Reviews : Paddington (2014), Predestination (2014), Nightcrawler (2014), and Force Majeure (2014)

What AM I ? An institutionalized orphan ? Why I didn’t get Teddy Bear in my childhood.

Siapakah yang tak akan melihat film ini ? Anak-anak tentu akan sangat menyukainya, dan orang tua pasti akan memiliki rasa nostalgia bertemu kembali dengan sosok yang sangat kental dengan masa lalu mereka. Itulah yang membuat Paddington – layaknya film anak-anak lain- tidak hanya merangkul anak-anak namun juga sang orang tua yang notabene sebagai guardian ketika mereka menonton di bioskop. Hasilnya, Paddington merupakan a fine family drama at its best, hangat, lucu, walau memiliki storyline yang kepalang standar dan kurang kejutan besar.

Alkisah, suatu hari seorang penjelajah asal London menjelajah pedalaman Peru untuk mencari ample spesies untuk diawetkan. Misinya berubah ketika ia menjumpai jenis beruang yang tak hanya irresistible namun juga pandai menangkap segala sisi peradaban manusia. Beruang itu adalah sepasang beruang laki-laki dan perempuan (Imelda Staunton – Michael Gambon), yang beberapa tahun kemudian mengutus beruang kecil bernama aksdgadhsdb (that’s bear name in bear language) untuk pergi ke London setelah hutan diserang gempa bumi dahsyat. Beruang kecil, tanpa seorang pun untuk merawat, akhirnya tiba di London, berbekal marmalade, dan sepotong roti di balik topinya, mencari sang penjelajah untuk merawatnya. Namun, London bukanlah tempat yang hangat, welcome, seperti yang ia bayangkan, hingga ia bertemu dengan keluarga Brown (Hugh Bonneville, Sally Hawkins, dan kedua anaknya), yang memberi namanya Paddington (disuarakan oleh Ben Wishaw), dan membantunya mencari sang penjelajah.

See there’s no surprise ? Yah, itulah Paddington berusaha se-simple mungkin untuk membuat cerita, meminimalkan segala bentuk harm untuk anak-anak, dengan kompensasi segala bentuk sisi adventurous sang beruang berhdapan langsung dengan dunia metropolitan London : there will be a lot of escalator, bus, bathtub scene, dan sebagainya, dimana pada satu titik point akan melelahkan untuk orang dewasa, namun menyenangkan untuk anak-anak (and parent will do everything for the kids right ? So sit !). Namun, kemudian orang dewasa pun dibuat tergelitik dengan segala bentuk proper imagination dari Paddington, yang membuatnya tidak sebagai kisah anak-anak yang konvensional, namun juga berwarna – sangat berwarna. Paddington juga memberikan perilaku “tepuk rata” – memberikan porsi yang pas untuk semua anggota keluarga Brown untuk ikut terlibat. Tidak hanya terpusat pada anak-anak dan beruang mereka, Paddington me-relate peran orang tua yang selalu ingin melakukan risk assesment dengan cara berbeda, untuk kebaikan mereka. Mr. Brown dengan segala kalkulasi, sekuritasnya, dan Sally Hawkin – she’s like female teddy bear in human form, adalah segala kehangatan dalam film ini.

Terdapat sisi-sisi meta untuk Paddington memenuhi kepuasan pencinta film yang lebih demanding. Nicole Kidman –  sebagai villain utama – Millicent – tampil dengan meyakinkan, dan masih bisa mengukur derajat bahaya-nya agar tak terlalu mengancam segmen anak-anak sebagai penonton. She’s not so comically trapped, tetapi menggantinya dengan berbagai stunt a la Mission Impossible, yang menunjukkan film begitu sadar dengan kehadirannya, tidak hanya sebagai seorang aktris tetapi sebagai mantan is- (I better stop here, because this review isn’t Eonline). Kejutan di akhir, film malah meng-embrace dengan melakukan final act yang begitu cerdas., melibatkan semua karakter layaknya potongan-potongan puzzle yang membentuk satu act, dan membuat Paddington sebagai film yang hangat, sehangat sebuah kado di bawah pohon natal dengan semua ‘kejutan’ kecilnya, namun berarti. Yeah, the biggest surprise sometimes is just the attention of detail to remember. (B)

 Predestination makes Egg or Chicken – question like bloody genious.

