Reviews : The Trip to Italy (2014), Men Woman and Children (2014), The Good Lie (2014), and Pride (2014)

Exquisite food, exotic place, humour ? Sounds like element of heaven.

The Trip to Italy memenuhi janjinya sebagai sebuah film tentang kuliner dan travelling. Frase yang menggambarkan : mouthwatering wanderlust. Bagaimana tidak ? Melihat perjalanan dua komedian memerankan diri mereka sendiri ; Steve Coogan dan Rob Brydon, menjelajahi setiap inchi dari negara Italy, dimana di setiap mereka singgah selalu ada saja piring dengan visualisasi makanan yang penonton hanya bisa lihat dan tak bisa merasakan adalah satu kenikmatan tersendiri.

 Coogan (yang tahun lalu juga mengadakan perjalanan dengan Judi Dench di Philomena) masih mempertahankan sisi sinisnya saat Brydon meneleponnya dan mengajaknya mengadakan road trip. Walau masih asing dengan dua aktor ini, paling tidak dengan memerankan diri mereka sendiri, penonton seperti tidak membutuhkan semacam introduction mengapa dua tokoh ini berteman, mengapa dua tokoh ini saling akrab. Penonton pun langsung dibawa ke meja makan, dan langsung disajikan dengan berbagai diskusi, hiburan jokes yang merupakan satu kemewahan sendiri di dalam film ini.

Luxury, heh ? Kemewahan membawa kenikmatan jika penonton mampu menjangkaunya dan sebaliknya unaffordable luxury hanya akan membawa penonton pada satu kejengkelan. Inilah yang membuat The Trip to Italy termasuk menjadi salah satu film paling segmented karena begitu demanding dengan taste dari bekal referensi yang harus dimiliki penonton. Ibarat sebuah sup dengan berbagai ingredients, penonton harus tahu setiap ingredients untuk bisa benar-benar mencerna dan menikmati setiap moment dalam The Trip to Italy. Sebut saja apakah penonton pernah melihat trilogi Godfather ? Karena Coogan dan Brydon akan banyak membahasnya. Atau apakah penonton pernah melihat The Batman Rises ? Atau apakah penonton ingat dengan ending Roman Holiday ? Yeah, dari sekelumit syarat diatas saja telah ketahuan bahwa The Trip to Italy membutuhkan range referensi yang begitu luas. Inilah yang membuat film ini mungkin menjadi surga bagi para moviegoers, dan menjadi sedikit trippy untuk penikmat film yang memiliki keterbatasan pengetahuan yang begitu besar, which is that’s me. My loss.

Awalnya sempat mengira The Trip to Italy akan membawa penonton pada lembar diskusi yang dalam – like Before Trilogy. Namun tidak, impersonations adalah salah satu kemewahan yang bisa dinikmati dengan mudah oleh penonton sekaligus membawa kesan bahwa The Trip to Italy tak terlalu ambisius untuk membawa percakapan pada level selanjutnya. Untungnya, baik Brydon atau Coogan benar-benar sempurna untuk memperagakan maksud dari impersonation mereka, salah satunya  Tom Hardy sebagai Bane yang bisa dibahas sampai tiga menit impersonation. Energi, kepercayaan diri, itulah kekuatan film ini untuk membawa meja datar menjadi lebih berwarna dengan penuh canda tawa. Namun, walaupun begitu, baik Coogan dan Brydon seakan-akan tidak ingin meng-intervene ketika mereka menghadapi persoalan yang lebih personal dari diri mereka : Brydon dengan karir dan keluarganya, Coogan dengan istilah kematian dan, masih dengan isu keluarganya. Keduannya terpisah jauh. Salah satu hal yang menarik untuk dinikmati adalah bagaimana Brydon dan Coogan memberikan perilaku, tanggapan berbeda ketika keduannya beberapa kali menyinggung soal kematian : I love that Vesuvius’ scene. Tapi sisi-sisi dalam seperti inilah yang selalu terbayangi dan terkubur dengan cara casual mereka berbicara sekaligus mungkin menjadi sisi yang paling natural dari film ini : sometimes life is just nonsense talking.  (C+)

What the fuck is Adam Sandler’s doing ? Is he acting ? Or he’s just simply being lazy ?

