Magic in the Moonlight (2014) : Temporarily Alluring Doodles, Full of Sugarcoated Woody Allen

Director : Woody Allen

Writer : Woody Allen

Cast : Colin Firth, Emma Stone, Marcia Gay HardenHamish Linklater

A movie comes from a cloudy Woody Allen with mental vibration….

(REVIEW – mild spoiler ) Woody Allen – sutradara, penulis, aktor – paling produktif mengirimkan kartu pos untuk fansnya dari berbagai negara, paling dicintai, paling dihujat, paling dihormati, paling kontroversial, paling romantis, itulah beberapa reputasi yang dimilikinya. Salah satu reputasi lainnya yaitu tidak diperlukan seorang clairvoyant untuk menebak bagaimanakah karya Allen selanjutnya : good or so-so. Seakan-akan membentuk pattern, Magic in the Moonlight adalah reaksi dari Blue Jasmine tahun lalu yang merupakan karya hits Allen : terlupakan, dangkal, seperti bukan karya seorang  Woody Allen.

Bukan berarti Magic in The Moonlight adalah sebuah film buruk. Yeah, dengan standar bar Woody Allen mungkin Magic in The Moonlight berada pada cluster  bawah, terlepas dari penampilan super charming starlet Emma Stone, penampilan super menyebalkan Colin Firth (but one of his best works after The King Speech career), sorotan keindahan yang dikelola Darius Khondji, setting eksotis Perancis, jajaran pemain pendukung potensial yang bisa saja menjadi Sally Hawkins selanjutnya, sampai costume dan set produksi di era jazz yang seharusnya menjadi kekuatan khas film-film Woody Allen.

Kali ini Colin Firth mendapatkan porsi Cate Blanchett tahun lalu. Dengan tidak adanya multi karakter yang saling terhubung dan minimnya substory, Stanley (Colin Firth) adalah karakter utama yang mendapatkan expose habis-habisan dari screenplay Woody. Ia adalah seorang ilusionis terkenal yang mendapatkan alter ego sebagai seorang ilusionis China yang mendapatkan reputasi baik dan sedang tour keliling Eropa. Segala trik dasar pesulap sampai sulap andalannya : menghilangkan gajah hidup, selalu menarik tepuk tangan penonton yang sangat riuh. Namun, di belakang panggung, Stanley hanyalah laki-laki arogan, perfectionist, mengandalkan semua common sense-nya – sama menyebalkannya dengan Jasmine French yang terlalu self orientating (dan suka memakai nama palsu). Dunia Stanley mulai dikoyak ketika ia ditantang teman sesama ilusionis untuk membuka kedok seorang clairvoyant bernama Sophie Baker (Emma Stone) yang sedang menjadi pujaan hati di tengah keluarga kaya.

“Are you from Orient ?” – adalah impresi pertama Sophie saat melihat Stanley. Dengan tangan menengadah ke awang-awang, mata terbelalak, Emma Stone sempurna merepresentasikan karakter yang likeable. likeable, likeable (did I mention likeable three times ?). Stanley pun membalasnya dengan berbagai sarkasme khasnya, salah satunya saat ia membalas “cloudy impression” yang dialami Sophie dengan istilah ilmiah “Is it cumulus cloud or cirrus ?”. Tak peduli dengan usaha Stanley memecah “bakat”-nya, Sophie berlalu begitu saja menggandeng ibunya (Marcia Gay Haden – a perfect assembly as exploitative mother).

Sama seperti karya Allen lainnya, Magic in The Moonlight juga ingin mengangkat sesuatu yang berhubungan dengan personality (dalam hal ini faith) dan interaksi orang per orang (dalam hal ini love). Skala antara believer dan unbeliever adalah ibarat skala antara kutub utara dan kutub selatan, dan dalam pribadi Stanley, menjadi seorang unbeliever adalah perjalanan panjang usianya. Inilah yang dilupakan Woody Allen untuk menggunakan Sophie sebagai medium yang terlampau dangkal untuk Stanley melakukan loncatan karakternya. Harmless for Stone, harmful for Firth. Dalam satu moment, penonton tak bisa  mempercayai kredibilitas seorang Stanley yang merupakan ilusionis handal untuk mempercayai ilusi yang lain dengan mudahnya. Big leaps ini juga semakin diperparah ketika Allen memperlakukannya bukan sebagai sesuatu yang latent seperti film-film sebelumnya. Perjumpaan Sophie, Stanley dan bibi Stanley – Vanessa adalah ibarat sebuah segmen yang terlalu terstruktur dan terencana, sehingga kaku untuk melakukan perubahan yang besar dalam film.

Satu-satunya sentuhan Allen yang bisa terlihat adalah ketika Stone berhasil mengkonversi Sophie sebagai penampilan yang akan mengingatkan kita pada aksen “buruk” Amy Adams sebagai con artist di American Hustle tahun lalu (Stone’s magical, yet convincing gesture is her fake accent). Semua keahlian Stone memanipulasi aktingnya menempatkan Sophie pada satu pandangan tipis tentang seorang wanita yang menjadi bahan ekploitasi pihak di sekitarnya. For Stanley, she’s object of curiosity. For her mother, she’s object of making living. For her future-fiancee-who-serenades-her-regularly (Hamish Linklater). she’s object of opposite sex. For wasted Jacki Weaver, she’s just object of entertainment. Tentu saja. paling menarik adalah interaksi Stanley – Sophie yang hanya bertepuk sebelah tangan setelah beberapa aksi romantis yang menacing diantara mereka berdua. Tak menjadi kejutan jika Allen kemudian merekrutnya kembali tahun depan, karena Stone layak mendapatkan karakter yang lebih dari seorang Sophie Baker yang selalu didandani dengan aksesori lucu untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih internal dari dirinya (we’ll see her next year with Joaquin Phoenix).

Mendapatkan duo yang sedikit banyak meng-assembly dirinya dengan Diane Keaton beberapa dekade lalu, bisa dibayangkan jika Stone-Firth tak mendapatkan screenplay seadanya dari Allen. It’s gonna be long walk, long discussion with there’s no right or wrong conclusion. Beruntungnya, kali ini screenplay tersebut ter-sugarcoat dengan sinematografi Darius Khonji yang secara kasat mata menangkap keindahan Perancis dengan eksklusif lengkap dengan sorotan sinar matahari di wajah cantik pemainnya. Atau ter-sugarcoat dengan costume dan mobil-mobil vintage. Tetapi sugarcoat yang menjengkelkan adalah Allen memaksakan kisah cinta a la rom com yang tertabrak dengan common sense baik dari Stanley atau Sophie sendiri. Come on ! Belum diperhitungan durasi interaksi Stanley – Sophie yang cenderung singkat, dan untuk ukuran Woody Allen yang bisa menghadirkan perspektif yang original – sisi yang tak terlihat dari relationship, kisah cinta ini seperti Allen mengalami stuck untuk mengakhiri ceritanya sendiri (or he’s just being intentionally lazy) (C++).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s