The Disappearance of Eleanor Rigby (2014) : Him & Her Lacks “Probablys” as Purposely Fragmented, Off Balance Ambitious Romance

Director : Ned Benson

Writer : Ned Benson

Cast : James McAvoyJessica ChastainViola Davis, Ciarán Hinds, Isabelle Huppert

(REVIEW) 2014 adalah tahun baik untuk para filmmaker untuk mencoba bermacam-macam metode : ada yang enggan memutus shot-nya selama dua jam, ada yang mengambil gambar cukup lima menit dalam setahun namun berkelanjutan, ada pula yang membagi sudut pandang. Dan, Eleanor Rigby adalah termasuk yang membagi perspektifnya menjadi dua : laki-laki dan perempuan, dan dengan bekingan nama Weinstein dibelakangnya, film ini mendapatkan major buzz, namun malah berangsur senyap ketika award season datang. Penyebabnya yaitu ketika film akhirnya harus memaksa untuk menyajikan versi “Them” – sesuatu yang menjadi bumerang – satu sisi memudahkan penonton, di sisi lain memusnahkan sisi spesial dari film itu sendiri.

Jika memiliki kesempatan untuk menonton versi Him atau Her, manakah yang seharusnya di dahulukan ? Jawabannya berdasarkan insting. Yeah, insting itu berarti rambut merah, kulit seputih porselain, hidung yang terukir sempurna dari Jessica Chastain akan menarik lebih perhatian ketimbang James McAvoy yang juga belum mendapatkan recognition besar-besaran dalam segi akting. So, lady first, here it goes, The Disappearance of Eleanor Rigby : Her.

Dengan deru suara kereta membelakangi, Eleanor Rigby (Jessica Chastain) berjalan lesu menyusuri pagar kawat besi yang membatasi dirinya dengan sungai di bawahnya. Ia tak pikir panjang, hingga ia akhirnya ia bergerak ke arah yang tak terlihat dari layar, dan beberapa detik kemudian seorang laki-laki berteriak dan terjadilah sekelebat adegan penyelamatan Eleanor yang telah berada di air. Siapakah Eleanor Rigby ? Apakah yang telah alami ? Begitulah Ned Benson membungkus sosok Eleanor Rigby tanpa satu clue-pun akan masalahnya di masa lalu. Eleanor kemudian kembali ke rumah orang tuanya (Isabelle Hupert) dan adiknya, Kate, yang juga memperlakukan dirinya dengan tindakan sensitif namun sesungguhnya tak sensitif. Perubahan pun tak terjadi. Dengan mata yang dibuat hitam, rambut yang dipotong pendek, hidup di lingkungan keluarga, bohong jika Eleanor Rigby tak mengingatkan kita pada sosok Kim di Rachel Got Married. Hanya saja, Eleanor tak sedestruktif Kim, ia masih mencoba melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, salah satunya dengan mengambil kelas dari dosen teman ayahnya (Viola Davis) dan mulai melakukan pengalihan dari masalah dari masa lalunya.

Versi Her dari Eleanor Rigby dengan Jessica Chastain yang turut menjadi produser, tidak ubahnya sebagai bentuk konversi dari cerita cinta yang biasanya terbagi dua porsinya, menjadi sebuah film one woman show tentang loss dan love, dan untuk itu penonton akan sangat bodoh jika keberatan. It’s Jessica Chastain, duh ! Namun Chastain seakan-akan ditinggalkan begitu saja, dan memanggul beban film yang begitu tinggi : self journey yang seharusnya lebih beresonansi untuk penonton, misteri cerita cinta yang masih belum terbentuk, akan tetapi yang paling membahayakan adalah datangnya kenangan masa lalu suaminya – Connor (James McAvoy) yang terbukti begitu efektif sebagai pasangan dengan explosive chemistry yang begitu adiktif di dalam film. Kehidupan Connor di dunia yang lain juga menjadi sisi yang mengintimidasi dengan cara yang unik. Maybe, the other side is greener, itulah yang membuat penonton sulit bertahan untuk melihat satu sudut pandang yang dengan sengaja ter-fragmented (seperti jika kita memiliki kesempatan menilik seluruh gambar utuh puzzle, mengapa kita harus berkonsentrasi pada potongan-potongannya saja ?)

