Into The Woods (2014) Tramples and Assembles “Happily Ever After” to The Origin of “Once Upon A Time”

Director : Rob Marshall

Writer : James Lapine (screenplay), James Lapine(musical)

Cast : Anna KendrickMeryl StreepChris Pine, James Corden, Emily Blunt¸ Johnny Depp

(REVIEW) Dua gabungan kata seperti once upon a time (dot dot dot) dan happily ever after (dot), yang satu menghentikan waktu untuk memulai sebuah cerita, sedangkan yang satunya lagi menerus-nerus-neruskan waktu untuk menghentikan cerita. Yang menyukai dongeng pasti sudah tak asing lagi dengan dua gabungan kata tersebut, yang menjadi masalah adalah kehidupan tak pernah berjalan seperti itu, dan Into The Woods merupakan satu usaha untuk merangkup sisi mutual  dari setiap fairytale yang kita kenal, membentuknya selayaknya loop yang ternyata lebih thoughtful dari yang kita kira.

source : www,impawards.com

source : www,impawards.com

Narator – sisi wajib dari semua fairytale memulainya *typically* dengan kata once upon a time, di sebuah negeri, terdapat satu desa dan hutan dimana beberapa karakter menjalani hidup mereka : Cinderella (Anna Kendrick) dengan ibu dan saudara tirinya, Red Riding Hood dengan kunjungan ke rumah nenek yang diintervensi seekor serigala (Johnny Depp), Jack yang menukar sapi putihnya dengan magical beans, dan Rapunzel yang tersekap di sebuah tower tanpa pintu. Cerita lain yang belum pernah kita dengar adalah The Baker (James Corden) dan istrinya (Emily Blunt) yang tinggal di sebuah rumah yang terkena kutuk seorang penyihir jahat (Meryl Streep) yang kebetulan melakukan penawaran : jika mereka bisa mengumpulkan cape semerah darah, sapi seputih susu, rambut sekuning jagung, dan sepatu kaca semurni emas, sang penyihir mau me-reverse kutukannya, yaitu dengan menganugerahi pasangan tersebut seorang anak.

Kapan lagi kita mendapatkan empat cerita sekaligus, bergabung dalam satu timeline dan plot ? Dan dengan tangan berpengalaman yang mampu menggabungkan realitas dan mimpi sekaligus dalam satu sajian bernama Chicago, Into The Woods merupakan projek yang sangat layak ditunggu, terlepas dari muti characters yang harus ditangani. Awalnya Into The Woods merupakan film ringan, dengan lagu-lagu menghibur, dengan setiap cerita mulai menyeberang satu sama lain melengkapi. Hampir tak ada hal yang baru yang ditawarkan, tak ada lagi yang ditunggu kecuali happy ending yang selalu kita tunggu. Beruntungnya semua musik dan lagu tersebut membantu setiap perkenalan karakter yang sebenarnya tidak diperkenalkan lagi, walau tak ada satupun performance yang bisa membawa ke level yang lebih tinggi, purely just for fun !

Di tengah kekecauan dunia fairytales, Mirror Mirror ? Meh. Snow White and The Huntsmen ? Meh. Maleficent ? One of the worst movie, yang menjanjikan twist baru, cerita baru, sudut pandang baru, mungkin baru Into The Wood lah yang memuaskan. Sebagai adaptasi sebuah play, ada sisi keberanian untuk menyajikan cerita ke ranah yang lebih gelap, dan lebih kejam. Hal ini sebenarnya sudah terlihat dari awal film ketika The Baker melakukan sesuatu kepada serigala untuk menyelamatkan Red Riding Hood dan neneknya, walaupun semua visualisasi seakan-akan diperhalus sehalus mungkin untuk menjaga Into The Wood tetap menjadi sebuah sajian keluarga. Inilah yang menjadi bumerang untuk film ini. Biarkanlah anak-anak untuk main keluar rumah setelah satu jam film berakhir – The Cinderella’s wedding – selanjutnya film mulai mengarah ke versi grim dari Brothers Grimm asal mula semua cerita film ini berasal sebelum mendapatkan kontaminasi dari Disney (at least for a glimpse, and at once).