Thank You For Smoking, Juno, Up in The Air, Young Adult membawa masing-masing isu serius yang dengan mantapnya bisa Jason Reitman tackle : work ethic, premature pregnancy, harsh termination, and maturity. Maka, sebenarnya tidak salah jika Reitman memang ingin keluar dari zonanya kemudian menunjukkan sisi lainnya kepada penonton. Yeah, that out of comfort zone is called “pie”. Labor’s Day menjadi misstep Reitman tahun lalu saat ia membawa home invasion, serta depression a la Kate Winslet ke dalam layar. Kita bisa memaklumi karena memang membawa adaptasi novel Labor’s Day bukanlah baju yang pas untuk Reitman. We could understand. Everybody makes mistakes.

Kemudian, Reitman datang dengan ensemble film yang jauh membawa jiwa muda : Men, Woman, and Children (and Technology). Film ini tentang beberapa karakter (Adam Sandlers as PornHub addicted-dad, Rosemary Dewitt as bored wife, Jennifer Garner as super protective mom, Ansel Elgort as another suicidal character, dan banyak lagi seperti Ibu yang ‘menjual’ anaknya, anak yang ingin memiliki penampilan sebagai anorexia, dan slut, slut, slut). Berbagai karakter ini kemudian dihubungkan pada satu benang merah yaitu teknologi. Bagaimana setiap karakter memanfaatkan website, Facebook, Tumblr, dan lain-lain merupakan peta blueprint untuk Reitman yang harusnya tahu bahwa ia sedang menangani isu yang begitu kompleks. Dan, inilah awal dari film terburuknya dari sepanjang karirnya.

Berbicara tentang awal, Men Women and Children memiliki start yang begitu menawan, very Reitman. Sebuah satelit dilepaskan dengan bebas menjelajahi angkasa yang begitu luas, dengan narator Emma Thompson yang semakin melengkapinya. Ironis, dan untuk beberapa menit Reitman berhasil menyampaikan mocking satire-nya bagaimana manusia sebagai benda hidup malah terjebak pada isu eksistensinya pada gadget dengan interaksi virtual, ketimbang menjelajahi alam semesta yang tak ada batas seperti yang dilakukan sang satelit. Beberapa aktornya pun begitu commited dengan gadget mereka dengan visual grafis yang terlihat apik, dan begitu meng-engage penonton untuk melihat lebih lanjut bagaimana karakter yang sedemikian banyak ini akan terhubung. Kejutan manisnya adalah Adam Sandlers kembali ke sisi dramatic-nya sebagai seorang ayah dan suami yang gagal yang sedang kecanduan porno.

Yeah, semua karakter di film ini memang dimaksudkan sebagai perwakilan “now” generation, tetapi yang menjadi masalah adalah apakah sample karakter ini bisa mewakili generasi kita sekarang. Sayangnya, jawabannya tidak. Yeah, we are addicted to technology, but we are not THAT bad. Masing-masing karakter membawa sisi ekstrem dalam setiap perilaku mereka yang tak bisa kita relate. Kembali ironis, bagaimana setiap karakter yang seharusnya mewakili penonton malah berubah menjadi alien yang tak bisa kita kenali. Very protective mother ? REALLY ! A girl who eats celery everyday, instead of pie ? REALLY ! A mom who takes sexy picture of her daughter and put it in internet ? THAT’S A DIME. Inilah yang membuat Men Women Children begitu jauh mengorbit dari karya-karya Reitman sebelumnya. Ia tak membahas sebuah isu. Ia hanya memaparkan bagaimana buruknya teknologi bisa mempengaruhi manusia.

