Gone Girl (2014) : Dark, Bleak Fusion of Fincher and Flynn, “Who Says that Murder’s not an Art ?”

Director : David Fincher

Writer : Gillian Flynn (screenplay), Gillian Flynn (novel)

Cast : Ben Affleck, Rosamund Pike, Neil Patrick HarrisCarrie CoonTyler Perry

There will be a sequel, called “Gone Girl : Missing Child”. Nobody would reprise their roles but Tyler Perry as the lawyer, as Amy, as Nick, as Go, and maybe as white sugar storm.

(REVIEW) Perlu untuk menjadi fantastik untuk menarik perhatian seorang Fincher : menjadi narator beridentitas manipulatif, atau serial killer yang tak tertangkap sampai sekarang, seorang hacker yang disodomi, proses aging yang terbalik, atau setidaknya menjadi alien atau memiliki biografi sekontroversial pendiri Facebook. Kali ini, Gillian Flynn-lah yang memenuhi panggilan itu. Dimulai dari resignation-nya dari Entertainment Weekly (you know nobody is good for EW), Gone Girl merupakan novel ketiganya yang siap menjadi source penuh kejutan dengan wicked twist, dan mempersembahkan salah satu villain yang tak pernah terlupakan.

gone_girl_ver2

Buku Gone Girl sendiri merupakan buku dengan struktur yang tergolong rumit, ditulis dalam berbagai perspektif – sang suami, sang istri, diary sang istri, menggunakan sudut pandang orang pertama sementara terdapat twist yang selalu berusaha ditutup sampai timing-nya tepat, dan hal ini bertabrakan dengan honesty cara bercerita dari film itu sendiri. Yeah, Gillian Flynn memiliki otak yang rumit, yang malah membuatnya mempunyai bakat ganda : penulis dengan segala deskripsi khas-nya, dan kerumitan jalan cerita yang lebih cocok dituangkan dalam bentuk screenplay.

Menjelang ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, tak ada kejutan yang lebih mengerikan untuk Nick Dunne (Ben Affleck) yang menemukan rumahnya berantakan, dengan istri – Amy (Rosamund Pike) yang tiba-tiba menghilang. Perlahan namun pasti, sorot media, tetangga, termasuk mertuanya mulai mencurigai gelagat Nick yang tak menunjukkan seperti seorang suami yang “kehilangan”. Inilah titik awal dari mimpi buruk Nick ketika mengetahui dirinya telah berada di spotlight sebagai “tersangka” kasus hilangnya istrinya, dan dengan bantuan Margo (Carrie Coon) dan pengacara handal, Tanner Bolt (Tyler Perry, yes Tyler Perry), kenyataan mengerikan pun mulai terkuak, dan Nick harus segera keluar dari ancaman jeratan hukuman mati jika ia terbukti bersalah.

Hal paling pertama yang harus diacungi jempol adalah casting department (dimana Fincher pasti terlibat di dalamnya). Siapa yang tak akan pesimis melihat jajaran aktor seperti Ben Affleck (come on !), Rosamund Pike yang belum teruji, kemudian ditambah Neil Patrick Harris (yeah, he sang Christmas song in Harold and Kumar franchise), dan puncaknya, Gone Girl merekrut Tyler Perry. Namun, berawal dari sinilah novel Gone Girl seperti divisualisasikan dengan sempurna oleh Fincher lewat jajaran aktor yang seperti “pas” mengenakan pakaianya. Gone Girl memanfaatkan citra para aktor ini di publik, kemudian menempatkan dalam kotak yang pas dalam peran mereka. Termasuk Carrie Coon dengan cocoknya sebagai saudara kembar perempuan Ben Affleck atau Emily Ratajkowsky (you know her role if you already seen her infamous music video). Ketika Ben Affleck bisa menampilkan sisi maksimalnya sebagai aktor dengan senyum “khas”-nya, bagian tersulit dari Gone Girl adalah menemukan aktor Amy Dunne – jiwa, nafas, detak jantung, kunci, adrenaline dari film itu sendiri. Reese Witherspoon – rejected, dengan berbagai aktris dengan peran tipikal termasuk Charlize Theron yang dipertimbangkan, dan Fincher membagi tugasnya tidak hanya dengan Gillian Flynn namun dengan leading lady-nya. Rosamund Pike menampilkan performance  yang dalam satu tatapan mata mengandung banyak arti, “What are you thinking ?”. Magnetic dan karismatik saat ia menjelma menjadi cool girl, dan mulai perlahan berubah menjadi definisi yang lain. Her performance is like a metamorphosis without a move. Walau ia terkadang masih terjebak dengan sisi kaku sebuah karakter, Amy Dunne berhasil dihidupkan.