Okay, beralih sebentar ke The Disappearance of Eleanor Rigby : Him, I take my words, I take my words, seharusnya penonton memulai dengan versi Him terlebih dahulu karena versi ini lebih banyak memuat background informasi kehidupan percintaan Eleanor Rigby sebelum terjadi tragedi yaitu kematian anak semata wayang mereka. Judul yang mengambil kata “disappearance”- juga sedikit misleading mengingat film ini tak pernah menekankan situasi yang “uncertainty” untuk kata tersebut. Kata “disappearance” lebih diarahkan sebagai bentuk rehat dari hubungan suami istri yang telah obsolete. Selepas kejadian usaha bunuh diri dari istrinya, Connor mulai hari-harinya dengan kesendirian. Ia juga kembali ke rumah ayahnya (Ciaran Hinds) dan mengurusi bar-nya yang terancam bangkrut.

Ketika dua perspektif ini digabungkan mulai terlihat apa yang dimaksud oleh Ned Benson. Bagaimana dua orang yang berbeda akan secara otomatis melakukan reaksi yang berbeda pula untuk masalah mereka ? Eleanor Rigby cukup menggambarkan sisi ini, walau dalam waktu yang sama benar-benar tidak efektif. Jessica Chastain terseok di film pertama karena beberapa kompensasi absennya James McAvoy diganti dengan interaksinya dengan supporting cast lebih jatuh pada sisi pointless ketimbang riveting seperti yang diharapkan karena terlalu kecil untuk bisa diperhatikan, termasuk ketika Chastain dan Davis berhadapan langsung wanita antar wanita yang tak membawa pengaruh apa-apa (two actresses who’s incapable in bad performance but trapped in limited material). Sebabnya adalah karakter Eleanor Rigby yang tak pernah mau untuk share keluar, sementara proses emosi internal-nya tak cukup rewarding untuk penonton.

Lain Rigby, lain Connor, versi Him mendapatkan benefit dari sentuhan re-connecting, reconstruction seperti sebuah puzzle yang potongan-potongannya akhirnya melengkapi lubang kosong dengan sendirinya. Dan, seperti halnya rekonstruksi, akan ada saja sisi familiar, mudah tertebak, yang untuk beberapa saat akan menurunkan excitement film bercerita. Barulah Ned Benson menyajikan beberapa kejutan kecil dengan permainan “probablys” dengan adanya ketidakcocokan kronologis kejadian yang dipandang dari dua mata berbeda. Sayangnya, hal ini juga tetap disajikan dalam durasi “shooting stars” alias sebentar saja, kemudian hangus terbakar. Yeah, kalian pernah melihat scene realitas versus ekspektasi di 500 Days of Summer, begitulah rasanya potensi “probablys” dalam film ini, hanya saja film ini masih melibatkan banyak tanda tanya besar yang merupakan alasan untuk menonton versi ketiga, Them.

The Disappearance of Eleanor Rigby merupakan film yang ambisius dengan judul yang ambisius, walau dalam segi cerita tak terlalu groundbreaking, atau bisa bergerak natural sebagai mana mestinya. Film ini juga terlalu aimless mengambil gambaran besar dalam relationship ketika film disatukan, dan gagal juga memperlihatkan sisi signifikan pengambilan angle yang berbeda dari objek yang sama. Ned Benson tak membagi dunia cinta ini menjadi dua sisi yang berbeda, ia cenderung memisahkan satu film menjadi dua bagian dengan timeline yang sama, dan itu terbukti sangat tricky. Tricky untuk penonton maksudnya. Setiap urutan runtutan film ini ditonton akan membawa pada outcome yang berbeda, namun pertanyaannya adalah “Is it really necessary ?” (Her : C+, Him : B–, Final Grade : B- –, for the performances),

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s