What If (2014) Has Right Ingredients but It Turns Out to be Cheese Ball “Look at The Stars !” – Love Story

Director : Michael Dowse

Writer : Elan Mastai (screenplay), T.J. Dawe (play)

Cast : Daniel Radcliffe, Zoe Kazan, Adam Driver, Mackenzie Davis, Rafe Spall

Never take a romantic love story to Ireland. Never, not even in leap year !

(REVIEW) What If – dua kata yang jika digabungkan menjadi frase yang menghantui karena menggali semua possibility dan uncertainty. Itulah judul baru dari The F-word yang diganti karena menghindari rating R di negara sana. Ironisnya, judul ini tak sesuai dengan apa yang diharapkan, film What If berusaha menutup mata bahwa semakin durasi berjalan, ia semakin terjebak pada pola cinta drama-drama komedi romantis sebelumnya : yep, predictable.

Walau mengambil tagline “—-being friend has its benefits ?”, The F-word yang dimaksud adalah “Friend”, atau lebih tragisnya “Friendzone”. What If memiliki segala amunisinya untuk menjadi komedi romantis yang lebih menempel dan memberi pengaruh kepada penonton : sweetheart leading couple, cool screenplay, “stay to be true” close friends, dan referensi seperti The 500 Days of Summer atau When Harry Met Sally sebagai komedi romantis yang tidak hanya bercerita, namun juga mengajak penonton berdiskusi di diner’s table.

Wallace (Daniel Radcliffe), seorang drop out dari medical school karena pacarnya berselingkuh dan ia memutuskannya. Di atas genteng dengan langit penuh bintang, ia akhirnya berusaha move on dari mantan pacarnya dengan menghapus voice mail yang telah ia simpan lama (200 hari ++). Oh Wallace adalah seorang pemuda yang sinis terhadap cinta, Oh Wallace sudah kapok menjalani relationship – itulah yang berada di pikiran ketika dalam sebuah pesta ia menyusun magnet kulkas dengan tulisan “love is stupid monkey blablabla”. Kemudian datanglah seorang Chantry (Zoe Kazan – another Zooey Deschanel but less annoying), seorang animator yang telah menjalin long term relationship dengan pacarnya (Rafe Spall) dan lebih optimis pada cinta. Keduannya bertemu dan menjalin persahabatan, hingga pada akhirnya keduannya adalah dua orang yang ditakdirkan bersama namun masih kepentok dengan satu istilah “Friendzone”. Dududududu.

Actually being irresistible is annoying, and being effortless irresistible is delighful, What If jatuh pada kalimat pertama. Jika menginginkan komedi a la 500 DoS mungkin What If akan mengobati kerinduan, tetapi jangan sekali-kali mengharapkan film ini akan selevel dengannya. Adalah screenplay yang diucapkan dengan fast pace yang sebenarnya menjadi kekuatan dalam film ini. Berbagai hal dibahas mulai dari Elvis’s undigested feces, sandwich filled with peanut butter and beacon, Europe as sub-continent of Asian, dan lain sebagainya. Cukup menyegarkan mendengarkan mereka sebagai quote-machine dengan tingkah yang benar-benar ingin mempersembahkan sebuah line yang stellar. Kesalahannya adalah What If terlalu sibuk dengan ini. Ia melupakan bahwa dari setiap screenplay itu terdapat semacam element of truth yang merupakan top secret dari keberhasilan film-film referensinya.  Penonton kurang diberikan ruang untuk memberikan feedback secara emosi dalam What If, dan begitulah yang membuat film ini sedikit dangkal.

Kuncinya adalah pada para aktornya. Zoe Kazan tetap memberikan aura magical yang selaras dengan berbagai animasi dan imajinasi yang dilibatkan dalam film. Ia bisa mengucapkan setiap dialog tanpa terlihat berusaha terlalu keras. Tetapi ia mendapatkan partner yang salah. Radcliffe ? Harry Potter – a dad in Woman in Black – someone with Horns – a gay poet ? Wallace memang salah satu karakter kontemporer pertama untuk Radcliffe dengan tanpa atribut apa-apa kecuali kehidupan sehari-hari, dan dia adalah miscast dalam film ini karena absennya comedic timing dari dirinya. Di sisi lain, ia juga kurang bisa memberikan agony terjebak pada rumitnya cinta seperti yang dimiliki Joseph Gordon Levitt atau bahkan Paul Dano di Ruby Sparks. This is the worst performance of him. Mendapatkan materi yang kurang lebih sama anehnya, pasangan teman Wallace dan Chantry (Adam Driver dan Mackenzie Davis) menjadi pasangan yang bisa lebih natural dan lebih membawa pengaruh kepada penonton dengan kejujuran dari peran mereka sebagai kompas “bagaimanakah relationship ideal ?”.

Tahun ini The Fault in Our Star hadir dengan quote-able dialognya, dimana setiap lima menit, setiap karakter mengucapkan dialog seolah-olah mereka memiliki seorang mahasiswa sastra atau sebagainya. Satu kata : suffocating. Itulah yang menjadi problem juga untuk film What If. Film ini ingin memberikan setiap scene-nya remarkable dengan menyajikannya setiap lima belas menit sekali, mungkin, mulai dari adegan yang super dipaksakan saat Wallace dan Chantry yang berada pada ruang ganti sampai adegan yang paling efektif saat keduannya melakukan skinny dipping dan akhirnya Chantry berkata “I’ll see if you see.” dan ditambah dengan beberapa adegan di genteng di langit penuh bintang. You see it, and you know how it becomes over-cute.

Lebih jauh lagi, What If adalah eksekusi aman namun setengah-tengah dari slapstick, full of animation, dengan cerita yang familiar, dengan judul yang tak sesuai dengan kontennya, dan kemudian berujung pada bisa ditebaknya akhir cerita : an airport scene, dqan What If masih tak berhenti sampai disitu saja. Sebuah cerita cinta yang melewati batas ? Yeah it is (C++)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s