Memang seharusnya untuk film berkisah tentang time travel untuk teliti, mungkin juga membodohi dengan menebar segala jaring clue, untuk membuat satu sisi paradox untuk membuatnya thought provoking, namun bagaimana dengan film yang berusaha mem-provoke pikiran penonton, namun malah sudah tertebak sejak sepertiga durasi pertama, dan tanpa adanya usaha untuk memperbaiki hal tersebut. Itulah persamaan dari Predestination dengan franchise kesayangan kita – Final Destination : it’s waaaaaaaaaaaaaay too obvious.

Seorang Temporal Agent (Ethan Hawke) terluka parah setelah berusaha mencegah seorang Fizzler Bomber yang menewaskan puluhan orang akibat aksi pengeboman di tahun 1970-an. Ia terbangun dengan muka barunya dan kemudian diutus kembali ke masa lalu, untuk kembali mencegah peristiwa berdarah itu. Kemudian, ia bertemu dengan John (Sarah Snook) – seorang perempuan yang mengalami proses perubahan kelamin,  yang menceritakan jalan hidupnya dari kisahnya di panti asuhan, masa kecilnya, masa remajanya saat meng-apply untuk menjadi seorang astronot, hingga akhirnya bertemu seorang laki-laki misterius yang meluluhlantakan hidupnya. Simpati atas ceritanya, dan curiga bahwa sang laki-laki misterius itu adalah Fizzle Bomber, Temporal Agent inipun mengajak John kembali ke masa lalu, untuk mencari sang laki-laki misterius, dan mengubah masa depan.

Film ini tahu benar jati dirinya sebagai sebuah time travel, mengumpulkan segala elemen science fiction yang diperlukan, kemudian meng-compile nya menjadi satu kejadian berputar layaknya seekor ular yang sedang memakan ekornya sendiri. Terdapat satu cerita yang solid, namun inilah yang membuat Predestination hanyalah film yang berisi tentang revealing – another revealing – others revealing, ketimbang ingin menyampaikan cerita itu sendiri. Predestination adalah film yang arogan memandang temanya, dan begitu beraninya menatap intelegensi penonton dengan arogansi itu, dengan harapan pembodohan intelegensi penonton akan menciptakan impresi, sayangnya film ini gagal.

Apa yang membuat film menjadi thought provoking ? Jawabannya adalah karena penonton peduli. Predestination sama sekali tak peduli dengan keterlibatan penonton, termasuk lewat performance Sarah Snook (Years ago, they wouldl make it with Jodie Foster, or Hilary Swank :p) yang begitu memukau dengan isu intersex-nya, yang malah dikhianati dengan berbagai prosedural untuk mencapai berbagai artifial purposes, yang begitu banyak, dan begitu mengganggu. Artificial purpose inilah yang membuat Predestination kehilangan human sense-nya memperlakukan karakternya seperti robot, dengan berbagai instruksi-instruksi, tanpa memberikan satu lahan emosional untuk digali. Semakin satu karakter tak mengetahui konsep time travel, semakin karakter itu hidup, dan itulah Pre-Sarah Snook sebelum bar scene.

Predestination semakin terlihat ingin membodohi penonton dengan banyaknya sisi pengkondisian, yang membuat cerita yang seharusnya original – secara segar disajikan, kemudian disajikan dengan menggunakan berbagai filter. Satu karakter kehilangan ingatanya. What the fuck is THAT ?! Kamera dibuat gelap, tak terlihat untuk menjaga karakter-karakter yang secretive agar tak terlihat mukanya. What the fuck is THAT ?!!, dan lain sebagainya.

Predestination menjanjikan, karena menggabungkan time travel dengan isu sepersonal pergantian kelamin, namun malah jatuh sebagai satu film pintar yang ingin terlihat pintar, membodohi penonton namun penonton tak terbodohi, dan melupakan satu kata dibalik sifat ambisiusnya : effortless. (C+)

All of this characters will DIE, because of, uhhhhm, liver problems.