Semakin durasi berjalan, semakin hilang juga ketertarikan penonton, seperti halnya Reitman yang juga kehilangan minatnya untuk menangani karakter-karakter ini. Semua karakter (yes, semua karakter) kemudian jatuh pada shortcut familiar yang begitu mengingkari hampir setiap ending yang real, tapi memuaskan dari karya Reitman sebelumnya. (D+)

Putting gigantic Reese Witherspoon’s face in its poster ? That’s a very, very, very bad, bad lie.

Karir Reese Witherspoon mungkin menjadi salah satu karir selebriti yang paling memiliki puzzle. Dari seorang pengacara blonde kemudian ia memperoleh Oscars-nya sebagai June Carter, kemudian kembali terjerat pada romcom, dan lihat tahun ini apa yang ia lakukan : produser Gone Girl, supporting di Inherent Vice, Oscar contender lewat Wild, sampai film kecil ini yang sering disebut-sebut mungkin menjadi The Next The Blind Side (I can’t imagine if she’s still attached to that Big Eyes movie).

Jawaban mengecewakan : tidak, jawaban melegakan : tidak. Seperti yang kita ketahui bahwa The Blind Side menjadi salah satu film yang mengambil perspektif cerita sentral utama (dengan kehadiran karakter Sandra Bullock), kemudian merubahnya dengan crowd pleaser yang membawa Bullock pada Oscarnya. The Good Lie, walau memiliki produser yang sama, bisa mengambil kesalahan pada film sebelumnya. The Good Lie merupakan pure film tentang The Lost Boy and Girl of Sudan tanpa embel-embel peran Witherspoon yang ingin mengambil spotlight. Such a relieve and disappointment at once.

Di tahun 1980an, Sudan terlibat perang yang mengerikan. Membuat anak-anak dan dewasa pada melarikan diri ke negeri tetangga seperti Etiopia atau Kenya. Inilah kisah refugee perang (Arnold Oceng, Ger Duany, Emmanuel Jal, Kuoth Wiel) yang menghabiskan masa anak-anaknya di camp di Kenya, sampai akhirnya mereka mendapatkan kesempatan menata hidup mereka dengan mendatangi Amerika dibantu oleh Carrie (Reese Witherspoon) sebagai sandaran utama hidup.

The Good Lie tentu memiliki story worth telling sedari awal film ini menunjukkan kejamnya perang merenggut kehidupan anak-anak ini. Berjalan kaki sekian mile dengan kaki telanjang demi mencari perlindungan merupakan moment terbaik dalam film ini. Kemudian film beralih setting di Amerika Serikat, menggunakan culture shock sebagai ice breaker dari tragedi yang mereka alami tanpa harus mengeksploitasi posisi Witherspoon dengan star power-nya merupakan salah satu bukti bahwa The Good Lie memiliki good intention ingin menceritakan sebuah cerita lewat perspektif yang benar. Inspiring ? Yes ! Heartbreaking ? Yes ! Drama perjuangan di paruh awal, sedikit sentuhan komedi di paruh akhir. Pergantian setting tempat dari Afrika kemudian ke Amerika kemudian membawa sedikit disorienting feeling (which is good because this is all about) pada penonton, tetapi inilah yang merubah nature film, dari perjuangan kemudian berubah seakan-akan menyuapi singa-singa jinak ini dengan berbagai priviledge yang menekankan bahwa Amerika adalah negara yang ‘terlampau’ baik dengan berbagai karakter baik hati, sepertinya tak membawa keseimbangan film untuk memperjuangkan apa yang sedang diperjuangkan. These guys walks for miles, and they are freely throwing their, let’s say, decent job, without consequences – inilah yang membuat banyak pertanyaan bahwa setiap keadaan cerita mulai dimanipulasi, untuk kembali ke satu istilah – crowd pleaser. Termasuk pada final act-nya, dimana salah satu karakter membuat keputusan besar (throwing away his life), yang membuat The Good Lie benar-benar menghidupkan judulnya. The story of the lost Sudan’s boys  is real,but  that final act, I don’t know. Maybe it’s a good lie.

