The Guest (2014) : Such an Awesome Mixtape of 80’s Homage Lacks “Blender on The Head” – Euphoria

Director : Adam Wingard

Writer : Simon Barrett

Cast : Dan Stevens, Sheila Kelley, Maika Monroe

God ! How many times I have to tell you : don’t talk to stranger ! Don’t let them in ! Don’t let them sleeping in your house.

(REVIEW) Setelah melakukan permaks total pada karakter Final Girl di You’re Next, pasangan director dan screenwriter – Adam Wingard dan Simon Barret ternyata tidak takut jatuh pada formula yang sama “unique home invasion but now with standard final girl”, namun hal ini mereka lakukan dengan tujuan hanya untuk bersenang-senang lewat music (yang terkadang bizzare untuk didengar namun cukup efektif), bersenang-senang yang menunjukkan bagaimana resourceful-nya mereka lewat property dan set design, dan dengan dukungan beberapa elemen akting yang pas, The Guest merupakan revisiting genre action/thriller yang terkadang berasa campy namun satu hal yang tak bisa dipungkiri : menyenangkan.

Film dibuka dengan sebuah sentuhan yang berbeda dari Adam  Wingard – stylish improvement, mengingat dua karya terakhirnya kelewat masuk ke found footage atau You’re Next yang terkesan biasa dan cenderung mengarah ke mumblecore. Ada sentuhan yang indah lewat tata kamera, atau image-image cantik seperti kengeringan labu Halloween yang dipadukan dengan cantiknya cahaya langit, atau scene awal film yang mengeluarkan effort berupa penampakan seorang laki-laki misterius yang sedang berlari dan disertai dengan judul tiba-tiba “The Guest” – Jreng !

Mungkin hal terakhir yang berada dalam list keinginan keluarga Peterson dalam kehidupan mereka adalah kedatangan seorang David (Dan Stevens) – seorang tentara yang tanpa angin tanpa hujan tiba-tiba datang ke rumah mereka kemudian menyatakan bahwa ia adalah teman dekat dari anak mereka – Caleb, yang baru saja meninggal di medan perang. Keluarga Peterson pun tak dapat menyangkal bahwa David adalah seorang stranger, ketika David menunjukkan foto bersamanya dengan sang anak yang ternyata sudah nangkring beberapa saat di ruang keluarga. Namun yang paling membuat  Ibu Caleb (Sheila Kelley) langsung membuka pintunya adalah David seakan-akan obat dari segala kedukaan yang ia hadapi. David begitu kharismatik menunjukkan simpatinya, begitu sopan berinteraksi, dalam jangka waktu yang tak lama ia berhasil memperlama hari “menginap”-nya di rumah sang teman, termasuk merebut hati anak laki-laki  (Brendan Meyer)  dan kepala keluarga Peterson (Leland Orser). Ketika keadaan keluarga Peterson seakan-akan membaik dengan kehadiran David, Anna (Maika Monroe) – sang anak perempuan, mulai mencurigai bahwa David tidaklah “sebaik” yang ia pikir. Dan, mungkin ia ada kaitannya dengan beberapa kasus “kehilangan orang” yang mulai ramai sejak kehadirannya.

Ingin menyebutkan kelemahan dari The Guard sepertinya tidak akan sulit, tapi film ini juga memiliki sebuah sisi yang irresistible yang membuat The Guard begitu mudah dimaafkan karena film ini begitu welcome menyambut penonton sebagai tamunya “Enjoy the music, enjoy the performance, enjoy the movie !”. Jika You’re Next ibarat film yang harus memerlukan waktu untuk memanaskan mesinnya di paruh awal dengan segala keakraban keluarga, The Guest memperpanjang proses ini dengan sebuah sajian yang pelan mempenetrasi namun juga sekaligus telah membelalakan mata kemana cerita akan diarahkan.

Sekali lagi, The Guard jauh dari sempurna. Film serupa mungkin akan demanding sebuah performance yang lebih bisa memberikan layer yang lebih tajam. Namun, disini, Dan Stevens langsung tancap gas sebagai seseorang yang memiliki misi misterius – sebuah gabungan dari guardian angel substitusi yang melindungi semua anggota keluarga, atau malah akan mencabut nyawa mereka satu persatu. Paling tidak, Dan Stevens merupakan pilihan yang tepat untuk sebuah karakter yang sinister tapi tak memberikan sisi isolasi bagi karakter lain untuk mendekatinya. Sementara para pemain yang lain lebih berperan berdasarkan profiling anggota keluarga : ayah yang sedih, ibu yang juga sedih, anak laki-laki korban bully di sekolahnya, dan seorang anak perempuan yang liar tapi malah mengampu tanggung jawab penuh pada sisi protagonis film.

Film juga mulai terdesak untuk berekspansi pada cerita yang lebih luas, tetapi dalam waktu bersamaan predikat B-movie seakan-akan mengekangnya. Titik lemah The Guard terletak pada momen “the raid” yang terlalu mentah untuk dieksekusi : baik untuk sebagai black comedy berdarah ataupun sebagai action yang memperkuat David sebagai karakter soldier yang memiliki kemampuan lebih untuk melakukan aksi yang berlebihan. Di scene  yang lain, action diolah dengan pacing yang cepat dan mempertahankan sebuah rasa kesakitan yang mentah yang mengundang tawa (sisi yang juga dibawa oleh Blue Ruin atau Cheap Thrills tahun ini – raw pain). Sayangnya, sebuah plot yang terlihat jelas (walau terkadang motif kabur), serta konsentrasi The Guest yang tidak hanya kedalam rumah namun juga keluar rumah, membuat The Guest bukanlah film yang mempersatukan penonton untuk berteriak puas setiap kali violence terjadi pada karakter-karakter yang unlikeable. Yep ! The Guest tak sepenuhnya tentang survival, and yep ! it’s not You’re Next. By-bye ! Blender on the head euphoria.

Ibarat ular, The Guest mampu terus menerus memperbaharui kulitnya untuk tetap menjadi sajian yang menyenangkan. Salah satunya lewat hadirnya sebuah homage film-film tahun 80’an yang begitu campy (termasuk final girl dengan signature rambut keritingnya) dengan memanfaatkan kekuatan Wingard/ Barret di film sebelumnya : kekuatan untuk menjadi resourceful. Transisi ini mungkin terlalu kasar untuk menjadikan ending film ini terlalu self aware di akhirnya, tapi diakui menjadi bagian favorit di sepanjang film. Menempatkan final act di labirin setting Halloween, The Guest semakin mengukuhkan diri sebagai oddball percampuran genre yang menarik (action – thriller – comedy ditambah sebuah kesan sexy dari performance menggoda-tergoda dari Steven dan Monroe yang tak terlalu harus eksplisit) dan terlalu charming untuk dibenci. Iniah yang memobbuat The Guest menyerupai sebuah Awesome Mixtape dari tahun 80’an.

The Guard bukanlah sebuah loncatan improvement dari You’re Next : flawed but interesting. Berbagai kelemahan ditutup dengan sisi self aware film untuk menghibur penonton, termasuk bagaimana sebuah film ternyata masih bisa terlihat memiliki performa total walau dengan budget terbatas. Inilah yang membuat penonton lebih penasaran dengan karya selanjutnya dari duo filmmaker ini, baik B-movie lainnya, atau di film dengan budget yang lebih besar. Now, I could die while I am two thumbsup-ing (B)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s