Apakah Jake Gyllenhall adalah the next Christian Bale. Yeah, beberapa tahun lalu, Gyllenhall masih terlihat membuat film konyol dengan Anne Hathaway, mencopot semua atribut pakaiannya sebagai seorang salesman obat. Namun apa yang terjadi sekarang dengannya ? Semua projeknya adalah hampir semua projek serius (not that I am complaining) – Enemy dengan segala teka-tekinya – sebuah film yang tidak diperuntukkan untuk semua kalangan penonton, kemudian datang image terbaru dari film tinjunya di tahun 2015, he’s totally unrecognizable, dan Nightcrawler adalah ‘another thriller’ yang kembali menguji komitmennya sebagai seorang aktor (read : elevator of weight, UP and DOWN !)

Apapun bisa dicuri oleh seorang Louise ‘Lou’ Bloom (Jake Gyllenhall) : pagar kawat, jam polisi, sepeda, dan lain sebagainya. Satu-satunya yang tak bisa ia curi adalah ‘karir’. Ia meminta seseorang sebuah pekerjaan dengan menjanjikan ia pekerja keras, mau dibayar untuk status ‘internship’, namun tak ada yang mau memperkerjakan seorang pencuri. Ia mendapatkan inspirasi ketika sebuah kecelakaan mendatangkan reporter freelance untuk mendapatkan berita. Freelance – yah, pekerjaan tanpa bos yang akhirnya Lou bisa usahakan. Berbekal kamera seadanya, Lou berubah menjadi nightcrawler mencari berita di seluruh Los Angeles, hingga akhirnya ia bertemu dengan Nina (Rene Russo) – seorang penanggung jawab berita, dimana Lou melihat sisi kesempatan untuk karirnya yang lebih tinggi.

SPOILER ! Psychopaths knowing their angles ? Yeah, kita sudah memiliki satu orang – Amy Dunne, dan Jake Gyllenhall sebagai Lou Bloom adalah mater dari ruang kontrol yang mampu bekerja pada satu situasi apapun tak peduli tekanan yang terlibat. Lou Bloom adalah jantung hati kota LA yang membuat semua adegan kinetis untuk bergerak. Olinya adalah passion. Dan, Gyllenhall adalah aktor yang pas memadukan sisi charming, creepy, passionate, dalam satu waktu, dengan sentuhan determinasi yang sangat kuat. Lou Bloom tidak lain tidak bukan adalah seorang entrepreneur berita – when you don’t have bad news as good news, he make it ! digambarkan Gyllenhall sendiri sebagai “hungry coyote” – setiap momen oportunis dimanfaatkan Bloom dengan begitu apik menjadi keuntungannya, lewat mengeksplotasi dan mengintimidasi teman kerjanya, menyadari bargaining position-nya dengan Nina, memindahkan posisi korban kecelakaan, sampai hal-hal yang tak terbayangkan.

Di tangan Dan Gilroy, Nightcrawler menjadi film yang paling sibuk, dan padat, namun film ini melupakan satu hal, bahwa Lou memerlukan semacam backstory jika karakter memang ditujukan sebagai sesuatu yang transformatif, dan melakukan hal-hal yang ekstrem yang membutuhkan motivasi lebih. Passion isn’t enough as reason. Lou Bloom adalah karakter yang lebih kompleks daripada dirinya yang ditujukan di layar, namun teritori kompleks ini masih tak bisa diketahui, sehingga membuat penonton seperti kesulitan menembus pikirannya. Semacam noda kecil di film yang begitu apik memperlihatkan berbagai karakter desperate dengan backdrop yang begitu full energi, haunting, sibuk, sickening, di tengah lalu lintas nockturnal LA. Nightcrawler adalah gambaran pas bagaimana satu kata : passion, bisa menjadi definisi lain dari istilah ‘pembunuhan’ yang tanpa harus menodai telapak tangan sendiri. Nice thriller ! (B)

Lovebirds and their family, in a blizzard :p

Apa yang dibutuhkan untuk sebuah film dengan tema marriage dissection – relationship laboratory ? Seorang Amy Dunne ? Pass. Ryan Gosling dan Michelle Williams ? Pass. Satu hal yang dimiliki Force Majeure. An avalanche (I am not kidding).