Bagaimanakah cara film ini menemukan jalan pulang ? Kita selalu menemukan sisi “forgiven” dalam cerita biasa – sang tokoh jahat bisa melenggang bebas setelah kejahatannya, atau mendapatkan scene penyiksaan yang tak sebanding dengan tokoh utama menderita sepanjang durasi. Kekejaman kepada antagonist mulai dinaikan derajatnya : poor Cinderella’s stepsisters – yang harus terluka kaki dan matanya (You have to read the original Cinderella, though I remember it from trivia machine account in Twitter). Sentuhan dunia nyata ini semakin dipertajam setelah film mulai memperhitungkan setiap aftermath dari happy ending : apakah perkawinan Cinderella akan bahagia ? Apakah yang terjadi sang raksasa akan tetap di langit tanpa melakukan pembalasan terhadap Jack ? Jawabannya tidak, dan inilah bagian yang paling menarik dari Into The Woods.

Alkisah, The Baker’s Wife ceroboh dengan begitu saja menukarkan satu magic beans terakhir dengan sepatu Cinderella. Cinderella yang tak tahu dengan kekuatannya melempar begitu saja biji tersebut, dan menumbuhkan satu batang tumbuhan besar ke langit, dan menjadi jalan raksasa ke bumi – menghancurkan pesta pernikahannya.  Raksasa yang turun merupakan lambang kehidupan yang besar di dunia dan pemikiran yang “kecil” “Yeah, life is this fucking hard”, ia meluluhlantakkan desa, membunuh, dan yang paling menjadi penentu plot, ia menghancurkan hutan sehingga setiap karakter terperangkap di dalamnya tak bisa pulang. Hutan inilah yang menggodok setiap karakter fairtales ini ke arah yang lebih manusiawi, yang lebih kompleks, dimana tiap karakter mulai menyesali bahwa hidup mereka sekarang malah lebih buruk sebelum magic dan tetek bengeknya datang. Kegelapan hutan mulai menyelimuti kegelapan karakter, disinilah Rob Marshall mulai sedikit kebingungan, atau sedikit terbagi konsentrasinya : bagaimanakah membuat fans Broadway sekaligus keluarga sebagai penonton untuk puas. Hasilnya, setengah-setengah.

Bahwa untuk merubah satu cerita memerlukan game changer dan sisi perubahan ini akan bertolak belakang dengan tone film : semua nyanyian itu, semua komedi itu, dan kini film berhadapan untuk melepaskannya satu-satu. This movie can’t let go ! Hampir semua karakter masih terjebak dengan suasana awal film : Emily Blunt yang tak bisa memaksimalkan momen-nya dengan The Prince (Chris Pine), atau James Corden yang tak bisa melepaskan dukanya sebagai satu agony, yang bisa bertindak efektif hanyalah Mery Streep yang menjadi satu-satunya villain multidimensi (ketimbang Charlize Theron, atau Julia Roberts, atau Angelina Jolie). Nyanyian “Last Midnight” dibawakan Streep sebagai salah satu bentuk protes bagaimana karakter antagonis diperlakukan : raksasa yang mungkin diganggu si Jack, atau serigala yang harus “dihilangkan” karena insting alamnya, atau setiap ibu tiri yang tentu saja menginginkan yang terbaik untuk anaknya, see ? The Witch adalah satu-satunya karakter dengan tingkat “kindness” yang tinggi, namun masih bisa diperankan dengan begitu ganas oleh Streep – salah satunya sisi manusiawinya lagi lewat lagu “Stay with Me” yang ia nyanyikan untuk Rapunzel. Lain Streep lain aktor dan aktris yang lain : Corden is fine, Blunt is disappointment (masih terlalu dangkal dengan potensi karakter yang lebih kaya), Kendrick is nice, Pine is good, Depp is predictably costume-y, yang cukup bisa menarik perhatian adalah Lila Crawford sebagai Red Riding Hood yang pas, dan salah satu performer terbaik di film ini.

Kembali ke once upon a time, Into The Woods menceritakan motivasi mengapa sang narator mengawali kisahnya dengan kalimat itu. Sebuah kalimat yang datang untuk menyamankan hati – yang berarti keadaan real sekitar bukanlah keadaan yang menyenangkan. Sebuah kalimat yang datang dari dunia dewasa untuk dunia anak-anak yang mengandung harapan sedangkan happily ever after merupakan bentuk perlindungan yang menyimpan momen baik sebelum momen buruk datang, bersisi dua sebagai bentuk diversion dari dunia sebenarnya. Untuk baik buruknya, dan bagian spesialnya, kata-kata tersebut merupakan sebuah loop of legacy (whether you want to keep it or not). (B)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s