St. Vincent (2014) : Weepy Slacklining in The Balance, Thanks to Life Paperwork and Steady Performances

Director : Theodore Melfi

Writer : Theodore Melfi

Cast : Bill Murray, Melissa McCarthy, Naomi Watts

Naomi Watts : what am I supposed to do to sound like Russian prostitute ?

Director : You’ve heard Eva Green’s voice ?

(REVIEW) Yep, St adalah untuk SAINT ~ seseorang yang memegang dan melakukan kebaikanblablablabla. Pertama mendengar projek film ini yang terbayang adalah sebuah period piece bersetting di old Brooklyn, dan mungkin bisa menjadi tunggangan Mellisa McCarty untuk mengeluarkan kemampuan dramanya. Setengah salah, setengah benar. St. Vincent sesungguhnya merupakan komedi kontemporer ringan yang menebar kebaikan, terancam dengan banyak jebakan sentimentality dan predictability, tetapi mampu mengimbanginya dengan performances kuat dari casting yang tepat. Plus, karakter sentral yang kaya akan “it is what it is” life paperwork yang membawa Bill Murray pada spotlight film ini.

Terdapat ranah dalam film yang merupakan overused elements ketika film berubah menjadi predictable, atau cheesy, atau cliche, atau too many jump scare, atau saccharine of sentimentality, atau happy ending (whoops ! my tendency), atau manipulative tearjerker dan lain sebagainya. Satu kata tersebut terlabel dalam satu film : rusaklah susu sebelanga. Alternatif lain adalah memperlakukan elemen tersebut sebagai sebuah bejana yang tak akan berguna jika tak diisi. St. Vincent beruntungnya aware dengan ini, film ini memang bergerak pada arena familiar tetapi tahu benar batas-batasnya untuk tak keluar.

Batas tersebut adalah karakter Vincent (our old man Bill Murray) – seorang veteran perang yang tinggal sendiri karena istrinya sudah 8 tahun berada di nursing home. Sangat beralasan jika Vincent menjadi pahit dengan lingkungan sekitarnya saat dunia sepertinya TAK PERNAH berpihak padanya : account tabungan yang minus, kalah judi, hutang dimana-mana, etsetera, etsetera. Hampir, hampir menjadi antisosial, interaksi positif yang Vincent lakukan hanya dengan Daka (Naomi Watts) – seorang pelacur Rusia yang sedang hamil tua, dan dengan kucing kesayangannya yang bernama Garfield (no, I’m kidding, it’s not Garfield) hingga akhirnya pasangan Ibu dan anak, Maggie dan Oliver (Melissa McCarthy dan Jaden Liebeher) pindah tepat ke samping rumahnya, dan mulai mengusik hidup Oliver saat Maggie membayarnya untuk menjadi babysitter sementara sang anak.

Keuntungan Bill Murray menjadi seorang comic actor adalah ia mengetahui cara menjadi likeable bahkan disaat ia memerankan karakter yang unlikeable. Vincent bukanlah karakter hitam atau putih. Terdapat sudut-sudut bahwa ia hanya seorang laki-laki tua kesepian terutama beberapa scene saat ia berhadapan dengan istrinya. Murray meng-embody dua sisi ini dengan transisi yang begitu mudah sekaligus meyakinkan. There will be always saint side in the heart – karakter Oliver kemudian datang untuk memancing keluar sisi ini dari Vincent. Kegiatan percampuran bad/good babysitting pun mengisi durasi film : Vincent membantu Oliver keluar dari bully sekolah barunya, Vincent mengajak Oliver berjudi, sampai nongkrong di bar langganan. Tetapi sesungguhnya yang menarik adalah keberadaan Daka sebagai lady of the night yang begitu kontras dengan kesetiaan Vincent sebagai seorang suami. Ada sentuhan bahwa Vincent tetaplah manusia di tengah misi film yang ingin melakukan proses perubahan ke arah “malaikat” terhadapnya. Bill Murray juga diberikan sebuah showcase untuk menunjukkan range-nya ketika sang karakter mengalami stroke ringan dan Murray pun dituntut untuk memperluas kemampuan aktingnya. Bagian ini sayangnya malah agak terlewat terlalu cepat padahal mengandung banyak potensi untuk Bill Murray paling tidak berjuang untuk nominasi Oscar keduannya setelah satu dekade absen dari Oscar pertamanya (now, with current competition, it’s maybe just Golden Globe nomination).

Pemilihan casting Naomi Watts dan Melissa McCarthy kemudian di-switch juga sedikit banyak membantu film untuk berada di tengah komedi comical (untuk tak sampai menjadi slapstick atau impersonation) dan drama ringan (untuk tak sampai menjadi terlalu depressing atau terlampau serius). Baik Watts dan McCarthy adalah salah satu bakat terbaik di genre mereka masing-masing. Menukar kapasitas mereka berdampak mereka masih bisa keluar zona aman mereka, walau secara kapasitas karakter sangat terbatas (dalam hal ini Maggie dan Daka cukup memberi warna pada filmography mereka). Watts diuntungkan dengan gesture wanita hamilnya sehingga ia mendapatkan comical timing yang dibutuhkan. Melihat wanita hamil mengangkat pintu garasi atau crib ternyata momen lucu tersendiri sedangkan McCarthy tak lagi sekedar Ms. With The Best Life Advice – Super Realistic (God ! I wish my physic teacher had the way she explains something) tanpa harus terlihat tertahan sebagai komedian yang terkungkung. Jajaran pemain lainnya sebagai Chris O’Dowd sebagai guru katolik atau Terrence Howard juga mampu menghadirkan sebuah ensemble di porsi mereka yang terlalu kecil. The biggest wasted talent of all : Ann Dowd sebagai seorang kepala nursing home yang merupakan bagian pemaksa untuk Vincent menelan pil pahit kenyataan, namun scene diantara mereka berdua seakan kurang maksimal.

St. Vincent mendapat penyebaran karakter berdasarkan child possesion : single parent, childless old man, pregnant woman, and the childyang membawa komplikasi masalah pada masing-masing karakter, terutama Vincent di titular-nya. Film yang masuk Black List Unproduced Screenplay ini lebih memilih life paperwork dengan banyak masalah yang membawa film malah tak perlu menyelesaikan satu persatu (otherwise it’s gonna be a lot of shortcut of simple, forced solutions). Semua masalah dirangkum dalam satu moment yang tak hanya presentable menyajikan konsep Saint Among Us, tapi lebih mengangkat keseluruhan hidup Vincent dalam final act yang akhirnya melakukan punchline pada misinya : kindness, big heart, and no matter how formulaic it is, it’s worth it (B)

Plus I love the musics, and Chris O’Dowd talking about religion (no, it’s not sequel of Calvary)…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s