Hari pertama berlibur, satu keluarga terlihat serasi. Mereka memakai piyama yang sama. Mereka berbagi cermin yang sama yang menunjukkan mereka dalam satu persepsi satu sama lain. Kemudian, di hari kedua ber-ski mereka, mereka sedang sarapan dengan begitu akrabnya, hingga terdengar ledakan yang membuat sang istri dan kedua anaknya panik, namun sang suami – Thomas (Johannes Kuhnke) mengatakan ledakan itu untuk membuat semacam controlled avalanche yang merupakan hal yang sangat lumrah di situs wisata seperti itu. Inilah awal bencana. Semakin lama avalanche itu semakin menggulung gunung, dan menuju ke arah mereka, ketika asap salju menerjang mereka, sang istri (Lisa Loven Kongsli) dengan ketakutan menyergap dan melindungi kedua anaknya, sementra Thomas menyamber sarung tangan dan teleponnya, kabur (you’ve read it right). Such an asshole !

Force Majeure (atau jika kalian lihat dalam kontrak kerja, bisa diartikan sebagai “hal yang memaksa”. Film ini juga menyediakan hal yang memaksa, namun tidak sebagai satu konsentrasi pada kejadian (otherwise it’s gonna be disaster movie), namun lebih ingin menunjukkan post-stage dari kejadian tersebut. Tindakan Thomas yang begitu pengecut kemudian menimbulkan berbagai pertanyaan – mengeluarkan sisi dari Thomas yang tak ia lihat sebelumnya : Siapakah Thomas ?, dilanjutkan bahwa Thomas tak mengakui kejadian tersebut di satu makan malam, dengan sisi ego-nya yang begitu tinggi. Dari sinilah perkawinan mereka diuji.

Force Majeure begitu efektif memanfaatkan momentumnya, kemudian menebar segala permasalahan ke segala arah, layaknya avalanche yang tak peduli menerjang siapa saja. Man’s ego and woman’s rant – satu titik keduannya telah sepakat untuk tidak membicarakannya, dengan mempertimbangkan bencana tersebut tak melukai mereka, namun kemudian Ebba – sang istri yang terlihat masih kepikiran malah menyebarkan masalahnya dengan Thomas ke dunia luar – ke teman-temannya. Inilah yang membuat semacam ragi dalam masalah : ego Thomas yang semakin dipermalukan, sementara Ebba dengan segala sisi insecurity dan eksplosifnya. She’s dangerous like avalanche. Itulah yang membuat Force Majeure berhasil menyeimbangkan genre. Force Majeure menciptakan tersangka utama, yaitu Thomas. Kemudian, menciptakan tersangka kedua, yaitu Ebba, dan membuat keduannya dalam posisi abu-abu, dan suatu perdebatan tidak akan seru jika salah satu pihak sudah jelas salah bukan ?

Perdebatan, Force Majeure memang mendedikasikan dirinya untuk berdiskusi. Film ini bergerak pula keluar, membahas masalah yang lebih besar, general sweeping  mengenai persepsi gender laki-laki dan wanita. Tndakan ceroboh Thomas diutarakan sebagai karakter laki-laki, sedangkan tindakan protektif Ebba diutarakan sebagai karakter perempuan, semuannya terangkum pada diskusi teman Thomas dan Ebba yang melewatkan elevator dan jam tidur untuk diskusi tersebut.

Yang terakhir adalah instinct. Insting menuju pada pilihan, sedangkan pilihan bisa salah, bisa juga benar. Force Majeure juga membahasnya. Kegagalan Thomas menempatkan insting pada pilihannya, membuat Force Majeure menciptakan ending begitu memuaskan, bahwa setiap orang bisa saja salah dalam menjatuhkan pilihan. Termasuk Ebba – karakter yang mendapatkan sebagian besar simpati di sepanjang film.

Terlihat Force Majeure sebagai film yang berat terkait dengan segala bahasan diskusi tersebut. Mengejutkannya, Force Majeure begitu meticulously calculated dalam hal memperhitungkan perpetual damage-nya, sehingga setiap bahasan diskusi bisa saling menyambung menjadi satu bentuk entertainment yang memuaskan. One of the best, this year. (A- – )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s