Menjadi film dengan marketing paling cemerlang – teaser, trailer, even EW’s cover, Gone Girl membentuk sebuah atmosfer rumah tangga yang kompleks, sekaligus cerita cinta yang menarik – yep, it’s perfect love story untill it turns out as perfect crime. Possesion, betrayal, pretending acts, sampai faktor eksternal luar seperti resesi tahun 2008 lalu, menjadi berbagai senjata untuk Gillian Flynn menghidupkan relationship Amy dan Nick – ditambah background karakter keduannya yang kuat sebagai writer, anak korban eksploitasi orang tuanya, anak yang memiliki daddy issue, menjadi point krusial jika penonton menginginkan sebuah cerita yang “manipulatif” namun sekaligus masuk di akal.

Manipulatif ? Hmmm, begitulah otak Gillian Flynn. Melihat berbagai kasus serupa di dunia nyata, kemudian berusaha menge-twist dalam bentuk yang lain, membuat Gillian Flynn menciptakan satu karakter yang “sempurna”, “well prepared”. Semuannya diimbangi dengan cara Gone Girl menampilkan semua prosedur rumit, dan beruntungnya ia ketika Fincher – lah yang meng-handle prosedur rumit tersebut. Salah satu “wow-factor” dalam film ini ketika salah satu karakter menjelaskan terang-terangan, membuka tabir dalam timing yang tak diharapkan penonton : di tengah durasi. Refresh- refresh – refresh, itulah yang membuat Gone Girl tak pernah sedikitpun membosankan di durasinya yang cukup panjang. Terlalu banyak hal yang menawan saat film harus melakukan pergeseran spotlight sekaligus jalan cerita yang menikung tajam, dan untuk para penggemar sutradara satu ini, hal itulah yang sebenarnya menjadi grand finale filmnya.

Harus diakui, Gillian Flynn dalam novelnya membuat karakternya pergi begitu jauh, dan untuk beberapa saat Flynn tak tahu jalan pulang. Sepertiga akhir dalam novel Gone Girl adalah salah satu bagian terlemah, namun sekaligus paling menegangkan bagaimana sebuah cerita yang cenderung sudah kusut akan diselesaikan. Penyesalannya, screenplay dari Flynn pun malah mengalami berbagai penarikan plot dari cerita novelnya. Amy dan Nick kemudian berjalan ke arah yang berlawanan – under empowerment – over empowerment padahal dalam novelnya, sepertiga terakhir adalah bentuk perlawanan terakhir yang tak berujung pada hasil, namun berpusat pada effort salah satu karakter (yeah, I wish I could see some Jake Gyllenhaal’s desperate face in Ben Affleck’s).

Akhirnya, Gone Girl pun tetap berdiri tegak dari semua elemen yang menyokongnya : steady tone, scoring atmosferik dari Trent Reznor dan Atticus Ross, pergerakan kamera yang menawan, ensemble cast, satir bagaimana dunia media melakukan pembunuhan dan bullying karakter, otopsi perkawinan dari dalam dan luar and it’s David fucking Fincher (B+)

2 comments

  1. your review is like you’re reviewing dicks, it’s black, it’s white, it’s brown, boriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s