The Theory of Everything (2014) : Unmenacing, Delicate, Innocuous Simplest Equation Called Love

Director : James Marsh

Writer : Anthony McCarten (screenplay), Jane Hawking (book)

Cast : Eddie Redmayne, Felicity JonesCharlie Cox

Hawking may has disease, but he has the brightest brain,….and sperms.

(REVIEW) Jika bertanya serius tentang siapakah sosok Stephen Hawking, mungkin secara pribadi, hanya akan tahu nama – layaknya Thomas Alfa Eddison, atau hanya mengetahui sekelumit dari apa yang mereka temukan (yeah, kita hanya disuapi dengan list Alexander Graham Bell menemukan telepon, Marconi menemukan radio, and that that’s it – or maybe it’s just me, because I’m stupidly ignorant). Lalu bagaimanakah dengan bagian terbesar dari diri mereka ? Pribadi, perjuangan, kisah cinta, yang disimpul dalam satu kata “kehidupan”. Sesuatu yang dasar, namun seringkali terlupakan, karena berawal dari hal-hal sederhana inilah sesuatu bisa menjadi besar (preach !). Beruntungnya, The Theory of Everything merangkumnya dalam porsi yang pas – tak melihat Stephen Hawkins secara internal penderitaan dirinya, namun sebagian besar dalam kaca mata yang lain – sang istri.

Pernah mendengar perkataan “Dibalik sosok yang hebat, terdapat wanita yang lebih hebat di belakangnya” ? Dan bisa dibayangkan jika ia seorang Felicity Jones ? I bet you won’t move from bed in the very first place. Felicity Jones sebagai Jane – istri pertama Hawking adalah perwujudan bahwa posisi suffering wife layak diangkat dalam derajat yang sama – tak peduli bagaimana bayang-bayang “sang tokoh biografi” sebagai aktor utama. Dan, ketika The Theory of Everything mengambil buku dari Jane Wilde Hawking berjudul Travelling to Infinity : My Life with Stephen, maka jangan takut-takut untuk melihat film ini, bahkan jika kalian takut pada pelajaran Fisika (God ! That subject !). Bisa dibayangkan sebuah film diangkat dari buku Hawking sendiri ? Yang ada hanyalah black hole bergerak dengan gerakan dramatis dan narator (okay, where’s Terrence Malick now ?).

 Tak akan ada equation serba rumit yang harus dipecahkan, kemudian dikembalikan kembali bagaimana equation itu berasal. The Theory of Everything hanya menyajikan equation sederhana tentang cinta segitiga antara Stephen Hawking (Eddie Redmayne), Jane Wilde, dan satu penyakit yang menyerang syaraf bernama Lou Gehrig. Awal jumpa mereka ketika mereka sama-sama sedang menjalani masa kuliah di Cambridge tahun 1960-an. Saling klik dengan perbincangan satu sama lain walau keduannya menekuni dua hal yang berbeda : fisika dan art. Jane yang sering menyinggung keinginannya untuk melakukan time travel, sedangkan Hawking yang sedang berusaha menemukan awal waktu, membuat keduannya adalah pasangan yang diciptakan di surga. Such a well contained, charming relationship. Hanya saja tak peduli seberapa jenius Stephen Hawking menciptakan teori yang bisa hanya terinspirasi dari melihat secangkir kopi, dia tak berdaya ketika penyakit syaraf mulai menggerogoti tubuhnya, dan mulai menguji kesabaran Jane yang berusaha berada di sampingnya.

The Theory of Everything memuat cerita yang begitu blackhole-y, salah-salah hanya akan membuat penonton merasa sedih berlebihan. Have you ever watched Japanese’s serial “One Litre of Tears” ? Yeah, efek samping yang mengancam dalam film ini sudah ter-eksplisit dalam judul serial Jepang tadi. One day, you fall, and then can’t walk, can’t talk, can’t swallow, and no cure. Untuk sang aktor British Redmayne sendiri, memerankan Hawkings merupakan satu showcase untuk dirinya. Redmayne begitu transformatif mengubah dirinya – showy, namun begitu meyakinkan. Dia menyerap Hawking sehingga ia tak terkesan sedang “mengejek” sang tokoh, karena memang terdapat beberapa manifestasi dari kegagalan gesture orang normal yang cenderung tidak indah untuk dilihat. Ia tak terlalu berharap kasian, namun juga terdapat satu sisi ia telah memiliki rasa acceptance yang membuatnya tak menjadi seorang rebel akan keadaan dirinya. Ya, satu-satunya sisi rebel itu hanya terlihat saat ia mencoba menaiki tangga, dilihat anak balitanya, saat malam perayaan gelar doktor-nya. Menerima keadaan untuk satu keadaan yang tak bisa dirubah, merupakan satu sisi yang menyenangkan dan tak frustasi untuk dilihat penonton. Namun, sayangnya The Theory of Everything kurang memiliki sisi deteorating phase yang cenderung dinamik. Hambatan itu bernama wheelchair. Pada point tertentu, Redmayne seperti stuck, stranded sementara salah satu atribut aktingnya mulai dicopot, yaitu kemampuan Hawking untuk berbicara.

Felicity Jones meng-embrace semua elemen yang terlalu flashy – mulai dari soundtrack yang begitu indah, permainan kamera yang begitu tricky, sampai pada performance Redmayne sendiri. Jones memang diakui memiliki sebuah indie, organic vibe, dan kali ini ia manfaatkan untuk membuat penampilan lebih mencapai titik emosional daripada Redmayne yang telah capai. Jones adalah salah satu bagian penting yang membuat keseluruhan film bisa menciptakan harmoni. Kemudian terdapat James Marsh, sang sutradara – the real man in wire, yang menyeimbangkan banyak aspek solid tadi, menubrukkan kesemuannya pada satu sajian yang begitu delicate lewat palet warna kalem di sepanjang durasi (thanks for gorgeous cinematography), membuat The Theory of Everything merupakan satu film yang moving, terlihat ambisius namun dengan cara yang unmenacing (Ryan Murphy should take a note), dan memiliki sisi yang sangat mahal dalam film yang menyinggung penyakit : innucuous.

Bukan berarti The Theory of Everything tak memiliki kekurangan – terlepas dari aspek solid tadi. Sama seperti Tuhan yang menciptakan seluruh semesta hanya dalam tujuh hari, The Theory of Everything memiliki beberapa part yang terburu-buru. The falling in love – bagian krusial yang terlalu singkat untuk Jane dan Stephen memberikan sedikit motivasi, alasan mengapa mereka berdua saling menggilai. Atau, early suffering – untuk Hawking dengan penyakitnya yang juga terlalu singkat untuk tak berhadapan dengan symptoms-nya. Dan untuk Jane, kurangnya milestone waktu yang membuatnya lebih bisa menunjukkan sisi-sisi awal untuk penonton sampai kapan ia akan bertahan (besides, Felicity Jones doesn’t really aging, you know ?), dan the doom – mungkin sudah terlihat dengan kehadiran Jonathan (Charlie Cox) namun semuannya terhalang dengan sisi Jane yang merupakan seorang istri setia, dan kemudian mengarahkan ending cerita pada sosok Elaine Mason (Maxine Peake) – yang malah menempatkan Jane sebagai korban cerita cinta yang begitu mysoginist.

Akhirnya, The Theory of Everything masih menjadi penggabungan dari science dan love, dua hal yang jika dipaparkan akan terkesan sebagai satu penjelasan yang nonsense, big fat bullshit, terkadang tak ada penjelasan yang “logis” – namun begitulah adanya (B++)

I am so sorry for laughing so hard in the sweater scene.   

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s