Hingga suatu malam, Amelie membacakan buku cerita (yang entah datangnya dari mana) berjudul Mr. Babadook yang bercerita tentang sosok boogeyman yang diperlengkap dengan narasi mengerikan yang siap meneror kehidupan Amelie dan Samuel.

Diangkat dari short movie berjudul Monster – terkesan sebegitulah generic-nya sinopsis dari The Babadook ini, kita bahkan sudah mendapatkan film berjudul Boogeyman yang merupakan makhluk yang suka menghantui anak-anak didalam lemari atau di bawah kolong tempat tidur mereka, boogeyman juga dibahas sebagai sosok Ghoul dalam Sinister atau eksekusi yang paling menyenangkan dari boogeyman adalah Monster, Inc (see ?). Namun, walau tidak menjadi concern utama dalam film, sosok boogeyman ini masih di-refresh oleh Kent sebagai sosok Babadook yang sama sekali belum pernah kita mendengarnya, menghasilkan sebuah karakter supernatural we-have-seen-it-before-but-we-want-to-see-it-again. Jika penonton hanya menganggap The Babadook adalah film rumah hantu, maka akan didapatkan banyak plothole seperti darimana buku The Babadook ini berasal ? Mengapa ia baru menghantui sekarang ? Darimanakah origin dari Mr. Babadook ? Semuannya tak akan didapatkan dalam film.

Hal itu disebabkan karena Mr. Babadook merupakan sebuah bentuk akumulasi dari keadaan yang dialami dari Amelie dan anaknya, dan Jennifer Kent benar-benar meng-embrace keadaan ini. The Babadook begitu minim jump scare murahan, atau gore berlebihan, atau bahkan visual mengerikan dari Mr. Babadook itu sendiri. Ia menggantinya dengan human condition yang begitu kaya akan tekanan yang datang dari pekerjaan, sosial, sex (remember that vibrator scene), keluarga (aspek yang dihadirkan karakter Claire (Hayley McElhinney) ), kesehatan (diceritakan Amelie sedang sakit giginya), sampai kurangnya entertainment (you have to see the TV’s channel in the house – depressing). Keadaan dari Amelie sendiri sudah cukup mengoyak karakternya membuat penonton  terhantui dengannya, Kent kemudian menambahkan sebuah tensi-tensi yang sangat halus dengan hadirnya backstory dari Samuel yang akan mengingatkan kita pada tensi super halus We Need to Talk About Kevin ketika diceritakan bahwa sang ayah meninggal karena dalam proses ke rumah sakit kelahiran Samuel. See ? This hate finally comes to surface.

Kemudian datanglah duo yang mampu mengemban tugas berat – mengampu peran dramatic yang disediakan Kent : Essie Davis begitu stabil memerankan ibu yang sangat labil, dengan pancaran duka yang sangat jelas di raut mukanya. Ia terlihat semakin lelah dengan wrinkle yang terdapat di kelopak matanya, tapi ia masih begitu keibuan ketika berhadapan dengan Samuel yang merupakan dinding terakhir yang terus menekannya. Disampingnya, Noah Wiseman semakin menambah penampilan brilian dari aktor anak-anak yang semakin langka di film-film horor sekarang. Ia begitu versatile berteriak menunjukkan sisi “psycho”-nya dengan begitu alami seperti ia sedang memerankan dirinya sendiri. Karakter ibu dan anak inilah yang memberikan dua reaksi berbeda tentang hal yang sama  yaitu kurangnya perhatian orang sekitar dan duka yang mendalam dari kehilangan orang kesayangan.

Metaphorically speaking, film ini lebih asik jika kita melihat sosok Mr. Babadook ini sebagai sebuah metafora dari Jennifer Kent. Inilah yang membuat The Babadook berbeda. The Babadook hadir sebagai sebuah vehicle yang bisa dilihat kasat mata, yang terus meneror, yang tak bisa dibuang sekali melihatnya, yang dibiarkan masuk oleh Amelie, sebagai sebuah tenor yang merupakan duka mendalam dari karakter tersebut. Tentu saja, jika dilihat dari kaca mata ini, Mr. Babadook akan diasosiasikan dengan karakter sang ayah yang telah meninggal plus satu ruangan yang berisi benda peninggalannya. Satu quote dalam film “you can’t get rid of” semakin memperkokoh bahwa sebuah kenangan atau duka juga turut berbahayanya dengan lurking creature jika tidak bisa dikendalikan. Sebuah scene dimana Mr. Babadook meneror habis Amelie dengan menjatuhkan berbagai atribut pakaiannya : topi, jas, dan lain-lain, menjadi titik nadir batas sadar dan alam bawah sadar untuk Amelie kehilangan kontrol atas pikirannya sendiri tentang sosok suaminya.

Lebih jauh lagi, The Babadook bukan lagi tentang old schoold horror dengan lantai kayu yang merengkik, The Babadok merupakan sebuah representasi dari mutual grief dari Amelie dan Samuel yang dihadirkan dengan gaya horor. Salah satu sisi menarik lainnya adalah Kent seakan-akan memberikan sebuah win-win execution dengan mempertahankan fairy tale itu tetap di dunia nyata yang menjadikan The Babadook sebagai angin segar untuk pecinta horor yang sekedar ingin diteror, sekaligus untuk penonton yang masih ingin berpikir maksud dari setiap scene. Inilah yang membuat The Babadook begitu dalam mengekplorasi formula yang telah lelah dari konsep “Monster”. (A-)

5 comments

  1. oh, udah ada subtitelnya ya kak? di mana?😀

    tbh short filmnya menurutku ga gitu serem sih, memang atmosfer darknya dapet banget tapi akhirnya cuma terasa datar aja gitu (ga tau karena nontonnya waktu terang apa gimana). Endingnya memang agak ‘mengganggu’ tetapi masih sangat tolerable dan yaa… datar.

    1. Kemarin sih belum ada subtitle-nya Bar, jadi nonton polosan :))

      Iya, yang ini juga lebih main atmosfer ketimbang yang bener2 teror, kalo suka dan tahan nnton Rosemary’s Baby mungkin juga suka nonton ini, emang ditonjolin ke drama psikologisnya tapi ranah monster2an juga dirambah dan nggak dibikin sbg halusinasi doang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s