Inilah yang membuat The Good Lie menjadi film yang forgettable karena menjadi terlalu baik, dengan mencampuri bahwa setiap genuine simple feeling dari genuine story menjadi sesuatu yang terlalu diarahkan untuk sesuatu yang lebih berefek sentimental, namun diduga palsu. (C++)

LGBT’s right movement – movie without a powerhouse gay performance ? Sounds new for me.

Manakah yang lebih sulit ? Menjadi kaum dipinggirkan seperti gay dan lesbian  di tahun 80an, atau menjadi kaum penambang di masa opresif dari Margareth Thatcher ? Hmm, both are hell. Satu kata yang bisa menggabungkan dua kaum tertindas berbeda arah : solidaritas, satu kata yang juga terlintas pada pikiran Mark Ashton (Ben Schnetzer) – seorang leader pada LGSM (Lesbians and Gays Support The Miners) untuk membangun aliansi pada salah satu desa penambang di Wales, untuk saling membantu dan menerima, walaupun sepertinya tidak mudah.

Apa yang menarik dari Pride adalah mengambil sisi lain dari masa sulit ini, kemudian menguliknya dari berbagai sisi termasuk event yang benar-benar terjadi di negara Inggris ini. Loosely based on real event, Pride mungkin bukanlah riot dengan speaker yang turun ke jalan memperjuangkan hak minor sedangkan karakter utamanya semakin lemah karena lesions ungu karena gejala awal dari penyakit AIDS. Pride yang memenangkan Queer Award di ajang Cannes ini berhasil mengukuhkan sebagai film yang penting, sekaligus serius, namun tidak lupa untuk bersenang-senang dengan warna, tarian, lagu khas era 80an, serta berbagai ‘solidaritas’ yang berhasil merebut hati penonton.

Give it a chance, karena bagian terlemah dari Pride adalah paruh awalnya. Terlihat tak terlalu menyegarkan melihat kantor dengan susunan formulaic, termasuk satu-satunya perempuan lesbian yang bertindak sebagai sekretaris (no, I’m kidding, she’s there, but she’s not secretary), melakukan march di jalan dengan banyak orang yang meludahi usaha mereka.  Yeah, we’ve seen that before. Pride mulai berteriak ketika berhadapan face to face dengan kaum penambang, representasi virtue berlawanan dari virtue flamboyan mereka : toughness. Diwakili para aktor veteran Inggris – Bill Nighy, Imelda Staunton , kedua grup ini pada awalnya menciptakan sebuah layered definition of pride : group dignity, the one that insists, the one that tries to help, sampai akhirnya keduannya malah saling membantu, dan bertukar sisi, membuat Pride menjadi film yang kaya dalam mengambil isu sosial sebagai temanya, karena tidak hanya berurusan secara internal atau eksternal grup, namun juga melibatkan, let’s say, if it’s company, stakeholder yang terlibat yaitu pihak yang berseberangan namun malah mampu saling mengasihi.

Pride sekali lagi bukanlah one man show, walau terdapat penampilan berkharisma dari Ben Schnetzer, aktor tua dan muda lebih membentuk ensemble sesuai dengan porsi masing-masing, tanpa membayangi satu sama lain. Substory pada karakter tak sepenuhnya disuguhkan ke dalam layar, namun beberapa berhasil di-organized dengan rapi, untuk menge-stretch durasi sekaligus memperluas ruang lingkup isu sosial yang sedang diambil, walau akhir dari masing-masing cerita ini sudah bisa ditebak : seorang anak yang terpisah dari orang tua karena seksualitas, seorang anak yang terjebak antara orang tua dan seksualitas, salah satu karakter yang akhirnya membuka dirinya, dan lain sebagainya.

Pride menjadi film yang mampu menyeimbangkan sisi real story-nya tanpa harus terlalu depresi dengan penderitaan, menggantinya dengan semangat, humor, canda tawa yang memang dibutuhkan di masa sulit, tanpa merusak keaslian cerita, walaupun pasti saja ada akurasi yang dilewatkan, namun hal ini tak merubah Pride sebagai film yang inspiratif sekaligus tak egois untuk menjadi terlalu mengandalkan sisi self importance, atau self centered pada isu LGBT-nya (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s