If I Stay (2014) : Less Ethereal Out-of-Body Experience Fails to Consider “What’s Important ?” from Its Imbalance Flashbacks

Director : R.J. Cutler

Writer :  Shauna Cross (screenplay), Gayle Forman (novel)

Cast : Chloë Grace Moretz, Mireille Enos, Jamie Blackley

Everything turns out to be a grand shallow unjustified dramatic decision, when Beethoveen all over the place.

(REVIEW) Tak ada yang menolak stardom dari seorang Chloe Grace Moretz, mulai dari awal karirnya di usia belia sampai kita melihatnya tumbuh dewasa di layar. Sayangnya, semakin ia menanjak naik, ia kurang selektif memilih projek yang akan diambilnya dan berujung pada satu hal yang terkadang menjadi bumerang untuknya : sometimes, she’s the only watchable stuff in the screen.

Kali ini dia bukanlah vampire, atau seorang manusia serigala, atau gadis dengan kemampuan telekinesis, ia hanyalah Mia – seorang gadis pemain cello berbakat dengan keluarga dan pergaulan yang cukup normal. Ayah dan ibunya (Joshua Leonard & Mireille Enos) adalah mantan rocker yang memutuskan untuk settle dan berkeluarga normal serta memberikan anaknya kebebasan berekspresi. Ditambah dengan hadirnya Adam (Jamie Blackley) – seorang anak band yang menaruh hati padanya, kehidupan Mia adalah kesempurnaan. Hingga pada suatu hari saat melakukan family trip, keluarga Mia mengalami kecelakaan, dan Mia harus membuat keputusan hidup atau mati saat dunia yang ia kenal mulai satu persatu runtuh.

Jika pernah membaca atau paling tidak melihat buku If I Stay karya Gayle Forman yang pernah menjadi bestseller, pastinya akan sedikit kaget : bagaimanakah buku yang relatif kecil itu bisa berkembang menjadi sebuah film dengan durasi 100 menit ? Inilah masalah pertama dari If I Stay : plotnya berjalan begitu lambat dengan cerita yang sebenarnya sudah begitu familiar (a girl meet a boy, and then they do stuff, including super romantic first sex). Sebenarnya tak masalah untuk film ber-expand atau mencoba untuk faithful terhadap sumbernya, asalkan film masih memiliki daya tarik dan bukan malah berubah menjadi visualisasi pil tidur – dan mengkhianati alasan moviegoer lebih memilih menonton film daripada membaca buku. Unnecessarily overlong, itulah masalah pertama.

If I Stay sebenarnya memiliki potensial untuk menjadi young adult yang powerful (atau paling tidak tearjerker). Pengalaman out-of-bodyyang dialami Mia adalah main event, repeat, MAIN EVENT, sementara kilas balik kehidupannya adalah supporting event, repeat, SUPPORTING EVENT, yang memiliki efek kuat terhadap karakter Mia yang akan menghadapi keputusan besar. Main – supporting eventsini terbalik dalam If I Stay, dimana setiap out-of-body-experience yang menjadi power utama malah semakin diperkendor dengan kilas balik cerita remaja yang sudah basi. Berapa kali kita melihat film dengan cerita cinta remaja yang galau akan mengalami long distance relationship ? Dan berapa kali kita melihat film dengan out-of-body-experience, yang bahkan di-highlight lewat judulnya ? Yep, If I Stay gagal melakukan positioning dalam hal memilih amunisinya untuk merudal perhatian atau hati penonton.

Ditambah lagi If I Stay seharusnya bukanlah sekedar penjabaran dua events ini yang kemudian ditabrakan begitu saja lewat alur maju mundur. Harus ada semacam hubungan atau koneksi yang membuat perjuangan Mia lebih berarti. Inilah yang membuat If I Stay malah berubah menjadi film tentang perjuangan hidup yang anti-struggle. Sounds wrong, right ? Mia di masa lalu tak ubahnya hanya remaja mediocre dengan keluarga dan pacar sempurnanya, sementara roh Mia yang terlempar keluar dari keadaan koma hanyalah Mia yang mondar-mandir keliling rumah sakit yang tak tentu arah, padahal dia sedang menapaki dunia supernatural yang benar-benar baru untuknya. Jadi, menariknya dimana ? Tak ada eksplorasi, hanya mencoba bermain aman.

Pada akhirnya, If I Stay juga ingin memberikan perlawanan tarik ulur family drama versus young adult’s shallow romance, di satu sisi, lewat penampilan terbatasnya, Enos dkk memberikan alasan mengapa mereka patut “diperjuangkan” sedangkan sang leading man lewat Jamie Blackley adalah sebuah sentuhan bahwa young adult tetaplah bertahan dan insist pada sisi young adult-nya : dangkal, tak beralasan, dunia hanya milik berdua. Sebuah keputusan yang mengurung Moretz pada karakter tak masuk akal di sepanjang karirnya, yang juga melindas performance untuk bisa transformatif secara emosi. Poor Moretz !

Ketidakberimbangan presentasi antara family versus plain boyfriend inilah yang menciptakan plot hole yang besar dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa seseorang yang “nyaris” kehilangan satu-persatu anggota keluarganya, malah dipersembahkan berbagai flashbackpacarnya yang mendominasi. Inilah bukti bahwa If I Stay ingin kembali mengulang formula manipulatif-nya yang ingin mengeksploitasi ketimbang memilih bermain dengan perasaan penonton. You wish you have out-of-body experience in movie which fails to consider “Which is more important ?” (C)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s